Artikel Terbaru

Anti COPAS

Analisis Perusahaan Rokok Go-Public di Indonesia (1 of 2)


Adopted from : YE Feriyanto ST, MMT (2018)

I. PENDAHULUAN
Laporan keuangan dibuat oleh suatu perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan suatu perusahaan. Laporan ini penting sebagai informasi kepada pihak yang berkepentingan seperti investor (pemberi modal), kreditur (bank sebagai pinjaman uang) dan pemerintah (penentuan pajak).
Dalam makalah ini, diambil laporan keuangan perusahaan rokok di Indonesia karena memang menarik sekali untuk dibahas karena dalam laporan di media www.cnnindonesia.com per 28 April 2017 dalam 10 terbesar perusahaan emiten di Indonesia terdapat 2 diantaranya adalah perusahaan rokok yaitu PT HM Sampoerna Tbk sebagai peringkat ke-1 dan PT Gudang Garam Tbk sebagai peringkat ke-8.
Gambar 1.1 Peringkat 10 Terbesar Emiten di Indonesia, (www.cnnindonesia.com, 28 April 2017)
Perusahaan rokok menjadi topik yang menarik untuk dibahas apalagi tingkat pertumbuhan dan labanya mengalahkan perusahaan-perusahaan go-publik lainnya. Kuartal 1 tahun 2017 pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yaitu kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 8,7% menjadi 9,1 % dan kenaikan cukai hasil tembakau menjadi 10,54% sehingga memaksa harga jual eceran rokok naik sebesar 12,26%. Dengan kebijakan ini, ternyata perusahaan rokok tetap tidak tergoncang dan malah menunjukkan tingkat pendapatannya yang semakin meningkat. Data tersebut bisa untuk menyimpulkan bahwa konsumsi rokok masyarakat Indonesia cenderung tinggi dan tidak berkurang walaupun harga mengalami kenaikan yang signifikan.
Perusahaan rokok go-public yang dikaji mendalam di makalah ini adalah PT Gudang Garam Tbk dengan pembanding data untuk menghasilkan rata-rata kenormalan menurut analisis ratio keuangan menggunakan PT HM Sampoerna Tbk, PT Gelora Djaja (Wismilak) Tbk, PT Bentoel International dan PT Phillips Morris Indonesia (PMI) Tbk.

II. TUJUAN PENELITIAN
  • Mendapatkan informasi lebih mendalam tentang kesehatan PT Gudang Garam Tbk dari sisi keuangan
  • Sebagai media pembelajaran untuk pertimbangan seorang investor yang akan menginvestasikan uangnya di bursa saham

III. KAJIAN PUSTAKA
Menurut jurnal “how to read a financial report” karangan Merryl Lynch standar pembuatan balance sheet (neraca keuangan) adalah sebelah kiri berupa asset (aktiva) sedangkan sebelah kanan adalah liability (hutang) dan equity (modal). Laporan keuangan (financial statement) adalah laporan ekonomi secara periodik yang memberikan informasi performa keuangan yang sudah dijalankan dan menjadi gambaran financial position (Berk et al., 2015). Terdapat beberapa komponen penting untuk menganalisa kesehatan suatu perusahaan dari sisi ekonomi yaitu income statement (neraca laba-rugi), balance sheet (laporan kas) dan analisis ratio. Berikut dijelaskan masing-masing komponen dari neraca tersebut :

3.1 Income Statement (Neraca Laba-Rugi)
Neraca ini menggambarkan laporan laba/rugi suatu perusahaan dalam aktifitas usahanya dan digunakan dalam penentuan keputusan dividen. Berikut standar tabel pelaporannya adalah :
Tabel 1.2 Standar Pelaporan Neraca Laba-Rugi
  • Sales (penjualan) : pendapatan dari hasil transaksi usaha (barang maupun jasa)
  • Cost of Good Sales (harga pokok penjualan/HPP) : biaya pokok yang dikeluarkan untuk keperluan produksi barang
  • Gross profit (laba kotor/bruto) adalah sales (penjualan) - cost of good sales (harga pokok penjualan/HPP)
  • Operating profit (laba usaha/operasi) atau Earning Before Interest and Tax (EBIT) adalah gross profit - (biaya pemasaran + penjualan + beban umum + biaya administrasi + penyusutan)
  • Laba sebelum pajak penghasilan atau Earning Before Tax (EBT) : operating profit - interest
  • Net income (laba netto) atau Earning After Tax (EAT) : EBT - pajak penghasilan

Dari laba net income/EAT tersebut dibuatkan prosentase untuk pembagian laba apakah ditahan atau dibagi ke pemegang saham sesuai rapat umum pemegang saham (RUPS).

3.2 Balance Sheet
Neraca ini menggambarkan aliran pemasukan dan pengeluaran suatu perusahaan untuk keputusan investing (investasi) di sisi asset dan keputusan financing (pendanaan) di sisi liability + equity. Standar urutannya adalah aliran kas paling likuid (dana mudah dicairkan) ke yang non-likuid. Standar neraca ini untuk sisi kiri adalah “asset” dan sisi kanan “liability + equity” dengan rumusnya adalah total asset = total liability + total asset. Berikut standar tabel pelaporannya :
Tabel 1.3 Standar Pelaporan Balance Sheet
Berikut penjelasan dari masing-masing komponen di balance sheet :
3.3 Asset, adalah sumber ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat usaha. Asset dibagi menjadi 2 yaitu :
3.3.1 Current asset (aset lancar)  : aset yang dapat digunakan dalam waktu dekat (<1 tahun), seperti berikut :
  • Cash (uang kas) : uang yang bisa dicairkan dalam tempo yang cepat (umumnya <90 hari)
  • Account Receivable (piutang usaha) : uang yang diterima dari hasil pembayaran hutang oleh konsumen (kreditur)
  • Advanced Payment (uang muka) : uang tanda pembayaran awal oleh konsumen
  • Inventory (persediaan) : aset berwujud yang menjadi sumber pemasukan namun masih digudang (bahan baku, barang setengah jadi maupun produk jadi)
  • Prepaid Expenses (beban dibayar di muka) : manfaat yang diperoleh dibelakang dengan pengeluaran lebih dahulu misalkan asuransi, pajak dibayar di muka dll
  • Marketable Securities : surat berharga yang bisa diperdagangkan seperti deposito, saham, obligasi dan sertifikat bank.

3.3.2 Fixed Asset (aset tidak lancar) : aset yang bisa digunakan >1 tahun (jangka panjang), seperti berikut :
  • Building (properti bangunan), factory (pabrik), machine (alat produksi, mesin) dan office accesories (perlengkapan kantor)
  • Goodwill : kelebihan laba perusahaan di masa yang akan datang (tidak berwujud) karena pembelian sekarang melebihi harga pasar namun dari segi ekonomi mendapatkan prospektif laba ke depannya
  • Intangible (aset tidak berwujud) : aset yang tidak berwujud benda, seperti : patent, copyright dan trademark

3.3.3 Liability, adalah kewajiban/hutang yang harus dilunasi atau pelayanan yang harus dilakukan ke konsumen. Ada 2 macam liability yaitu :
3.3.3.1 Short-Term/Current Liability (kewajiban jangka pendek) : kewajiban yang harus dibayar dalam jangka waktu < 1 tahun, seperti berikut :
  • Short-Term Loan atau Notes Payable : pinjaman bank jangka pendek
  • Account Payable (hutang usaha) : sejumlah uang yang dibayarkan ke supplier (kredit) untuk produk/jasa yang diberikan
  • Tax Payable (hutang pajak penghasilan)

3.3.3.2 Long-Term/Non-Current Liability (kewajiban jangka panjang) : kewajiban yang harus dibayar dalam jangka waktu > 1 tahun, seperti berikut :
  • Deferred Tax Liability (pajak tangguhan)
  • Long-Term Notes (imbalan kerja jangka panjang)
  • Mortgages (hutang dalam jaminan)
  • Equity/Capital (modal), adalah modal yang dimiliki oleh perusahaan, seperti berikut :

3.3.4 Modal sendiri
3.3.5 Modal dari investor (penjualan saham)
3.3.6 Retained Earning (laba ditahan)

3.4 Analisis Ratio
Analisis ratio adalah analisis laporan keuangan yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan (kemampuan) keuangan perusahaan pada suatu periode dengan cara menghubungkan antara parameter keuangan satu dengan yang lain. Pada dasarnya analisis ratio bisa dikelompokkan menjadi :
3.4.1 Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan melihat aset lancar perusahaan terhadap hutang lancarnya. Perusahaan dikatakan likuid jika asset lancar > hutang lancar.
  • Current Ratio (rasio lancar), adalah ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki
  • Acid Test Ratio/Quick Ratio (rasio cepat), adalah ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengam menggunakan aset lancar yang dimilikinya tanpa memanfaatkan inventory (persediaan). Di antara komponen aset lancar, persediaan biasanya dianggap sebagai aset yang paling tidak likuid. Hal ini berkaitan dengan semakin panjangnya tahap yang dilalui untuk sampai menjadi kas dan juga terjadi ketidakpastian nilai persediaan. Dengan alasan di atas, persediaan dikeluarkan dari aset lancar untuk perhitungan rasio cepat
  • Average Collection Period (waktu rata-rata pengumpulan), adalah waktu rata-rata yang dibutuhkan perusahaan untuk mengumpulkan hutang konsumen dalam periode waktu tertentu

3.4.2 Rasio Solvabilitas/Leverage
Rasio solvabilitas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Perusahaan dikatakan solvable jika total asset > total hutang.
  • Debt Ratio, adalah ukuran perbandingan antara jumlah hutang dengn jumlah aset yang tersedia, sehingga bisa untuk menentukan kemampuan keuangan perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya
  • Time Interest Earned Ratio, adalah ukuran untuk menghitung besar laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang tersedia untuk menutup beban bunga tetap
  • Return on Equity (ROE), adalah ukuran untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan modal saham tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham.

3.4.3 Rasio Aktifitas/Operating Efficiency
Rasio ini untuk menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif.
  • Operating Income Return on Investment (OIROI), adalah ukuran suatu perusahaan dengan menggunakan total aset untuk menghasilkan laba operasi
  • Operating Profit Margin, adalah ukuran perusahaan menghasilkan laba operasi dengan penjualan yang sudah dicapai
  • Total Asset Turnover, adalah ukuran untuk mengetahui keefektifan perusahaan dalam menggunakan perputaran total aset-nya untuk menghasilkan pendapatan
  • Account Receivable Turnover, adalah ukuran kecepatan perputaran piutang usaha untuk dijadikan kas
  • Inventory Turnover, adalah ukuran kecepatan perputaran persediaan untuk dijual sehingga mengurangi biaya yang terlalu banyak
  • Fixed Asset Turnover, adalah ukuran kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva tetapnya.

Menurut Berk et al. (2015) analisa laporan keuangan bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :
  • Membandingkan laporan keuangan dengan perbedaan waktu

Laporan keuangan ini digunakan untuk menilai perusahaan secara internal dengan melakukan trending tahun ke tahun. Hasil dari analisa digunakan untuk melakukan strategi perbaikan dari dalam sehingga terjadi penambahan value
  • Membandingkan laporan keuangan dengan perusahaan sejenis berdasarkan rasio keuangan

Laporan keuangan ini digunakan untuk membandingkan ekonomi perusahaan dengan perusahaan sejenis, sehingga bisa menjadi tolok ukur tingkat keberhasilan rata-rata perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Berk, J. DeMarzo, P., dan Harford, J. (2015). Fundamentals of Corporate Finance, 3th Edition. Pearson Global Edition, USA.
[2] Gunarta, I Ketut. (2018). Analisis Laporan Keuangan, Slide Presentasi Mata Kuliah MMT-ITS, Surabaya
[3] https://www.bentoelgroup.com/ diakses tanggal 03 April 2018
[4] https://www.gudanggaramtbk.com/ diakses tanggal 03 April 2018
[5] https://www.pmi.com/ diakses tanggal 03 April 2018
[6] https://www.sampoerna.com/ diakses tanggal 03 April 2018
[7] https://www.wismilak.com/ diakses tanggal 03 April 2018
[8] Lynch, Merrill. (2000). Journal of How to Read a Financial Report.

>

Previous
« Prev Post