Wednesday, June 24, 2015

Istilah Mirip tapi Tidak Sama Artinya di Teknik Kimia (2 of 2)

51.  Perbedaan Gambar Teknik antara Process Flow Diagram (PFD), Piping & Instrumentation Diagram (P&ID) dan Block Diagram
  • PFD : gambar teknik yang menekankan pada aliran proses dan hukum thermodinamika, dilengkapi dengan neraca massa, neraca energi, kondisi operasi (suhu & tekanan). Penggambaran tidak dibuat semirip asli seperti di lapangan  
  • P&ID : gambar teknik yang menekankan pada kelengkapan spesifikasi pipa (dimensi, bahan, standarisasi) dan instrumentasi (kontrol, valve, sistem utilitas dsb). Penggambaran dibuat sedikit mirip dengan kondisi di lapangan  
  • Block  Diagram : gambar teknik yang paling sederhana untuk menggambarkan aliran proses, biasanya peralatan digambarkan dengan bentuk sederhana seperti persegi, lingkaran, segilima dsb
52. Perbedaan Sebutan Air (Water) di PLTU antara  Sea Water - Raw Water / Well Water / Fresh Water - Demineralized Water / Pure Water - Feed Water - Distillate Water - Condensate Water
  • Sea Water : air laut yang digunakan untuk air proses di PLTU (salinitas dan conductivity tinggi), spesifikasi conductivity ±40.000 µS/cm
  • Raw Water / Well Water / Fresh Water / Distillate Water : air murni yang biasa kita lihat sehari - hari (untuk minum, mencuci dan servis), didapatkan dari proses Desalination Sea Water  (bisa menggunakan sistem distilasi, reverse osmosis), spesifikasi conductivity ±20 µS/cm
  • Demineralized Water / Pure Water : air bebas mineral yang didapatkan dari pengikatan ion positif dan ion negatif dengan resin anion - kation (sangat baik digunakan untuk perpipaan karena tidak menyebabkan korosi), spesifikasi conductivity <1 µS/cm
  • Feed Water : air umpan yang siap dimasukkan ke Boiler untuk diubah menjadi steam (spesifikasi sudah memenuhi standar Boiler Water), spesifikasi conductivity ±40 µS/cm
  • Distillate Water : hasil dari proses distilasi air laut jika proses menggunakan Evaporator di Desalination Plant (disebut juga Raw Water) ,spesifikasi conductivity ±20 µS/cm
  • Condensate Water : air hasil kondensasi di Condenser yaitu steam (panas) dikontakkan dengan air laut (dingin) sehingga terjadi pengembunan (kondensasi), spesifikasi conductivity ±40 µS/cm
53. Perbedaan Istilah Failure di Pembangkit antara BLACKOUT - TRIP - DERATING
  • Blackout : keadaan unit pembangkitan mati total tanpa ada daya cadangan tersisa, jadi gelap gulita 
  • Trip : keadaan unit pembangkitan berhenti beroperasi salah satu (jika terdapat 2 unit) dan yang lainnya masih menghasilkan daya. Tujuan utamanya adalah maintenance karena kerusakan mendadak yang harus menghentikan operasi atau perbaikan terencana
  • Derating : keadaan unit pembangkitan turun daya mampu yang bisa disebabkan karena beberapa faktor seperti kekurangan air, getaran turbin tinggi, boiler bocor dsb
 54. Perbedaan antara TURBIN dan GENERATOR
  • Turbin : alat yang digunakan untuk mengubah energi panas berupa steam menjadi energi gerak karena perputaran sudu - sudu Turbin sehingga poros bergerak dan memutar Generator
  • Generator : alat yang digerakkan oleh Turbin karena terletak satu poros sehingga menghasilkan medan magnetik dan membangkitkan gaya gerak listrik
55. Perbedaan antara BOILER (di PLTU) dan Heat Recovery Steam Generator (HRSG) (di PLTGU)
  • Boiler : alat yang mengubah energi kimia (air laut / air tawar) menjadi energi panas (steam) dengan struktur peralatan menggunakan Burner Furnace sebagai pemanasnya dan sistem ini di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)
  • HRSG : alat yang mirip dengan Boiler namun tidak memiliki Burner Furnace karena panas diambil dari gas buang pembakaran Turbin Gas. Jadi siklus HRSG hanya terjadi di pembangkit listrik tenaga gas - uap (PLTGU) yang alurnya adalah gas dibakar di ruang pembakaran sehingga menghasilkan uap untuk menggerakkan Turbin dan uap keluaran masih mengandung suhu tinggi maka digunakan untuk memanaskan air di HRSG
 56. Perbedaan antara Total Suspended Solid (TSS) dan Total Dissolved Solid (TDS)
  • TSS : total padatan tersuspensi yang artinya padatan yang bercampur dengan air yang tidak menyatu secara homogen. Dapat dipisahkan dengan filtrasi dan koagulasi
  • TDS : total padatan terlarut yang artinya padatan yang bercampur dengan air dan menyatu secara homogen, terlihat tidak ada impurities dalam air. Dapat dipisahkan dengan pemanasan, sehingga energi kinetik dalam larutan meningkat dan terjadi tumbukan akibatnya partikel dengan densitas besar akan mengendap
57. Perbedaan antara Bubble Point, Dew Point dan Azeotrop Point
  • Bubble Point : titik dimana cairan mulai menguap
  • Dew Point : titik dimana cairan mulai mengembun
  • Azeotrop Point : titik dimana komposisi di fase uap = komposisi fase cair
58. Perbedaan antara Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dan Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO)
  • SWRO : salah satu macam desalination system yang umpannya air laut kemudian produknya adalah air payau (Brackish Water) atau air tawar 1 (Raw Water 1)
  • BWRO : sistem lanjutan dari SWRO, dimana umpannya adalah air payau (Brackish Water) dan produknya adalah air tawar 2 (Raw Water 2). Jadi antara SWRO dan BWRO adalah kesatuan sistem (double effect).
59. Perbedaan BILANGAN  KEKENTALAN antara SAE dan ISO-VG
  • SAE : Society of Automotive Engineer adalah standar Motor Oil yang digunakan di dunia dan berasal dari standar Amerika. Bilangannya seperti SAE 10-40W, 20-50W
  • ISO-VG : ISO-Viscosity Grade adalah standar oli untuk industri (Bearing, Gearbox, Compressor, Fan. Turbin) yang berasal dari standar Eropa. Bilangannya seperti ISO-VG 32, ISO-VG 46 
60. Perbedaan antara ANNEALING dan QUENCHING
  • ANNEALING : pemanasan logam diikuti pendinginan pelan - pelan untuk mendapatkan perubahan sifat properties (struktur mikro) yang diinginkan
  • QUENCHING : pemanasan logam diikuti pendinginan mendadak yang sangat drastis (bisa air atau oli) 
61. Perbedaan antara STAINLESS STEEL (SS) dan CARBON STEEL (CS)
  • STAINLESS STEEL : "stain" artinya karat, "less" artinya minim sehingga secara keseluruhan SS adalah baja yang tahan karat karena hasil dari rekayasa penambahan unsur kimia ke dalam carbon steel. SS yang mengandung <0.25% unsur carbon disebut MILD STEEL
  • CARBON STEEL : baja yang terbentuk dari berbagai macam jumlah carbon yang bervariasi. Grade CS dibawah SS
62. Perbedaan ALAT ANALISA KOMPOSISI MATERIAL antara XRF dan XRD
  • X-RAY FLUORESCENCE (XRF) : alat yang digunakan untuk menguji komposisi unsur dari suatu material
  • X-RAY DIFRACTION (XRD) : alat yang digunakan untuk menguji komposisi unsur dari kerak/deposit pada material
63. Perbedaan istilah PENGGUMPALAN antara FLOKULASI (FLOK) dan AGGLOMERATION (AGGLOMERATE)
  • FLOKULASI (FLOK) : proses penggumpalan karena pengaruh polymer bridging action (aksi polimer) dan gumpalan yang terbentuk disebut Flok
  • AGGLOMERATION (AGGLOMERATE) : proses penggumpalan karena pengaruh immiscible bridging action (aksi partikel tidak tercampur) dan gumpalan yang terbentuk disebut Agglomerate
 
Referensi : Catatan ringkas dari pengalaman kuliah, filosofi yg dijelaskan dosen, referensi pendukung jurnal ilmiah dan pengalaman di lapangan

ARTIKEL TERKAIT : 
1. Istilah Mirip tapi Tidak Sama Artinya di Teknik Kimia (1 of 2) 
2. Sel Elektrokimia : SEl VOLTA / SEL GALVANI (1 of 2) 
3. Macam - Macam Cara Pencegahan Korosi

Thursday, June 18, 2015

Air & Flue Gas System

Air & Flue Gas System adalah sistem aliran udara pembakaran dan udara sisa pembakaran. Penggunaan peralatan pensupply udara untuk bahan bakar Residual Oil (RO) adalah udara disupply dari ambient yang disedot oleh Forced Draft (FD) Fan kemudian dipanaskan terlebih dahulu di Steam Coil Air Heater (SCAH) yang memanfaatkan panas dari Auxiliary Steam LP Turbine. Tujuan penggunaan SCAH adalah untuk mencegah pengerakan Sulphur yang diakibatkan oleh perbedaan temperatur Flue Gas yang mengandung impurities Sulphur, karena Sulphur dari Flue Gas yang melewati Air Heater akan berputar dan sebagian kontak dengan udara dingin sehingga bisa menyebabkan penggumpalan. Dari SCAH, kondensat dibawa ke Evaporator dan udara panas disempurnakan oleh Air Heater yang menggunakan pemanfaatan panas sisa Boiler yaitu Flue Gas. Untuk efisiensi panas, sebagian Flue Gas disedot oleh Gas Injection (GI) Fan untuk di mixing dengan udara pembakaran sehingga suhu udara sedikit naik dan dikontakkan dengan Main Gun Burner menyelimuti sisi semburan. Sedangkan jika bahan bakar yang digunakan adalah Gas Alam maka peralatan yang tidak digunakan adalah SCAH dan GI Fan.
Flue Gas System PLTU BL
Boiler System PLTU BT
"Air and flue gas system are combustion air flow system and residual air combustion. Usage of instrument air supply for RO fuel is air supplied from ambient that pushed by FD Fan then heated firstly in the SCAH that recovery heat from auxiliary steam LP turbine. The purpose SCAH is to prevent sulphur slag due to differential temperature flue gas contain sulphur impurities, because sulphur from flue gas passthrough air heater will rotate and a half contact with cold air so that cause slag. From SCAH, condensate brought to evaporator and hot air completed by air heater that recovery from residual heat in boiler such as flue gas. For heat efficiency, a half flue gas forced by GI fan to mixed with combustion air so that air temperature increase and contacted with main gun burner around side spray fire. Whereas if fuel that used is natural gas so equipment that not used are SCAH and GI fan."

Combustion System PLTU



Combustion System adalah sistem pembakaran di ruang Boiler (Furnace) menggunakan Main Gun Burner untuk mencampur antara bahan bakar dengan Atomizing System. Di Main Gun Burner juga terdapat Igniter untuk pemercik awal api dan disekelilingnya terdapat udara pembakaran dari FD Fan. Main Gun Burner sistem penyalaannya selalu berpasangan mengikuti aturan bawaan dari pabrik yang sudah di set sesuai arah perpipaan sehingga didapat secara tepat uap yang bisa dikonversikan ke daya yang dihasilkan. Penjelasan ini adalah untuk PLTU yang berbahan bakar gas alam sehingga tipe boiler juga mengikuti desain untuk peruntukan gas alam. Kebanyakan PLTU di Indonesia adalah berbahan bakar batu bara dengan tipe boiler circulating fluidizing bed (CFB). Pada boiler CFB, untuk pemanasan awal menggunakan bahan bakar high speed diesel (HSD) kemudian  jika panas sudah tinggi ditambahkan pasir ke boiler, jika pemerataan panas oleh pasir sudah merata di semua bidang permukaan boiler maka batu bara diumpankan. Pembakaran akan terjadi terus-menerus dengan urutan panas pasir akan membakar batu bara sampai menjadi abu.
Boiler System PLTU BT
Combustion system is ignition system in boiler furnace using main gin burner to mix between fuel with atomizing system. iIn the main gun burner also there is igniter to ignite firing  and around there is air combustion from FD fan. Firing of main gun burner system always couple follow standard company according to pipe so that get exact vapor can be converted into power generate. This explain only in steam power plant using natural gas as fuel so that boiler type design different with CFB boiler using coal. The most power plant in Indonesia is coal steam power plant, which using HSD fuel as igniter then if the heat spread in the surface so sand added to boiler furnace until high temperature. If high temperature so coal feeding and happen continuous combustion untul coal produce ash.

Referensi : Laporan pribadi unit pembangkitan 

ARTIKEL TERKAIT : 
1. Fuel System PLTU
2. Batubara
3. Macam - Macam Alat Pemecah (Crusher / Mill)

Fuel System PLTU

Kata kunci : Fuel system, Bahan bakar PLTU, Combustion PLTU, Pembakaran HSD
Bahan bakar yang dipakai di PLTU adalah High Speed Diesel (HSD) Oil, Residu Oil (RO) dan Gas Alam. Proses penggunaan bahan bakar adalah sebagai berikut : Saat permulaan penyalaan unit (Start Up Unit) digunakan bahan bakar HSD, dimana alirannya dimulai dari HSD Oil Tank yang dipompa dengan HSD Transfer Pump menuju ke HSD Oil Service Tank untuk penampungan bahan bakar kemudian dipompa dengan HSD Oil Pump (P = ± 11 - 12 kgf / cm2) untuk di spray kan di Main Gun Burner (P = ± 4 - 5 kgf / cm2) dengan tekanan diturunkan oleh valve. HSD dialirkan ke Boiler yang diatomisasikan oleh Atomizing Air sehingga berkabut dan bertemu dengan Igniter serta udara pembakaran (pembakaran selama 5 menit).
Setelah unit jalan selama 5 menit dengan bahan bakar HSD maka dilanjutkan oleh bahan bakar RO yang diproses mulai dari RO Tank yang dipanaskan terlebih dahulu di RO Preheater yang memanfaatkan panas dari Auxiliary Steam LP Turbine kemudian ditransfer ke RO Service Tank dengan RO Transfer Pump. Dari RO Service Tank dipompa dengan RO Pump (P = ± 28  kgf / cm2) yang  dilewatkan di RO Heater yang juga memanfaatkan panas dari Auxiliary Steam LP Turbine untuk penyempurnaan pemanasan sebelum masuk Boiler. Di Main Gun Burner, karena RO terlalu kental untuk di spray kan maka dikabutkan dengan Atomizing Steam dari Auxiliary Steam HP Turbine (P = ± 11  kgf / cm2) dengan tekanan masuk Main Gun Burner P = ± 15 - 17  kgf / cm2 . Penggunaan RO mulai sedikit dikurangi dengan alasan RO lebih mahal dibanding Gas Alam sehingga dilakukan pembatasan penggunaan Fossil Fuel. Penggunaan RO hanya dipakai jika persediaan Gas Alam sangat kurang dan mengancam unit trip (emergency). Unit pembangkitan Gresik didesain bisa digunakan untuk 2 bahan bakar yaitu RO dan Gas Alam. Sekarang bahan bakar yang sering dipakai adalah Gas Alam dengan alasan persediaan di alam melimpah dan program pemerintah konversi Fossil Fuel ke Gas Alam. Gas Alam dimulai dari Gas Station bertekanan tinggi melewati pipa langsung dari supplier seperti Santos, Keil, Kodeco (PHE) dan Saka. Supplier mentransfer gas bertekanan (P = ± 25  kgf / cm2)  ke UP Gresik dan di UP Gresik gas dari supplier di mixing menjadi satu kemudian diturunkan tekanan menggunakan valve yaitu V-1 (dari 25 kgf / cm2 ke 12 kgf / cm2 ), V-2 (dari 12 kgf / cm2 ke 8 kgf / cm2), V-3 (dari 8 kgf / cm2 ke 2 kgf / cm2). Gas Alam yang masuk ke Main Gun Burner disetting tidak boleh lebih dari 4 kgf / cm2 dan tidak boleh kurang dari 0,15 kgf / cm2 (0,15 < P < 4), jika tidak memenuhi kondisi maka unit trip.
Fuel Tank PLTU BT

Steam & Condensate System PLTU 200 MW


Kata kunci : Steam, Condensate, Condenser, Condensor, Kondensor, Saturated, Superheated, Boiler 

Steam yang terdapat di Boiler terbagi menjadi 2 yaitu :
  • Saturated Steam : uap jenuh / basah di titik kritis yaitu berupa fase uap namun dibawah suhu uap sedikit saja akan berbentuk fase cair. Tempatnya di Economizer dan Steam Drum 
  • Superheated Steam : uap kering bebas dari fase cair, didapatkan dari pemanasan lanjut Saturated Steam pada tekanan yang sama. Tempatnya di Superheater dan Reheater
Penyebutan istilah untuk steam di pembangkit ada 3 yaitu :
  • Auxiliary Steam : steam yang diambil dari Header (pipa utama) yang menuju ke Turbin (biasanya sesudah Final Superheater). Auxiliary Steam HP Turbine (P = 15 kgf / cm2) diambil dari Header Final Superheater (P = 160 kgf / cm2) dengan menurunkan tekanan memakai valve untuk keperluan peralatan seperti Gland Seal Steam Regulator (GSSR), SJAE, Evaporator (khusus pemanasan jika bahan bakar Residual Oil), Atomizing Steam (untuk pengkabut di Main Gun Burner jika bahan bakar Residual Oil). Auxiliary Steam LP Turbine (P = 2,5 kgf / cm2) diambil dari sisa Auxiliary Steam HP Turbine (P = 15 kgf / cm2) yang tekanannya diturunkan dengan valve untuk keperluan peralatan seperti Deaerator, Desalination Plant dan Backup Evaporator. Pemakaian pada umumnya saat Start Up Unit karena persiapan steam di sistem belum ada dan penggunaan sistem ini mempunyai kelemahan yaitu mengurangi efisiensi kerja karena steam yang seharusnya penuh untuk kerja Turbin ada sedikit yang digunakan untuk keperluan lain. 
  • Extraction Steam : steam yang diambil dari Casing Turbine yang didapatkan dari steam keluaran sudu - sudu turbin. Extraction Steam HP & IP Turbine digunakan untuk keperluan peralatan seperti HPH 8 (Extraction Steam no. 1), HPH 7 (Extraction Steam no. 2), HPH 6 (Extraction Steam no. 3). Extraction Steam LP Turbine digunakan untuk keperluan peralatan seperti Deaerator (Extraction Steam no. 4), LPH 4 (Extraction Steam no. 5), LPH 3 (Extraction Steam no. 6), LPH 2 (Extraction Steam no. 7), LPH 1 (Extraction Steam no. 8). Contoh alat yang memakai ini adalah LPH dan HPH. Pemakaian pada umumnya saat unit Normal Operasi dan penggunaan steam ini tidak mengurangi efisiensi. 
  • Main Steam : steam yang sudah benar - benar kering (Superheated Steam) yang spesifikasi sesuai kebutuhan untuk menggerakkan Turbin dengan P = 169 kgf / cm2 dan T = 541 oC.
  • Atomizing Steam : Steam yang digunakan untuk membuat partikel kecil (atom) / pengkabutan di Main Gun Burner (fungsinya mengkabutkan bahan bakar sehingga lebih mudah di spray - kan di Boiler)
Proses pembentukan steam terjadi di Boiler dengan urutan proses didalamnya yaitu Economizer - Steam Drum - Superheater - HP Turbine - Reheater - IP Turbine - LP Turbine - Condenser.
Boiler (Economizer (T = ± 260 oC) - Steam Drum - Primary Superheater (T = ± 370 oC) - Secondary Superheater (T = ± 470 oC) - Final Superheater (T = ± 541 oC)) 
 BACA JUGA : Macam-Macam Boiler
 
Boiler adalah komponen peralatan yang berfungsi untuk mengubah Feed Water menjadi Main Steam dengan bantuan panas dari bahan bakar (High Speed Diesel (HSD), Residual Oil (RO) dan Gas Alam). Didalam Boiler terdapat beberapa istilah seperti :
  • Furnace
Tempat pembakaran oleh Main Gun Burner sehingga daerah ini adalah daerah yang paling panas. 
Area Boiler-Furnace
Wind Cap Boiler Furnace
  • Wall Tube
Dinding Boiler terdiri dari banyak Tube yang tersusun mengelilingi Boiler sehingga membentuk dinding dan berisi Feed Water.
Wall Tube Sebelah Cyclone Dilengkapi Anchor
Wall Tube Boiler
  • Heat Recovery Area (HRA)
Bagian dari Boiler berupa sekat khusus yang memanfaatkan panas sisa Boiler sehingga efisiensi menjadi naik.
  • Economizer
Tempat pemanasan awal Feed Water sewaktu memasuki Boiler. Alat ini memanfaatkan panas sisa Boiler (Flue Gas) sebelum dibuang ke cerobong (Stack).
  • Steam Drum
Berupa tabung horizontal yang dilengkapi sirip - sirip untuk memisahkan antara fase uap dengan fase cair sehingga fase uap terpisah dan langsung menuju ke Superheater sedangkan fase cair jatuh ke bagian bawah kolom penampung (Storage Tank) Steam Drum berdasarkan gravitasi untuk dibawa ke Boiler melewati Downcomer. Di Boiler terdapat Riser yaitu pipa untuk menaikkan kembali fase cair dari Downcomer untuk pemanasan ulang dan hasilnya menuju  ke Steam Drum dan mengalami siklus terus -  menerus sampai benar - benar fase cair teruapkan.
Steam Drum PLTU BT
  • Superheater
Bagian dari Boiler yang berfungsi memanaskan lebih lanjut steam basah (Saturated Steam) menjadi steam kering (Superheated Steam). Superheater terbagi menjadi 3 yaitu Primary Superheater, Secondary Superheater dan Final Superheater.
  • Reheater
Steam keluaran dari HP Turbine karena sudah terpakai untuk memutar sudu - sudu maka tekanan dan suhu berkurang disebut Cold Reheat (P = ± 29 kgf / cm2 & T = ± 303 oC) sehingga memerlukan penambahan suhu untuk mencapai tekanan yang sedikit lebih besar maka dipanaskan lagi di bagian Boiler yaitu Reheater. Steam hasil dari pemanasan ulang (P = ± 29 kgf / cm2 & T = ± 541 oC) kemudian dilewatkan ke IP Turbine.
  • Turbin dan Generator
Turbin terbagi menjadi 3 bagian dalam 1 poros yaitu High Pressure (HP) Turbin, Intermediate Pressure (IP) Turbin dan Low Pressure (LP) Turbin. Main Steam dari Superheater Boiler menggerakkan HP Turbin kemudian steam outlet dipanaskan lagi di Reheater Boiler untuk menaikkan tekanan dan suhu. Dari Reheater, steam dilewatkan IP Turbin dan outletnya langsung dihubungkan oleh saluran berbentuk U menuju ke LP Turbin. Turbin dan Generator terhubung dalam 1 poros dengan RPM = 3000.
Add caption
Turbin PLTU GR
Condensate adalah produk dari hasil kondensasi yang didapatkan dari pengkontakkan antara steam (fluida panas) dengan air laut (fluida dingin) di peralatan Condenser yang hasilnya ditampung di Hotwell dan produk disebut Condensate Water. Urutan Condensate Water adalah : Hotwell (P = 19 kgf/cm2) - SJAE - GSC - LPH 1 (T = 85 oC) - LPH 2 (T = 103 oC) - LPH 3 (T = 127 oC) - LPH 4 (T = 144 oC) - Deaerator (P = 7 kgf / cm2 & T = 174 oC) - Feed Water
Prosesnya meliputi beberapa peralatan sebagai berikut :
  • Condenser & Hot Well
Di Condenser terdapat 2 sisi yaitu sisi Shell yang berisi Auxiliary Steam LP Turbine dan sisi Tube berisi air pendingin dari air laut yang dipompa oleh Pompa CWP. Kedua sisi terjadi kontak sehingga terjadi penukaran panas dan terjadi pengembunan (Kondensasi). Karena terjadi proses kondensasi maka dihasilkan Condensate Water dan ditampung di Hot Well yang letaknya tepat dibawah Condenser. Untuk operasi ideal dalam siklus tertutup maka tidak ada air yang hilang namun dalam operasi kenyataan terdapat losses sehingga diperlukan air penambah di Hot Well dari Make Up Water sehingga level kebutuhan air untuk menghasilkan steam tetap terjaga.
Condenser PLTU BT
  • Condensate Pump (CP)
Berfungsi memompa Condensate Water dari Hot Well menuju ke LPH dengan tekanan pompa sebesar ± 20 kgf / cm2 dan suhu ± 40 oC.
  • Low Pressure Heater (LPH)
Low Pressure Heater (LPH) terdiri dari 4 buah yaitu LPH 1 (± 78 oC) - LPH 2 (± 144 oC) - LPH 3 (± 220 oC) - LPH 4 (± 280 oC) yang alirannya seri untuk memanaskan awal sebelum masuk ke Deaerator (± 260 oC). Steam pemanas yang dipakai adalah Extraction Steam Turbin LP (diambil dari sirip - sirip Turbin).

Referensi : Laporan pribadi unit pembangkitan

ARTIKEL TERKAIT : 
1. Desain Kolom Pemisah Distilasi 
2. Istilah Mirip tapi Tidak Sama Artinya di Teknik Kimia (1 of 2) 
3. Subcritical vs Supercritical Boiler