Artikel Terbaru

Macam-Macam Persyaratan Kesematan Radiasi, Manajemen, Proteksi Radiasi, Teknis dan Verifikasi Keselamatan (5 of 5)

Diposting oleh On Thursday, January 09, 2020

Radiasi nuklir bisa berupa zat radioaktif (terus-menerus memancar dan pesawat sinar-X (memancarkan radiasi ketika dibangkitkan). Banyak manfaat yang diperoleh dari penggunaan teknologi ini namun juga banyak bahaya ketika salah penggunaan sehingga semua proses diatur dan diawasi oleh negara lewat BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Atom Nasional).
Berdasarkan PP No. 29 Tahun 2008 terdapat pengecualian perijinan pemakaian dengan alasan produk sangat dibutuhkan masyarakat dan dosis yang diterima minim, syarat itu sebagai berikut :
  • Pembangkit radiasi pengion/sinar-X, ketika laju dosis ≤ 1µSv/jam pada jarak 10 cm dari permukaan dan Energi max ≤ 5 KeV
  • Zat Radioaktif untuk Barang Konsumen, ketika laju dosis awal ≤ 1µSv/jam pada jarak 10 cm dari permukaan, misalnya kaos/element yang dipanaskan pada petromax

Persyaratan Keselamatan Radiasi terbagi menjadi 4 bagian yaitu :
  1. Persyaratan manajemen
  2. Persyaratan proteksi radiasi
  3. Persyaratan teknis
  4. Persyaratan verifikasi keselamatan

Persaratan MANAJEMEN terbagi menjadi 6 yaitu :
  • Penanggung jawab, pemegang izin dan PPR memegang peran penting disini dimana PPR sebagai penasehat pemegang izin dalam hal pengelolaan radioaktif yang dipakai
  • Personil, operator yang mengoperasikan peralatan harus benar-benar sudah ditraining oleh PPR dan vendor penyedia alat sehingga kemungkinan kecelakaaan radiasi bisa diminimalisir
  • Pamantauan kesehatan, tes kesehatan rutin tahunan dan item tes lainnya yang mendukung kemungkinan dampak dari radiasi menjadi tanggung jawab pemegang izin dan item yang diusulkan menjadi wewenang PPR
  • Budaya keselamatan, semua organisasi baik operator, petugas perawatan, PPR wajib mematuhi peraturan yang ada dan mengikuti instruksi tim ahli
  • Pendidikan dan pelatihan, semua orang yang terlibat di organisasi harus mendapatkan pendidikan dan pelatihan agar kejadian-kejadiab fatal akibat unsafe action dan unsafe condition bisa diminimalisir
  • Rekaman, rekaman berupa penerimaan dosis perorangan dan hasil pemantauan kesehatan menjadi tanggung jawan pemegang ijin untuk disimpan selama 30 tahun sejak karyawan yang bersangkutan berhenti bekerja

Persyaratan PROTEKSI RADIASI terbagi menjadi 3 yaitu :
  • Justifikasi (J)

Asas manfaat >>> resiko adalah peringkat pertama mengapa teknologi radioaktif harus digunakan. Jadi misalnya penggunaan XRF, alasan utama adalah apakah manfaatnya >>> resiko dan jika "YA" maka boleh digunakan
  • Limitasi Dosis (L)

Batasan dosis yang boleh diterima oleh pekerja dan masyarakat dengan pengecualian penyinaran karena medik dan dari alam, seperti berikut pembagiannya :
Pekerja
- Dosis Efektif (E) rata-rata = 20 mSv/tahun selama 5 tahun berturut-turut
- Dosis Efektif (E) max = 50 mSv/tahun untuk 1 tahun tertentu
- Dosis Ekivalen (H) mata = 50 mSv/tahun
- Dosis Ekivalen (H) kulit = 500 mSv/tahun
Masayarakat,
- Dosis Efektif (E) = 1 mSv/tahun
- Dosis Ekivalen (H) mata = 15 mSv/tahun
- Dosis Ekivalen (H) kulit = 50 mSv/tahun
  • Optimisasi (O)

Nilai Batas Dosis (NBD) dimana untuk masyarakat < 3/10 NBD dan untuk pekerja ditentukan oleh pemegang izin yang disetujui BAPETEN berdasarkan hasil evaluasi rekaman dosis dan kesehatan. Konsep yang dipegang optimisasi adalah ALARA (As Low As Reasonably Achieveable = serendah mungkin dosis yang tercapai)

Aplikasi pada konsep JLO diatas sebagai berikut :
Misalnya ada pasien ingin kemoterapi maka dilihat dahulu pada konsep justifikasi yaitu apakah manfaat penggunaan sinar-X lebih besar manfaat daripada resiko, jika "YA" maka boleh dilanjut dan konsep limitasi dosis tidak berlaku karena medis dikecualikan sedang optimisasi yaitu penggunaan dosis seminimal mungkin namun efektif dalam penggunaan

Persyaratan TEKNIS terbagi menjadi 4 yaitu :
  • Peralatan gauging, dilakukan pemeriksaan peralatan dan ini diterapkan untuk zat radioaktif (ZRA) dan sumber radiasi pengion (pesawat sinar-X)
  • Penyimpanan zat radioaktif (ZRA), hanya pada ZRA
  • Pengangkutan zat radioaktif (ZRA), hanya pada ZRA
  • Limbah zat radioaktif (ZRA), hanya pada ZRA

Persyaratan VERIFIKASI KESELAMATAN terbagi menjadi 3 yaitu :
  • Pemeriksaan paparan radiasi, dilakukan baik pada ZRA dan pesawat sinar-X periodik 2 minimal 2 minggu sekali
  • Uji kebocoran zat radioaktif (ZRA), hanya pada ZRA yaitu minimal 2 tahun sekali untuk aktifitas tinggi dan 3 tahun sekali untuk aktifitas rendah
  • Pemeriksaan komponen peralatan gauging, dilakukan baik pada ZRA dan pesawat sinar-X

Paparan radiasi terbagi menjadi 2 yaitu :
  • Eksterna, paparan dari luar tubuh dan bisa dikendalikan dengan "PEJABAT" (Penahan, Jarak dan Batasi Waktu)
  • Interna, paparan dari dalam tubuh dan bisa dikendalikan dengan "SULAP" (Sumber ZRA, Area, Personil)

Referensi : Feriyanto, YE. (2019). Pelatihan & Sertifikasi Petugas Proteksi Radiasi Tingkat II, batan-Bapeten, Jakarta

Macam-Macam Efek Radiasi (4 of 5)

Diposting oleh On Saturday, January 04, 2020

Radiasi yang dibahas disini adalah radiasi yang berbahaya bagi tubuh manusia seperti alpha, beta, gamma, X dan neutron. Efek radiasi terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan hal-hal berikut :
Berdasarkan Sel Target ada 2 yaitu :

  • Somatik : menyerang pada tubuh manusia selain gonad/kelamin sehingga dampak tidak sampai ke keturunan, seperti : melepuh, katarak
  • Genetik : menyerang pada bagian gonad/kelamin manusia dan dampaknya sampai ke kuturunannya, seperti : leukimia, sydrom

Berdasarkan Dosis Ambang ada 2 yaitu :
  • Efek STOKASTIK (efek radiasi yang tidak memiliki dosis ambang)

Dapat terjadi jika sel terkena paparan mengalami modifikasi, kanker, leukimia, kelainan genetik
Ciri efek stokastik adalah :
- Bersifat random
- Tidak memiliki dosis ambang, dalam artian terkena radiasi sedikit saja berpeluang langsung kena dampak fatal
- Probabilitas kejadian bergantug dosis
- Dapat terjadi pada individu terpapar dan turunannya
  • Efek DETERMINISTIK (ada angka/efek radiasi yang ada ambang batasnya)

Terjadi karena kematian sel, eritema (kulit melepuh), sterilitas (paparan pada kelamin terus-menerus), katarak
Ciri efek deterministik adalah :
- Memiliki dosis ambang
- Tingkat keparahan bergantung dosis
- Terjadi hanya pada individu terpapar saja

Urutan proses radiasi berakibat fatal terhadap manusia adalah :
Mula-mula terdapat radiasi yang bisa secara langsung merusak DNA sedangkan yang tidak langsung bereaksi dengan materi H2sehingga terbentuk radikal bebas (atom/molekul dengan sebuah elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya sehingga mudah berikatan dengan atom lain untuk mancapai kestabilan), radikal bebas kemudian berinteraksi dengan materi biologi dan merusak DNA.
Berdasarkan Waktu Muncul ada 2 yaitu :
  • Segera, ketika terkena radiasi maka langsung kelihatan dampaknya seperti kulit memerah, melepuh atau gatal
  • Tertunda, ketika terkena radiasi maka tidak langsung kelihatan dampaknya seperti leukimia, katarak

Jika radiasi mengenai materi biologi maka akan terjadi beberapa hal sebagai berikut :
DNA, jika efek radiasi mengenai DNA maka akan terjadi dampak seperti :
  • Single strand break, terdapat patah pada salah satu sisi DNA karena DNA terbuat dari 2 untaian benang seperti tangga dan anak tangga
  • Double strand break, terdapat patah pada 2 sisi DNA
  • Kerusakan basa, DNA mengandung 3 materi utama yaitu basa (adenin-A, thimin-T, Guanin-G, Cytocin-C), gula dan phospate. DNA terbentuk dai rangkaian kombinasi 3 basa misalnya ATG, TGC dan jika rusak maka akan membentuk protein yang abnormal

Kromosom, jika efek radiasi mengenai kromosom maka akan terjadi dampak seperti :
  • Aberasi kromosom, terjadi keabnormalan kromosom ketika pembelahan seperti fragment, cincin, disentrik, translokasi)

Sel, jika efek radiasi mengenai sel maka akan terjadi dampak seperti :
  • Kematian sel
  • Modifikasi sel

Pada masyarakat umum bukan pekerja radiasi maka probabilitas mendapatkan efek stokastik >>> karena kemungkinan terjadinya random bisa pada anak-anak, remaja, balita) sedangkan pekerja umumnya dewasa

Referensi : Feriyanto, YE. (2019). Pelatihan & Sertifikasi Petugas Proteksi Radiasi Tingkat II, Batan-Bapeten, Jakarta

Macam-Macam Alat Ukur Proteksi Radiasi dan Surveymeter (3 of 5)

Diposting oleh On Monday, December 30, 2019

Alat Ukur Proteksi Radiasi : alat yang digunakan untuk mengukur dosis yang diterima tubuh demi keselamatan jiwa manusia.
Macam-Macam Alat Ukur Proteksi Radiasi :
1. Dosimeter Perorangan, terdapat 3 tipe yaitu :

  • Pen Dose

Karakteristik : ada 2 jenis yaitu digital dan analog
Prinsip kerja adalah ionisasi gas, radiasi mengenai ion (+) dan ion (-) sehingga timbul beda tegangan dan menimbulkan penunjukkan jarum sehingga bisa terbaca di sistem digital.
Kelebihan : dapat langsung dibaca, konstruksi sederhana
Kekurangan : sifat akumulasi kurang baik (hanya harian) karena mudah bocor dan ketelitian rendah

  • Film Badge

Prinsip kerja adalah fotokimia, ketika dikenai radiasi maka sebagian/seluruh energi radiasi akan dialihkan ke elektron. Elektron akan membuat Ag+ dalam kristal AgBr menjadi Ag netral sehingga terbentuk bayangan laten. Untuk mengetahui jumlah radiasi maka detektor film dicuci dengan senyawa kimia sebagai larutan pengembang. Atom Ag yang berupa bayangan laten akan semakin hitam sedangkan ion Br- menjadi atom Br. Proses pencucian lanjutan dengan larutan stop bath untuk menghentikan proses pengembangan (penghitaman). Pencucian lanjutan dengan larutan fixer akan melarutkan molekul AgBr sisa, sedangkan yang telah menjadi logam Ag akan terikat kuat sebagai bayangan hitam.
Kelebihan : film dapat didokumentasikan, sifat akumulasi baik, dapat mengukur dosis tinggi, jenis & energi radiasi bisa ditentukan (karena ada bermacam-macam sekat/filter)
Kelemahan : dipengaruhi oleh kelembaban & temperatur, tidak dapat digunakan lagi (sekali pakai), tidak dapat mengukur dosis rendah, range pembacaan hanya 1 bulan (untuk menghindari pemudaran akibat pengaruh kelembaban), pembacaan dosis memerlukan alat bantu yaitu densitometer

  • Thermoluminescence Dosimeter (TLD)

Prinsip kerja adalah eksitasi, ketika ada radiasi maka elektron dari pita valensi pindah ke pita konduksi (transisi elektron) dan selama terkena radiasi maka terjadi akumulasi elektron terus-menerus. Setelah 3 bulan dilakukan pembacaan, maka dengan pemberian energi dari luar jika diberi energi panas maka pancarannya disebut thermoluminisensi (TLD) dan jika diberi cahaya UV disebut radiophoto (RPLD). Pancaran dideteksi oleh photomultiplier (PMT) dan besarnya pancaran sebanding dengan dosis radiasi.
Kelebihan : dapat digunakan lagi, akumulasi sangat baik, dapat mengukur dosis rendah maupun tinggi, tidak dipengaruhi oleh lingkungan, range pembacaan dosis cukup panjang (3 bulan sekali)
Kekurangan : tidak bisa dijadikan dokumetasi, pembacaan dosis memerlukan alat TLD reader

2. Surveymeter, terdapat beberapa tipe yaitu :
  • Surveymeter alpha, permukaan detektor terdapat film tipis bahan Be, jenisnya bisa isian gas proporsional atau sintilasi ZnS
  • Surveymeter beta & gamma, karakteristik uniknya adalah terdapat penutup yang bisa dibuka-ditutup dengan penerapannya di lapangan jika dibuka maka surveymeter diguanakan untuk mendeteksi radiasi beta (karena beta hanya bisa menembus beberapa cm saja di penahan) sedangkan keadaan tetap tertutup untuk radiasi gamma
  • Surveymeter gamma/X, jenisnya adalah isian gas kamar ionisasi (ion chamber), geuger mueler (GM), sintilasi NaI
  • Surveymeter neutron, jenisnya adalah detektor proporsional gas BF3 atau helium

Cara kerja detektor sintilasi adalah ketika terdapat radiasi yang mengenai bahan sintilator maka akan menghasilkan percikan cahaya yang ditangkap di photokatoda sehingga memancarkan elektron. Elektron yang dipancarkan ini sangat kecil sehingga kalau terbaca sangat kecil dan harus dibesarkan dan di alat detektor terdapat dinode yang fungsinya menggandakan elektron sampai akhirnya bisa terbaca dan ditangkap di anode sehingga timbul arus pulsa, kemudian arus pulsa bisa terbaca di alat peraga/digital.
SURVEYMETER
Fungsi surveymeter : mengukur laju dosis
Langkah pemilihan surveymeter :
  • Memilih untuk jenis radiasi yang digunakan
  • Respon energi pada dosis radiasi yang berbeda
  • Rentang pengukuran cukup dengan tingkat radiasi yang diukur

Kalibrasi : menguji ketepatan nilai yang ditampilkan alat dengan nilai sebenarnya
Cara kalibrasi surveymeter :
  • Menggunakan sumber radiasi standar
  • Mencocokkan dengan peralatan lain yang sudah terkalibrasi dan masih dalam masa berlakunya

Kalibrasi dilakukan pada :
  • Surveymeter baru
  • Setiap tahun untuk surveymeter yang terpakai
  • Surveymeter yang rusak dan telah diperbaiki

Langkah sebelum memakai surveymeter :
  • Memeriksa sertifikat kalibrasi dan faktor kalibrasi
  • Memeriksa baterai
  • Mempelajari pengoperasian dan pembacaan skala

Referensi : Feriyanto, YE. (2019). Pelatihan & Sertifikasi Petugas Proteksi Radiasi Tingkat II, Batan-Bapeten, Jakarta

Macam-Macam Besaran Dosimetri dan Konversi Satuan (2 of 5)

Diposting oleh On Monday, December 30, 2019

Besaran radiasi terbagi menjadi 4 yaitu :

  • Fluks
Jumlah radiasi yang melalui satuan luas per satuan waktu
  • Intensitas
Hasil perkalian antara kuantitas x energi
  • Paparan
Pasangan ion yang terbentuk dalam satuan massa udara akibat radiasi
2 satuan yaitu lama (Rontgen-R) dan baru/SI (C/kg)
  • KERMA (Kinetic Energy Released per unit Mass Absorber)
Hanya untuk radiasi pengion indirect (gamma, X dan neutron)
Satuan J/kg atau Gray (Gy)
Jenis Sinar-X ada 2 yaitu :
  1. Sinar-X karakteristik : disebut "karaketeristik" karena energi yang timbul karena mengisi ruang kosong akibat eksitasi dari kulit luar ke dalam sesuai energi spesifik pada masing-masing unsur logam. Spektrum yang terjadi adalah diskrit (putus-putus/patah-patah)
  2. Sinar-X bremstrahlung : sinar-X yang terbentuk karena interaksi partikel umumnya beta (+) mendekati inti atom (+) sehingga partikel tersebut dibelokkan karena muatan (+) partikel bertemu dengan muatan (+) inti atom. Spektrum yang terjadi adalah kontinyu dan inilah yang dimanfaatkan pada peralatan X-RF dan alat rontgen medik untuk menembus benda uji
Ada 4 besaran dosimetri yaitu :
  • Dosis Serap (D)
Energi per satuan massa
D = f.X, dengan f = faktor konversi (f udara = 0.877 ~ 1) dan X = paparan
Satuannya yaitu lama (RAD) dan baru (Gray-Gy) dengan 1 Gy = 100 RAD
  • Dosis Ekivalen (H)
Dosis yang mempertimbangkan faktor bobot radiasi (Wr), belum diterima tubuh manusia
Wr = kemampuan radiasi untuk merusak jaringan
Satuannya yaitu lama (REM) dan baru (Sievert-Sv) dengan 1 Sv = 100 REM
  • Dosis Efektif (E)
Dosis yang mempertimbangkan bobot organ (Wt), berarti sudah diterima oleh tubuh manusia
Wt = perbandingan resiko efek stokastik organ terhadap seluruh tubuh
Satuannya yaitu lama (REM) dan baru (Sievert-Sv)
  • Dosis Kolektif (Se)



Referensi : Feriyanto, YE. (2019). Pelatihan & Sertifikasi Petugas Proteksi Radiasi Tingkat II, Batan-Bapeten, Jakarta

Peluruhan Radioaktif dan Interaksi Radiasi Pengion dengan Materi (1 of 5)

Diposting oleh On Friday, November 01, 2019

RADIASI : pancaran/perambatan energi melalui matrei/ruang dalam bentuk gelombang elektromagnetik/partikel
Radiasi terjadi karena "nuklida tidak stabil (radionuklida) menjadi nuklida stabil", sehingga dalam proses kestabilannya memancarkan sinar alpha, beta dan gamma

Terdapat jenis 2 radiasi yaitu :
  1. Pengion terbagi menjadi 2 yaitu gelombang elektromagnetik (sinar X dan sinar gamma) dan partikel (alpha, beta, neutron)
  2. Non-Pengion yaitu cahaya, panas dan radio
Sifat Radiasi Pengion :
  • Tidak dapat dirasakan panca indra, sehingga jika tidak dimitigasi penggunaannya bisa menyebabkan efek yang sangat berbahaya
  • Dapat menembus materi, urutan daya tembus dari paling kuat ke lemah (gamma, beta, alpha). Daya tembus dipengaruhi oleh pendeknya panjang gelombang
  • Mampu mengionisasi materi, urutan daya ionisasi dari paling kuat ke lemah (alpha, beta, gamma)

Perbedaan ATOM STABIL vs ATOM NETRAL
  • ATOM STABIL : lintasan lebih dalam terisi penuh elektron sesuai kapasitasnya. Dikatakan stabil jika atom tidak memancarkan radiasi dan tidak mengalami peluruhan spontan. Kestabilan inti atom bisa didapatkan ketika jumlah proton dan neutron berada pada kurva kestabilan dan tingkat energi pada keadaan dasar
  • ATOM NETRAL : jika jumlah proton = jumlah elektron
PELURUHAN RADIOAKTIF : perubahan inti atom tidak stabil menjadi stabil dengan memancarkan radiasi alpha/beta/gamma

SIFAT-SIFAT RADIASI PENGION :
1. Radiasi ALPHA
  • Mirip unsur He
  • Daya tembus terkecil hanya 20 mm di udara dan 0.03 mm di jaringan tubuh (pada energi 3.5 MeV)
  • Daya ionisasi terbesar karena memiliki 2P yang mampu menarik elekton lebih banyak
  • Spektrum radiasi diskrit (putus-putus) 
  • Mudah diserap plat
  • Terjadi pada inti berat dengan no. atom (Z) > 80
2. Radiasi BETA
  • Terdapat beta (+) dan beta (-). Sifat beta (-) = positif elektron (positron)
  • Spektrum kontinyu
  • Menembus 11 m di udara atau 15 mm di tubuh (pada energi 3.5 MeV)
  • Terjadi pada inti ringan
3. Radiasi GAMMA
  • Gelombangnya disebut foton dan mirip sinar-X
  • Daya tembus terkuat
  • Daya ionisasi terlemah
AKTIFITAS SUMBER RADIOAKTIF : jumlah peluruhan dalam 1 detik
Satuan lama : Curie (Ci)
Satuan baru : Becquerrel (Bq) atau disintegrasi/60 menit
1 Ci = 37 GBq

1 eV : jumlah energi yang sama dengan energi kinetis elektron ketika melewati beda potensial 1 volt

MACAM-MACAM INTERAKSI :
1. Interaksi ALPHA
  • Ionisasi : lepasnya elektron dari orbit menjadi elektron bebas dan dihasilkan atom (+)
  • Eksitasi : perpindahan lintasan elektron ke kulit lebih luar (sehingga membutuhkan energi)
  • Reaksi Inti : interaksi partikel alpha dengan inti menghasilkan atom baru
2. Interaksi BETA
  • Ionisasi
  • Eksitasi
  • Proses BREMSTRAHLUNG : pancaran gelombang elektromagnetik (sinar-X) ketika radiasi Beta dibelokkan oleh atom (+)
3. Interaksi GAMMA
  • Efek Fotolistrik : terlepasnya elektron dari orbit ketika atom menyerap seluruh foton
Karakteristiknya :
Terjadi pada energi foton rendah (<100 KeV) dengan Z besar
  • Hamburan Chompton : mirip efek fotolistrik namun sebagian dihamburkan
Karakteristik :
Terjadi pada energi foton sedang (100 KeV-1 MeV) dan Z rendah
Aplikasi untuk thickness gauge
  • Efek Produksi Pasangan : terbentuknya pasangan elektron dan positron
Karakteristiknya :
Terjadi pada energi fotonbesar (>1.02 MeV)

4. Interaksi NEUTRON
  • Tumbukan Elastis : neutron dengan jumlah massa = 1 berbenturan dengan atom yang memiliki massa = 1 (hydrogen)
  • Tumbukan Non-Elastis : neutron tumbukan dengan atom massa besar
  • Reaksi Inti (Penangkapan Elektron) : terjadi ketika aktifitas neutron sudah sangat rendah (neutron thermal) sehingga ditangkap inti atom dan membentuk inti baru
  • Reaksi Fisi : inti atom ditembak dengan neutron thermal/lambat sehingga terus-menerus terbentuk inti baru secara berantai
Referensi : Feriyanto, YE. (2019). Pelatihan & Sertifikasi Petugas Proteksi Radiasi Tingkat II, Batan-Bapeten, Jakarta

Shell and Tube Air Pre-Heater (APH) PLTU : Material, Korosi dan Karekteristiknya (2 of 2)

Diposting oleh On Friday, September 20, 2019

Kondisi operasi APH PLTU umumnya seragam untuk tipe CFB boiler karena panas ruang bakar batu bara (furnace boiler) sama sehingga temperature flue gas juga hampir sama. Tipe APH yang umum ditemui adalah vertical shell and tube, dimana shell dilalui udara atmosfer sedangkan tube adalah flue gas.
Berikut kondisi operasi APH yang umum ditemui di PLTU
Berdasarkan data operasi tersebut bisa disimpulkan bahwa : 
Kondisi operasi Inlet APH
  • Temperature : 300-370 oC 
  • Excess air : 15-20 % 
  • SO2 content : 20-34 ppm
Kondisi operasi Outlet APH
  • Temperature : 120-160 oC 
  • Excess air : 0.2-0.3 % 
  • SO2 content : 3-10 ppm
Flue gas yang masih panas (300-370 oC) kontak di shell and tube APH sehingga outlet menjadi dingin (120-160 oC). Selama proses yang terus-menerus tersebut dan pendinginan yang mendadak maka flue gas yang mengandung fly ash pelan-pelan akan menggumpal pada outlet tube APH seperti lumpur basah. Lumpur tersebut mengandung kontaminan korosif padatan sisa pembakaran batu bara seperti sulphide, sulphur dan oksida besi sehingga seiiring berjalannya waktu akan menjadi reaksi korosi dengan material tube APH.

Untuk mendukung kandungan di flue gas juga perlu dianalisis komposisi batu bara sebagai bahan bakar yang digunakan. Berikut hasil COA batubara untuk tipe low rank coal

Berdasarkan data COA batubara bisa disimpulkan bahwa : 
Parameter COA Batubara
  • Total moisture: 33-36 % 
  • Total sulphur: 0.2-0.3 %  
  • SO3 content: 3-10 ppm
Flue gas yang berubah fase menjadi padatan di outlet tube APH bisa melakukan reaksi lanjutan menjadi korosi karena didukung dengan kondisi yang bisa menyebabkan korosif seperti tingginya kadar sulphur dan moisture

Ditemui di lapangan banyak material tube APH yang crack dan korosi seperti gambar berikut 
Untuk menyelesaikan analisis penyebab memerlukan beberapa tahapan metode seperti :
Material yang umum dan direkomendasikan untuk tube APH adalah corten steel atau enamel coated
(Shayan M.R et al, 2015) karena terbukti tahan korosi sedangkan penggunaan material carbon steel dihindari

Kerak di inner tube APH dilakukan pengujian dengan XRD dan didapatkan paling banyak adalah oksida besi dan sulphur, padahal oksida besi khususnya hematite (Fe2O3) adalah katalis yang mendukung baik korosi (Louise Douglas, 2005).

3. Analisa visual untuk penentuan letak korosi
Banyak ditemukan hampir sebagian besar korosi adalah pada ujung outlet APH tube sehingga hal ini memperkuat beberapa jurnal yang telah dipaparkan seperti pendinginan mendadak dari panas ke dingin < 150 oC akan bereaksi korosif dikenal dengan istilah acid dew point corrosion (Berg BVD, 2015).

4. Studi pustaka dan kajian analisis
Kesetimbangan untuk konversi dari SO2 ke SO3 semakin bertambah ketika flue gas terlarut dengan udara atmosfer sehingga otomatis flue gas terdinginkan (Louise Douglas, 2005). Dew point temperature H2SO4 adalah 138-142 oC (Shayan M.R et al, 2015) sehingga berdasarkan data tersebut dan compare dengan data operasi maka proses terbentuknya korosi di outlet tube APH terpenuhi yaitu sulphide corrosion/acid dew point corrosion/cold end corrosion dengan sifat senyawa yang terbentuk adalah sulphuric acid (H2SO4) yang bersifat pH asam dan korosif

Referensi :
[1] Feriyanto, YE. (2018). Analisa Komposisi Material XRF Metode dan Langkah Pengukuran. Sains Teknologi & Bisnis. Surabaya
[2] Feriyanto, YE. (2018). Analisa Kerak Menggunakan XRD Metode dan Langkah Kerja. Sains Teknologi & Bisnis. Surabaya
[3] Shayan, M.R, et al. (2015). On the Failure Analysis of an Air-Preheater in a Steam Power Plant. Journal of Failure Analysis and Prevention
[4] Chen, et al. (2016). SO3 Formation in Copper Smelting Process : Thermodynamic Consideration. 7th International Symposium on High Temperature Metallurgical Processing
[5] Louise Douglas. (2005). Handbook of Sulphuric Acid Manufacturing
[6] Berg, BVD. (2015). Heat Recovery from Corrosive Flue Gas