Saturday, 21 June 2014

Cara Menurunkan Kadar COD Limbah Cair

COD (Chemical Oxygen Demand) adalah kebutuhan O2 untuk mengoksidasi bahan organik  yang tidak terdegradasi  secara biologis. Dengan kata lain juga bisa disebutkan kebutuhan O2 untuk reaksi kimia dalam mendegradasi kandungan kimia dalam suatu bahan.

"COD is necessary O2 for oxidize undegradable organic compound biologically. Other called also necessary O2 for chemical reaction to degrade chemical content in the material"
Beberapa cara untuk menurunkan kadar COD pada limbah :
  • Menggunakan Arang Tempurung Kelapa (Coconut Shell Charcoal)
Dalam penerapannya arang ini bisa untuk menurunkan kadar COD yang dipengaruhi oleh pH (8), waktu kontak (semakain lama arang aktif akan cepat jenuh) dan suhu (suhu tinggi daya adsorpsi semakin tinggi).

"In Application this charcoal able to reduce COD degree that affected by pH (8), time contact (so long activated charcoal so will fast saturated) and temperature (high temperature so high adsorption power."
  • Menggunakan Tangki Aerasi Bertingkat / Bersekat (Aeration Tank Baffled)
Penurunan COD sebanding dengan lama waktu aerasi dan banyaknya sekat, jadi jika aerasi lama maka kebutuhan O2 untuk mendegradasi zat terpenuhi dan dengan banyak sekat maka luapan air dari sekat satu ke yang lain akan menambah jumlah O2 sehingga semakin banyak sekat maka sekat terakhir akan terkumpul O2 paling banyak dan kadar COD turun.

"Dropping of COD is proportional with length of aeration time and amount of baffle so if aeration need more time so necessity O2 to degrade chemical is fulfill and many baffle so water floaded from one baffle to other will add amount O2 so that many baffle appplied in the end baffle will collect more O2 and reduce COD degree."
  • Menggunakan Rotating Biological Contactor (RBC)
Aplikasi terbaik saat disk RBC terendam 70% dan kecepatan putar RBC 2 rpm, jadi saat disk banyak yang tercelup ketimbang yang kontak dengan udara mengindikasikan bahwa pembentukan lapisan mikroorganisme lebih luas karena kontak dengan area limbah yang besar dan untuk 2 rpm lebih bagus karena jika terlalu cepat berputar maka waktu kontak antara biofilm dengan air limbah dan udara berkurang sehingga pembentukan lapisan mikroorganisme kurang efektif.

"The best application when RBC disk is 70% submerged and rotational velocity is 2 rpm, so when many disk is immersed than contact with air indicate that formation of microorganism layer is large because it is contact with large waste area and for 2 rpm is the best because if it is too fast rotating the time contact between biofilm with waste water and air is reduce so that formation microorganism layer is less effective."
  • Menggunakan Activated Sludge
Dengan menggunakan mikroorganisme pendegradasi maka dibutuhkan nutrient yang berasal dari pupuk NPK dengan kadar 1 - 100 µg / L dan juga CuSO4 sebagai sumber Cu, mikroorganisme bisa aerob dan anaerob tergantung tipe bakteri serta pH yang baik untuk berkembang mikroorganisme 6,5 - 7,5 dengan penambahan CaCO3 (dolomit) untuk mengendalikan pH dan suhu efektif 32 - 36 oC.

"Using microorganism to degrade needed nutrient from NPK fertilizer with concentration 1 - 100 µg / L and also CuSO4 as source of Cu, microorganism able aerobic and aerobic depend on bacterial type and pH to grow microorganism 6,5 - 7,5 with adding CaCO3 (dolomit) to control pH and effective temperature 32 - 36 oC."
  • Menggunakan Reaktor Biosand Filter + Activated Carbon
Media yang dipakai adalah pasir halus (45 cm), pasir kasar (10 cm), kerikil (15 cm) dan activated carbon (30 cm) yang telah disiapkan sesudah pemanasan di oven 120oC. Langkah awal adalah membuat biofilm pada reaktor dengan bahan limbah cair diisi 75% dari volume reaktor, kondisi siap yaitu diketahui dari pengecekan kadar COD tiap 2 hari sekali dengan setiap kali pengecekan dilakukan penambahan urea  46% sebagai sumber nutrient dan jika kadar COD berkurang dari mula - mula maka reaktor siap digunakan (anaerob 6 - 12 minggu dan aerob waktu lebih cepat).

"Media that used are smooth sand (45 cm), rude sand (10 cm),  small stone (15 cm) and activated carbon (30 cm) which had been prepared after heating in the oven 120 oC. Initial step is creating biofilm in reactor with liquid waste that filled 75% of reactor volume, ready condition is known from checking COD degree every 2 day with checking adding urea 46 % as nutrient source and if COD degree drop from initial so reactor ready used (anaerobic 6 - 12 week and aerobic faster time)."


Sumber :
- Kasam dkk. Penurunan COD di limbah cair. FTSP UII
- Mirwan, A dkk. Penurunan kadar COD, BOD, TSS, CO2 menggunakan tangki aerasi bertingkat. Teknik kimia univ. lambung mangkurat
- Sayekti, RW. Studi efektifitas penurunan kadar COD limbah cair dengan RBC
- http://www.academia.edu/3320682
- Suligundi,BT. Penurunan kadar COD dengan biosand filter dan activated carbon. Teknik lingkungan univ. tanjungpura
- http://www.mcmurrayrotary.com/SandFilters.cfm

Thursday, 19 June 2014

Racun Rumput Semi Organik

Penelitian terbaru banyak terlihat penggunaan bahan organik untuk racun rumput, dimana bahan organik diambil dari ekstrak tumbuhan yang ada di sekeliling kita. Namun dilihat dari ke efektifan (manjur / tidaknya) dan efisien (waktu reaksi cepat / tidak) masih kalah dengan bahan anorganik. Bahan organik memang berkhasiat pelan karena memang aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Memang pemerintah sekarang terus menggalakkan penggunaan bahan alternative yang ramah lingkungan untuk menekan ketergantungan herbisida anorganik.

Melihat kondisi seperti itu kami mencoba membuat formula yang menggabungkan kedua prinsip diatas dengan meminimalisir penggunaan bahan anorganik. Setelah melakukan riset sekian lama kami menemukan formula racun rumput semi organik pertama di Indonesia yaitu " Stolonifer" (R2SN). Formula ini adalah terobosan baru dalam pembasmian gulma pengganggu yang memiliki keefektifan tinggi dan keefisienan yang dapat diacungi jempol. Kombinasi dari bahan organik dan anorganik merupakan racikan tepat yang digunakan untuk mengurangi sifat racun rumput berbahaya.

HERBISIDA "STOLONIFER" (R2SN)

Kini hadir herbisida semiorganik yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Dengan teknologi sederhana namun menghasilkan kualitas yang luar biasa kami mencoba melakukan riset dan ditemukanlah formula racun rumput "STOLONIFER" (R2SN). Formula ini memiliki beberapa keunggulan namun juga kelemahan seperti : tingkat keborosan, karena bahan berbahan dasar dari organik (ekstrak tumbuhan dan rempah - rempah) dan anorganik (low grade / food grade) maka efek pelan dan tidak langsung keliatan jreng sekejap seperti bahan anorganik berbahaya yang dijual di pasaran., sehingga tingkat pengenceran juga rendah karena konsentrat maksimum didapatkan pada kondisi tersebut.

Semoga para konsumen sadar betapa efek kesehatan jangka panjang sangat menentukan kehidupan kita dan juga ekosistem akan terganggu jika menggunakan bahan berbahaya. Dengan menggunakan formula tersebut kami jamin gulma pengganggu akan musnah dalam hitungan jam dan ekosistem tetap aman. Dari sekian herbisida / racun rumput yang dijual di pasaran belum ditemukan racun rumput yang benar - benar organik karena jika murni organik maka efek sangat pelan dan penggunaan akan boros, maka dari itu kami mencoba menggabungkan bahan sehingga didapatkan resep tepat untuk membasmi gulma.

Racun Rumput Berbahaya

Racun rumput yang banyak dijual di pasaran umumnya mengandung senyawa GLIFOSFAT dan PARAQUAT tingkat tinggi untuk zat aktifnya, namun tahukah anda jika zat kimia tersebut sangat berbahaya untuk ekosistem dan tubuh kita. Menurut Dr. Mae-Wan Ho dan Professor Joe Cummins pada bulam Maret 2005 dari Institute of Science in Society, London mengemukakan bahaya dari zat tersebut yaitu bisa menyebabkan keguguran kandungan. Inilah daftar bahaya dari senyawa diatas :
  • Berbahaya bagi Plasenta Manusia dan Menyebabkan Keguguran Kandungan
  • Mimisan
  • Iritasi Mata / Penglihatan Kabur
  • Infeksi Kulit
  • Iritasi Kulit / Kulit Gatal
  • Kulit Melepuh
  • Warna kuku Memudar / Kuku Mudah Copot
  • Perlukaan Daerah Perut
  • Pencemaran Ekosistem dan Air
  • Kesulitan Bernafas / Pusing
  • Mual
  • Menyebabkan Kerusakan DNA / Gen
  • Gangguan Endokrin
  • Kematian Sel
  • Sperma Rendah / Infertilitas
  • Kanker Testisl 
Sekarang penggunaan zat kimia diatas mulai dikurangi dan banyak riset tentang bahan alternatif yang dipakai untuk racun rumput / herbisida yang ramah lingkungan. Banyak riset di  lapangan menggunakan bahan organik namun efeknya sangat pelan dan cenderung tidak berfungsi maksimal, sedangkan bahan anorganik jika dipakai berlebihan akan berbahaya bagi ekosistem dan tubuh kita.
Kini dengan berlatar belakang masalah tersebut, kami melakukan riset dengan berbagai variabel percobaan dan akhirnya ditemukanlah formula Racun Rumput "Stolonifer" (R2SN) yang memiliki beberapa keunggulan. Riset ini sudah kami ujikan di laboratorium pertanian di Jawa Timur dan telah direkomendasikan untuk di produksi massal.


Sumber :
http://www.downtoearth-indonesia.org/id/story/penggunaan-pestisida-di-perkebunan-kelapa-sawit
http://bsi-bali.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Glifosat
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2013/04/16/roundup-monsanto-sebabkan-cacat-lahir-546670.html

    Membasmi Gulma dengan Herbisida


    GULMA / ILALANG adalah sejenis tanaman atau rumput - rumputan yang tumbuh menganggu di area ladang, sawah atau pertanian. Gulma ini tumbuh karena lingkungan yang ditumbuhi banyak nutrien yang bisa disebabkan karena petani kebanyakan menggunakan pestisda, pupuk dan herbisida. Karena faktor pendukung itulah gulma tumbuh subur menganggu tanaman inti karena akan berkompetensi merebutkan unsur hara tanah. Gulma tumbuh karena biji yang terbang bersama angin, ikut aliran air maupun melekat pada bulu hewan.

    Para petani biasanya membasmi gulma ini dengan herbisida yang bayak dijual di pasaran seperti round up, gramoxone, basmilang dll, dimana senyawa pengaktifnya dalah Glifosfat / Paraquat dan anda tahu sendiri kan akibat dari zat kimia tresebut, lihat DISINI. Dampak lain dari penggunaan zat kimia tersebut adalah gulma menjadi tahan / resisten terhadap herbisida sehingga dari penyemprotan ke penyemprotan berikutnya selalau naik dosisnya, ini bisa menyebabkan residu yang tertinggal di tanah menjadi besar dan bila terikut aliran air dan mengalir ke sungai bisa menyebabkan pencemaraan air dan jika terkonsumsi oleh manusia bisa menybabkan bahaya. Disisi lain, bila paparan zat kimia mengenai tanaman inti dengan dosis besar bisa menyebabkan racun bagi tubuh bila dimakan. Penggunaan yang terus menerus dengan dosis yang terus semakain besar menyebabkan biaya pengeluaran juga besar  dan ini sangat tidak diinginkan petani.

    Melihat pengalaman langsung di lapangan dan ingin mengembangkan budidaya pertanian agar terjadi peningkatan kualtas, maka kami bersama tim riset melakukan uji coba bioherbisida dibalut anorganik untuk memperbaiki kualitas tanah jika ada residu yang tertinggal. Kami mencoba berbagai variable dan penelitian mendalam sampai akhirnya ditemukanlah formula racun rumput / herbisida dengan brand name “Stolonofer(R2SN)” yang memiliki banyak keunggulan. Produk kami berani disandingkan dengan herbisida lain tapi yang pasti kami tidak menggunakan zat kimi berbahaya dan produk kami ramah lingkungan.

    Racun Rumput "STOLONIFER" (R2SN)

    Racun rumput "STOLONIFER" (R2SN) adalah herbisida semiorganik ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia karena zat aktif berupa fasa gas yang hilang saat disemprotkan dan teruapkan terkena panas. Stolonifer R2SN tidak mengandung zat kimia berbahaya seperti herbisida lainnya yang terjual bebas di pasaran. Formula ini diracik dengan keakuratan zat kimia organik dan anorganik yang tinggi.

    KEUNGGULAN :
    • Herbisida dengan ZAT AKTIF GANDA (kontak & sistemik) ---> Kontak adalah aktif membasmi gulma saat kontak antara zat dengan sasaran sedangkan Sistemik adalah aktif membasmi gulma dengan merusak jaringan. Jadi dengan kelebihan ini gulma akan musnah seketika dan dilanjutkan dengan perusakan jaringan sehingga akan sangat ampuh sebagai racun rumput 
    • Zat aktif berfasa GAS dan reaktif saat kontak dengan udara / panas ---> Dengan fasa gas yang mudah teruapkan berarti produk ini tidak meninggalkan residu berbahaya karena saat penyemprotan zat aktif akan hilang teruapkan 
    • Herbisida SEMIORGANIK ramah lingkungan ---> perpaduan zat kimia organik (berasal dari ekstrak tumbuhan & rempah - rempah hasil alam) serta anorganik (berasal dari zat kimia low grade / food grade) namun dengan kecanggihan teknologi riset dipadukan menjadi zat aktif sebagai racun rumput berkualitas tinggi 
    • LEBIH AMAN untuk tanaman inti karena tidak meninggalkan residu kimia berbahaya tapi justru menambah unsur hara tanah MAKRO (Na, S, C, H, O) dan MIKRO (Fe, Zn, Cu, Cl) ---> Jadi sewaktu disemprotkan ke gulma, tanaman inti tetap hidup dan justru mendapat asupan unsur hara sehingga tanah menjadi subur dan tanaman inti tumbuh dengan baik 
    • pH 6 - 7 sehingga tidak mengganggu struktur dan komposisi tanah ---> Dengan pH netral maka tanah tidak akan terganggu struktur dan komposisinya karena banyak bahan kimia di pasaran seperti pestisida yang bersifat asam / basa dan jika diterapkan akan menganggu keseimbangan tanah 
    • Efek CEPAT ± 4 - 5 jam ---> Sewaktu diaplikasikan ke gulma, efek zat aktif kontak langsung keliatan nyata ± 4 - 5 jam sedangkan zat aktif sistemik ± 2 - 3 hari 
    • Tidak merusak EKOSISTEM lahan ---> Karena dibuat dari bahan semiorganik dan pH netral maka ekosistem tidak akan terganggu karena bebas dari residu berbahaya 
    • Tidak merusak JARINGAN / SEL MANUSIA jika terkena paparan
    CARA PAKAI :
    • DOSIS RENDAH untuk golongan rumput ber-stolon (akar menjalar), teki - tekian, alang - alangan, berdaun sempit & rumput dengan diameter batang < 1 cm 
                      ---> 1 Botol R2SN + 3 Liter Air (1 R2SN: 3 Air)
    • DOSIS TINGGI untuk golongan rumput ber-rhizoma (akar tinggal / rimpang), jahe - jahean, berdaun lebar, rumput beruas dengan diameter batang > 1 cm
                      ---> 1 Botol R2SN + 3 Liter Air (1 R2SN: 3 Air)
    (Dosis bisa menyesuaikan jenis rumput & kecepatan reaksi)