Trending Topik

Pengalaman Memakai Ekspedisi POS KILAT KHUSUS

Diposting oleh On Thursday, May 06, 2021

Awal kedatangan Shopee, disinilah PT Pos Indonesia (persero) juga melakukan perombakan besar-besaran terhadap manajemen-nya karena POS sedang sakit dan masih mengandalkan pemasukan dari cara kuno yaitu menjual materai, transaksi uang pensiun, pengiriman uang dan pengantaran paket yang sangat mahal dan lama walaupun memiliki kelebihn yaitu bisa menjangkau wilayah seluruh Indonesia sampai terpencil-pun. DIRUT POS yang baru ketika sudah dilantik pernah menjadi pembicara di kantor penulis dan beliau men-sharing-kan open-mind terhadap generasi old jajarannya dimana harus mulai go digital dan mengikuti perkembangan jaman. Sudah harus menerapkan kecepatan, kepuasan, murah dan berkualitas karena diluar sudah ada kompetitor yang sudah memberikan kesemuanya itu.

Penulis mengamati di semua marketplace sudah mulai menambah POS untuk jenis ekspedisi-nya. Biaya ongkir-pun sangat jauh lebih murah dibandingkan kompetitor bahkan JNE, J&T dilibasnya tiada ampun dan harus bersiap berbagi konsumen dengan POS. Selisih yang hampir 30-50% inilah yang membuat POS melejit dan ini dianalisa penulis merupakan strategi manajemen baru untuk merebut pasar ekspedisi di Indonesia. Strategi ini sangat jitu dan banyak masyarakat yang tertarik menggunakan jasa ekspedisi POS dan penulis sendiri juga tertarik menggunakannya karena dari harga jauh lebih murah dan waktu estimasi sampai yang diberikan juga sama dengan ekspedisi reguler lainnya. Penulis mencoba 2x dengan ekspedisi POS di 2 marketplace berbeda untuk pengantaran paket di desa wilayah Blitar. Ongkir-nya sangat murah 30% dari reguler lain dan waktu estimasi yang diberikan juga sama dengan ekspedisi lain yaitu 2-3 hari. Ceritanya paket setelah kurang lebih 5 hari sejak pembelian tidak sampai dan dari tracking berhenti di Blitar Kota, padahal reguler lain umumnya 2-3 hari sampai karena kami sangat sering belanja online. Penulis khawatir dan menghubungi pihak marketplace untuk melakukan pelacakan dan juga konfirmasi ke penjual untuk membantu info ke POS. Marketplace mengarahkan penulis untuk menghubungi Costumer Service POS langsung sedangkan respon penjual tidak ada, sehingga penulis sendiri yang konfirmasi ke POS. Setelah konfirmasi, kami dihubungi via whatsapp betapa kagetnya bahwa paket telah dibawa oleh kargo lain dan sedang ada di Blitar Kota. Kargo tersebut menawarkan diambil langsung atau diantar dengan konsekuensi lama menunggu arah ke alamat yang sama. Jarak antara alamat penulis dan Blitar Kota sekitar 20 km sehingga penulis memilih diantarkan. Akhirnya sampailah paket di rumah penulis dalam waktu +/- 7 hari dari alamat penjual di Surabaya. Masih belum kapok juga, penulis masih percaya akan kinerja BUMN ini yaitu sekali lagi memakai jasa itu untuk pengiriman dari marketplace di Surabaya yang dikirim ke alamat di desa wilayah Blitar lagi alamat sama. Sekali lagi, ternyata mendapatkan kesimpulan bahwa POS tetap menggunakan join dengan kargo/wahana pengantaran lain untuk sampai ke alamat pembeli.

Berdasarkan pengalaman penulis tersebut bisa disimpulkan bahwa POS bisa murah dalam hal ongkir karena manajemen pengantaran hanya berpusat di level maksimum kecamatan saja sedangkan desa kemungkinan di sub-kan ke kargo/wahana pengantaran lain untuk menghemat biaya transportasi. Karena terdapat peralihan ekspedisi ini berpotensi waktu sampai ke alamat menjadi mundur dan bisa berpotensi terlambat dalam hal pelacakan karena beda bendera manajemen. Penulis cukup mengapresiasi langkah gebrakan manajemen baru POS ini namun masih kecewa dengan pelayanan dan janji estimasi sampai yang diberikan. Penulis berharap agar POS bisa memperbaharui sistem sehingga bisa bersaing layanan dengan swasta, karena jujur kami sebagai pembeli sebenarnya lebih yakin terhadap BUMN yaitu POS ketika pelayanannya sama-sama memuaskan. Semoga POS bisa berjaya seperti dahulu kala ketika masa-masa remaja penulis yang sangat suka berkirim surat via materai dan mengharapkan pak POS datang lagi kerumah membawa balasan isi surat (kenangan generasi Y yang sangat indah).

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Hati-Hati Banyak Investasi Bodong Berkeliaran di Tahun Digital IT ini

Diposting oleh On Sunday, April 25, 2021

Tahun digital IT ini, hampir 100% orang didunia memiliki smartphone sehingga bisa dimungkinkan setiap hari mengakses internet untuk melihat berita atau media sosial. Iklan juga marak dilakukan di internet (online) ketimbang offline (TV, koran, majalah dll) sehingga seorang yang kurang jeli dan kritis terhadap informasi akan mudah termakan hoaks  Seperti kita lihat sekarang ini, banyak sekali platform investasi yang dijual seperti forex, kerjasama mitra seperti yang baru-baru ini sedang bermasalah adalah bisnis sarang lebah madu klanceng. Iklan yang masif dan menggandeng tokoh serta artis membuat masyarakat terhipnotis untuk mengikutinya, padahal semuanya adalah investasi bodong dan hanya berjualan.

Investasi tidak ada yang namanya instan dan semuanya membutuhkan proses namun di iklan-iklan ditawarkan return yang sangat menggiurkan seperti return 30%/tahun bahkan 30%/bulan. WOW sekali bukan misalnya investasi ini benar-benar real. Sebagai contoh saja deposito return 4.5-5%, reksadana 6-20%, obligasi 8-11% dan saham yang sangat fluktuatif. Ketika ada iming-iming return yang sangat jauh dari semua investasi tersebut tentu sangat menggiurkan dan ingin bergabung. 

Cerita riil di desa tempat kampung masa kecil penulis berada, terdapat investasi money game dengan return 30%/bulan dan banyak masyarakat yang ikutan investasi sampai menjual sawah dan sapi-nya. Tidak tamggung-tanggung keikutsertaan masyarakat ini yaitu 200-300 jutaan. Sistem bagi hasil adalah per bulan mendapat profit dengan uang pokok tetap, sehingga per bulan investor mendapatkan terus dana segar sampai mereka berani mencicil mobil dan bulan berikutnya ternyata sales agent menghilang dan investor jelas-jelas raib uang mereka. Bahkan ada pemilik bengkel yang sukses harus gulung tikar dan pindah keluar jawa untuk mengadu nasib.

Tahun 2021 ini yang lagi booming di berita yaitu investasi stup (kotak) rumah lebah klanceng. Dimana mitra harus membeli kotak lebah yang disegel dan iming-iming per 3 bulan mendapatkan 30% profit dari pokok. Sangat menggiurkan bukan?? namun yang aneh disini adalah kotak lebah disegel dan jika dibuka maka garansi dibeli kembali hangus. Selain itu, cukup mustahil madu klanceng bisa dihasilkan secepat itu. Mencurigakan lagi, darimana uang si pengepul ketika harus memberikan return terus-menerus sedangkan madu saja sangat sedikit dihasilkan, apa tidak bisnis bodong "crowd funding", dimana ujung-ujungnya pemberitaan bahwa uang investor 90M dibawa lari oleh kepala koperasi.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi Penulis pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Hutang Apakah Selalu Berkonotasi Negatif || Contoh Hutang Indonesia yang Ribuan Trilyunan

Diposting oleh On Friday, April 23, 2021

Dalam ilmu ekonomi, cashflow dihitung berdasarkan pengeluaran dan pemasukan dan akan menjadi neraca positif ketika pemasukan > pengeluaran. Pemasukan sendiri bisa dikategorikan sebagai penjualan, piutang, royalti, hak cipta dll sedangkan pengeluaran bermacam-macam. Detail bisa dibaca di: Analisa Laporan Keuangan Laba-Rugi Perusahaan. Penulis yang pernah belajar manajemen ekonomi mendengar statement perusahaan yang tidak punya hutang berarti perusahaan/keuangan sedang sakit. Mengapa demikian?? karena ketika perusahaan tidak punya hutang berarti cashflow sedang tersendat yang bisa menandakan penjualan dan piutang tidak lancar. Ini disebabkan karena setiap penjualan ke pembeli akan terbayarkan dengan sistem termin periodik dan tidak serta-merta cash/tunai sehingga inilah yang menyebabkan perusahaan sehat pasti memiliki hutang berjalan karena adanya konsumsi dan pemasukan dalam proses berjalannya perusahaan.

Apakah jika tidak punya hutang pasti rugi?? tidak, hanya dibilang "sakit" yang dalam artian terdapat sesuatu yang kurang produktif misalnya penjualan turun, pembayaran termin mundur, konsumsi kecil, dan ketika memegang kas terlalu banyak akan menurunkan value-nya karena terkena inflasi. Apakah jika punya hutang selalu disebut keuangan sehat?? ada batas-batas wajar hutang disebut aman, ketika kewajiban uang yang harus dibayarkan < nilai produksi yang akan dihasilkan dalam jangka waktu pendek. Jangka waktu ini bisa bermacam-macam misal untuk perusahaan (<10 tahun), untuk pribadi (<5 tahun) dan untuk negara (30-50 tahun).

Bagaimanakah dengan hutang Indonesia ribuan trilyun?? pernah ada hitung-hitungan oleh para pakar bahwa setiap kepala warga Indonesia harus menanggung hutang sekian juta dan jika di-kurs-kan dengan produksi maka SDA alam Indonesia bisa terkeruk habis hanya untuk membayar hutang tersebut. Hutang Indonesia dari tahun ke tahun dan dari masa presiden ke presiden semakin meningkat, serta prediksi pakar bisa terlunasi dalam jangka ratusan tahun. Jika dianalisa lebih dalam maka hutang Indonesia sudah terlalu besar dan tidak sehat untuk negara, karena hal ini untuk menjaga SDA Indonesia agar tidak dikeruk asing habis-habisan dengan dalih untuk membayar hutang.

Mengapa hutang Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun dan dari masa presiden ke presiden?? karena Indonesia masih dalam tahap berkembang ke maju dan setiap pendapatan masih digunakan untuk pemerataan pembangunan dan penanggulangan kemiskinan. Banyak investor penghutang yang ingin masuk ke Indonesia karena pertimbangan Indonesia adalah salah satu konsumen terbesar di dunia. Negara-negara penghutang tersebut ingin dibayarkan dengan sumber daya mentah hasil alam Indonesia. Apakah pembayaran tersebut setimpal atau menguntungkan asing?? silakan cari jawaban di media dan youtube sangat banyak pembahasan tentang hal tersebut, misalnya saja PT Freeport yang dibayarkan hanya tembaga pada setiap tambang mentahnya padahal jika diekstrak terdapat emas, perak, mangan, nikel dll (ini gratis lari ke asing) belum lagi rare earth (tanah jarang) seperti uranium, plutonium, palladium dll yang sangat baik untuk energi dan komponen elektronik tidak diperhitungkan dalam perdagangan.

Mengapa dari masa ke presiden ke presiden, permasalahan hutang ini tidak tuntas?? ini karena sistem pemilu Indonesia yang hanya 5 tahun dan diperpanjang 10 tahun masa jabatan, dimana pejabat masih berfokus bagaimana cara menjabat kembali sedangkan grand plan pembangunan setiap ganti presiden akan terus berubah dan kecenderungan tidak mau meneruskan. Masa yang terbatas ini memang bagus untuk transparansi dan menghindarkan dari KKN dan kediktatoran namun untuk pembangunan Indonesia berkelanjutan harus diiringi grand plan lurus jauh kedepan siapapun yang menjabat sehingga target demi target bisa dicapai dan Indonesia bisa tuntas masalah ekonomi dan tidak terikat oleh kedaulatan asing.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

MLM yang Dijual Mimpi Bukan Produk || Quote Salah Satu Trainer Terkenal dan Pengalaman Pribadi

Diposting oleh On Thursday, April 15, 2021

MLM (Multi-Level Marketing) adalah strategi berjualan dengan sistem saling merekrut pelanggan dan mewajibkan anggotanya harus membeli produk dengan kisaran nominal tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dari sini sudah aneh kan?? menguntungkan si produsen karena supply chain produk akan terus mengalir karena dipaksa sedangkan anggotanya akan terbebani dengan kewajiban pembelian produk sehingga harus memutar otak untuk merekrut anggota lain untuk menjadi kaki dan aliran produknya bisa terjual ke kakinya.

Seiring berkembangnya teknologi, MLM tidak lagi mewajibkan pembelian namun mewajibkan memasarkan yang kurang lebih juga sama dapa target. Lagi-lagi ini merupakan strategi halus di marketing produsen untuk membuang produk yang mereka produksi ke pasaran. Melihat fenomena ini , kami mencoba melihat di youtube perbincangan antara Helmy Yahya dan Chandra Putra Negara yang mengatakan bahwa yang dijual MLM adalah mimpi bukan produk. Mereka meng-analogikan coca-cola berjualan, apakah banyak pembeli atau penjualnya. Tentu banyak pembeli kan dan berbeda dengan MLM banyak penjual sepi pembeli sehingga hanya mimpi-mimpi besarlah yang ingin mereka capai. Kami pribadi sangat setuju karena mengalaminya sendiri.

Ketika kami masih kuliah sering banget diajak teman-teman bertemu dengan alih-alih "mangan enak-ngombe legi", alih-alih "diajak bekerja menghasilkan uang", alih-alih diajak mengikui seminar gratis. dan semuanya adalah jebakan, kami mengalaminya sendiri. Ketika itu ada anggota MLM mengajak mangan enak-ngombe legi dengan tempat di salah satu lesehan di Kota Blitar. OK lah karena kami pikir tempatnya di lesehan pasti setidaknya diajak makan walaupun tidak punya uang maka kamipun berangkat. Tibalah kami bersama anggota MLM di lesehan yang dituju, melewati gubuk lesehan satu persatu (kami curiga kok tidak mampir malah jalan terus) dan ternyata tempat pertemuan ada di gedung belakang (Jancuk bener sistem penipuannya ini). Kemudian kami diminta registrasi untuk masuk dan mewajibkan 10 ribu per kepala untuk konsumsi snack dan minum (Jancuk lagi kami berfikiran mangan enak-ngombel legi gratis teryata malah harus membayar) dan didalamnya ada motivaor yang dalam ceritanya sudah mendapatkan BMW mewah setelah bergabung selaam 5 tahun (karena kami tidak bodoh dan berpendidikan tinggi maka berfikiran ini orang bayaran dan diminta menjual mimpi ke anggota MLM, orangnya keturunan chinese dan pastinya seorang sales dan marketing trainer). Disana audio dibuat semangat juang dan seminar motivasi untuk berjualan terus digalakkan dan diakhir sesi semua anggoa MLM yang berjas dan berdasi rapi bak big boss naik panggung untuk ditepuki dan dibacakan level MLM-nya (terlihat gagah, berwibawa dan tentunya dalam pikiran yang sudah terhipnotis mereka akan memiliki kekayaan instan pasif income). Sesi terakhir anggoa MLM melakukan FGD interview ke anggota yang dibawa, termasuk kami di-interview oleh angggota MLM level atas (istilahnya sedang di-prospek). Kami ditanyai detail tentang latar belakang dan pemahaman tentang seminar tadi. Kemudian dengan sedikit memaksa mau minta KTP untuk didaftarkan dan kami-pun menolak dengan halus mengatakan mau dipelajari terlebih dahulu baru kalau OK akan daftar dengan sendirinya. Jjancuk lagi kan, betapa jika itu oarang desa dan pendidikan rendah apa tidak otomatis terdafar dengan paksaan semacam itu. Kami berharap regulasi pemerintah harus ketat terhadap praktek bisnis mimpi MLM ini.

Pengalaman lainnya yaitu sudah sering kali kami dijebak untuk ditemukan dengan anggoa MLM, dengan dalih mau sharing pengalaman sukses, bisnis dan lagi-lagi Jancuk beneran anggoa MLM seperti ini tidak ada habis akal untuk mencari mangsa karena kami sendiri tahu dia sedang banyak menimbun barang dan belum terjual (karena ada kewajiban per bulan harus belanja minimal). Tidak kapok juga, kali ini dia membawakan buku "Cash Flow Kuadran" karya Robert Kyosaki yang menunjukkan 4 kuadran dimana posisi kita apakah harus berkerja keras menjadi karyawan dengan penghasilan active income apa menjadi pasif income sampai tua dan bisa diwariskan. Lagi-lagi yang dijual MLM adalah mimpi karena banyak yang jadi penjual dan minim pembeli padahal namanya berdagang sukses adalah banyak pembelinya.

Cerita ini tidak berhenti disitu, di lain hari kami dibawakan ensiklopedia yang berisi pendapat pakar dan dokter tentang khasiat produk mereka dan apakah kami tergiur ?? ceramahlah malah ke mereka kami ajari inilah strategi marketing kalau kalian ingin kaya ya harus berusaha dan kalian anggoa MLM inipun juga sedang berusaha, jadi kalau banyak yang berhasil akan menjadi rebutan padahal yang sukses hanya segelintir orang yaitu kaki bagian atas saja (agent yang sudah dibuat) dan kalian-kalian adalah kaki ang dikorbabkan unk mencari pasar dan tidak akan pernah mencapai target bahkan modal kalian akan habis karena harus membeli barang yang tidak kalian butuhkan.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi Penulis pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Hati-Hati Terhadap Monopoli Shopee || Merampas Hak Konsumen Memilih Jenis Ekspedisi yang Diinginkan

Diposting oleh On Tuesday, April 06, 2021

Mulai awal April 2021, Shopee memberlakukan kebijakan ekspedisi pengiriman yang disembunyikan dan hanya tersedia paket reguler, hemat, same day, instant dan kargo. Kali ini pembeli tidak bisa memilih lagi jenis ekspedisi, dimana sebelumnya masih bisa diganti ketika check-out telah dilakukan. Sebagai konsumen cerdas, kita semua harus kritis terhadap kebijakan-kebijakan baru tersebut apakah menguntungkan kita atau Shopee. Kita ulas bersama potensi Shopee akan melakukan monopoli sepihak yang membuat UMKM di antara marketplace menjadi tidak sehat, sebagai berikut:

  • Kehadiran Shopee Pay yang masif dengan iklan dan masuk ke semua pembayaran di outlet dengan diskon gila-gilaan membuat semua orang install aplikasi ---> potensi monopoli sistem pembayaran
  • Shopee tidak hanya menerapkan diskon gila-gilaan di outlet offline kerjasama, namun di semua lini transaksi elektronik menerapkan diskon gila-gilaan seperti pulsa HP, listrik, tagihan bulanan dan tiket ---> potensi monopoli marketplace
  • Shopee memiliki nama ekspedisi sendiri yaitu Shopee Standard Expess, dimana kita tidak tahu harga yang bisa dibandingkan dengan ekspedisi di marketplace lain ---> potensi monopoli ongkos kirim
  • Shopee menerapkan tidak bisa memilih jenis ekspedisi dan penjual yang bisa memilih/random oleh sistem dan harga untuk semua ekspedisi di paket setara adalah sama misalnya reguler (J&T, JNE, Anteraja, Sicepat, Ninja Xpress, ID Express) padahal kita semua sudah tahu bahwa tidak semuanya memiliki target waktu sampai yang sama karena fasilitas pengantaran yang belum memadai dan masih join antara beberapa pihak. Berdasarkan hal ini bisa terlihat bahwa Shopee seolah sedang mencari dana pemasukan lewat selisih ongkir dimana konsumen tidak sadar telah diarahkan ke ekspedisi tertentu ---> potensi monopoli terhadap hak konsumen untuk memilih ekspedisi
Monopoli dalam marketplace membuat tidak sehat perdagangan online di Indonesia, karena tidak ada lagi balance perbandingan baik produk, harga, ongkir, fasilitas dll. Memang sebenarnya konsep bakar-bakar uang dan iklan yang masif adalah siapa yang kuat dia yang menang dan yang kalah akan tidur serta monopoli inilah tujuan akhirnya. Detail lengkap sudah dibahas di artikel: Mengapa Platform Digital Bakar-Bakar Uang??. Shopee akhir-akhir ini perlu diwaspadai dengan adanya perampasan hak memilih jeis ekspedisi konsumen, karena konsumen-lah yang tahu betul ekspedisi apa yang bisa sampai rumahnya, dimana rumahnya ada di desa, tidak bernomor dan hanya ada RT RW. Pengalaman penulis sendiri untuk paket yang dikirim ke Desa di Blitar selain J&T dan JNE sangat bingung dan lama sekali sampai ke rumah, itupun mereka harus telepon dan whatsapp dulu untuk minta share location (padahal alamat permanen sudah lengkap sesuai petunjuk yang tersimpan di marketplace). Berkaca dari itu, ketika konsumen dipaksa untuk memakai jasa pengiriman random maka tinggal tunggu saja potensi kecewa-nya nanti. Kecewa ini tidak hanya ke pembeli karena barang sampai lama dan penjual karena mendapat rating negatif karena pemilihan ekspedisi yang tidak sesuai keinginan dan sampai lama.
Disini penulis sebagai pengamat dan pengguna jual-beli di semua marketplace dan selalu memberikan edukasi dan wawasan dengan sebenarnya. Sebagai konsumen harap hati-hati terhadap monopoli Shopee ini, dilihat dari aktifitasnya sudah akan mengembalikan uang dari bakar-bakar mereka yang masif dahulu. Sebagai konsumen kita harus bijak bisa memilih antara 3 marketplace yaitu Bukalapak, Tokopedia dan Shopee, dimana dengan adanya kebijakan perampasan hak memilih ekspedisi tersebut patutlah melirik ke pesaingnya yaitu Bukalapak dan Tokopedia yang masih sehat.

Referensi:
[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Shopee Bersiaplah Disalip Bukalapak || Kebijakan Sepihak yang Berpotensi Merugikan Pembeli

Diposting oleh On Thursday, April 01, 2021

Akhir-akhir ini, Shopee menerapkan sistem yang cukup blunder dengan membuat sistem pengiriman ekspedisi yang disembunyikan. Shopee menerapkan ada 4 tipe jenis pengiriman ekspedisi yaitu instan, reguler, hemat, instan, same day dan kargo. Jadi pembeli serasa dipaksa untuk memakai ekspedisi mitra Shopee dan disinilah celah bakar-bakar uang Shopee mulai panen, dimana dulu sangat suka membagi program gratis ongkir + cashback. Secara tidak sadar pembeli akan kecanduan ekspedisi yang bisa menerapkan gratis ongkir, namun setelah kami selidiki dan dibandingkan dengan marketplace lain ternyata biayanya sudah di mark-up 80-100%. Sehingga ketika program gratis ongkir + cashback sudah tidak ada maka pembeli akan menganggap biaya kirim yang ada di Shopee adalah normal dan sama dengan marketplace lain, padahal sangat-sangat mahal. Dari situ bisa dianalisa bahwa bakar-bakar uang diawal akan kembali dengan  tidak sadarnya pembeli memakai ekspedisi mitra yang dipakai Shopee.


BACA JUGA: Bukalapak Selanjutnya akan Menjadi Bisnis Apa??

Akhir-akhir ini, dengan penerapan pembeli tidak bisa memilih ekspedisi merupakan senjata Shopee untuk mengembalikan modal besar-besaran atas beberapa program menggaet konsumen di awal. Shopee sudah seperti monopoli semuanya dan ini tidak sehat lagi dalam dunia marketplace dan harus dilakukan kontrol. Ekspedisi yang disembunyikan dan harga yang tidak wajar tersirat Shopee sedang menggali uang dari pembeli. Selain itu, Shopee sedang bermain bisnis di lini ekspedisi ini, dengan harga yang tidak bisa dibandingkan dengan marketplace lain seperti Shopee Standard Express. Monopoli bisnis di semua lini dari hulu sampai hilir membuat pasar di marketplace tidak sehat lagi dan pembeli harap berhati-hati serta cerdik membandingkan biaya kirim karena secara alam bawah sadar dulu memang program menggaet pembeli Shopee sangat besar seperti Gratis Ongkir + Cashback yang sampai-sampai marketplace lain collabs ketinggalan jauh.

BACA JUGA: Dengarlah Bukalapak, Kamu Masih Bisa Bangkit Lagi!!

Melihat fenomena ini, kami mencoba membandingkan biaya ongkos kirim antara Shopee dengan Bukalapak dan Tokopedia, dimana untuk pengiriman reguler di Shopee 12.000, di Bukalapak dan Tokopedia hanya 8.000 dan ada lagi ongkir di Shopee 23.000 dan di Bukalapak serta Tokopedia hanya 12.000. Berawal dari pengalaman ini kita sebagai pembeli harap hati-hati terhadap strategi Shopee untuk mengembalikan modal atas bakar-bakar uangnya dulu.

BACA JUGA: Pengalaman Jual Beli Online di Marketplace Bukalapak

Berawal dari sini, penulis mencoba menganalisis karena sebagai pembeli dan penjual di era digital yang semuanya transparan dan sangat mudah diakses maka Bukalapak akan bisa bangkit kembali. Mengapa hal ini bisa?? kami melihat dari server Bukalapak sudah dibenahi yaitu tidak lelet lagi dan semua chat yang masuk ketika dibuka langsung fast loading. Sisi pilihan ekspedisi juga masih transparan beserta biaya kirim yang wajar sehingga pembeli tidak dipaksa untuk ikut monopoli dan ikut aturan sepihak. Sisi lainnya yang diperbaiki adalah gratis ongkir + cashback juga tidak tanggung-tanggung, dimana dulu program tersebut di Bukalapak hanya sebagai sampah yaitu Rp 100 dan maksimal Rp 1000. Namun masih terdapat kekurangan Bukalapak agar segera bisa bangkit adalah barang yang dijual sangat sedikit dan inipun juga karena program manajemen baru yang salah, dimana menon-aktifkan barang yang tidak laku selama 6 bulan terakhir. Seandainya barang dilepas bebas lagi di pasaran maka penulis yakin akan bergairah transaksi di Bukalapak, karena sebagai penulis barang yang tidak laku itu ya kami tetap menunggu ada pembeli, tidak serta merta barang sampah. Semoga dengan beberapa masukan ini Bukalapak bisa bangkit kembali dan ada persaingan sehat antar 3 marketlace yaitu Shopee, Bukalapak dan Tokopedia.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Pengalaman Asuransi Kesehatan BPJS dan Konsep Gotong-Royong Serupa yang Lebih Baik

Diposting oleh On Thursday, February 18, 2021

Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis sendiri pada keluarga yang telah didaftarkan dan menjadi anggota BPJS kesehatan sudah sekitar 2-3 tahun. Tulisan ini dideskripsikan sejelas-jelasnya tanpa direkayasa dan semoga menjadi masukan yang bermanfaat bagi kita semua, win-win solution antara rakyat dan pemerintah.

BPJS kesehatan telah digunakan oleh penulis untuk mendafarkan ibu dan 2 adik kandung, dimana ibu kelas I dan 2 adik kelas III. Kala itu belum ada sistem pembayaran per-KK namun ketika membayar harus per nomor identitas masing-masing anggota yang didaftarkan. Kira-kira kala itu, kelas I sekitar 80 ribuan dan kelas 3 sekitar 25 ribuan sehingga total per bulan bayar sekitar 130 ribuan = 1.56juta/tahun. Penulis tetap membayarkan iuran tersebut bahkan sistem bayarnya per 6 bulanan agar tidak terlupa karena memang memiliki harapan tinggi pada fasilitas kesehatan dan jaminan yang diberikan BPJS kesehatan dan hitung-hitung sebagai pengalihan resiko ketika terdapat hal-hal yang tidak diinginkan seputar kesehatan.

Kemudian ada berita BPJS mengalami defisit yang sangat besar karena banyak penerima jaminan yang tidak lagi membayar ketika sudah mendapatkan pertolongan jaminan kesehatan. Kalau yang seperti ini menurut penulis adalah anggota yang wajib diselidiki dan ditagih terus door-to-door karena hanya ingin manisnya saja. BPJS kala itu langsung menaikkan iuran untuk kelas I sekitar 150rb-an dan kelas 3 tetap serta sistem pembayaran dipaksa per-KK langsung. Kala ini penulis sudah mulai curiga dengan sistem gotong-royong yang seperti ini, memaksa rakyat untuk membiayai kesehatan antar warga Indonesia. Penulis tetap mengikuti sistem pemerintah ini dan membayarkan ibu dan 2 adik per tahun kira-kira 2.4juta/tahun. Memasuki tahun-3 ada perubahan kebijakan lagi yaitu kelas 3 naik jadi sekitar 45ribuan dan dalam 6 bulan penulis membayarkan iuran sebesar 1.44juta dan selang beberapa lama ibu sedang sakit lemas dan pusing. Penulis menyarankan untuk ke Faskes I yaitu puskesmas, disana sistem kontrol sangat jelek yaitu tanpa ditensimeter, tanpa dilihat dan langsung keluar obat generik. Ibu penulis merasakan tidak kuat dan meminta untuk dirujuk ke RS terdekat namun tidak boleh karena harus mengikuti prosedur diobati terlebih dahulu dari Faskes I. Ibu menerima dan meminta obatnya pakai umum saja karena sudah tahu kualitas generik paling juga tidak efektif namun sekali lagi puskesmas menolak karena obat sedang kosong. Akhirnya ibu pulang dan menghabiskan obat selama 3 hari dan ternyata tidak berefek sama sekali sehingga ibu datang kembali ke Faskes I puskesmas. Kondisi yang semakin parah membuat ibu meminta tolong dirujuk di RS untuk periksa darah karena memang ada riwayat trombosit rendah. Sekali lagi sama puskesmas tetap tidak diijinkan dan kali ini ibu marah dan bilang anggota kelas I tapi kok perlakuan seperti ini. Pihak puskesmas menjelaskan bahwa kelas itu hanya untuk kelas kamar rawat inap bukan pelayanan dan obat. Serasa kaget mendengarkan informasi itu, ibu langsung telepon penulis dan langsung penulis sarankan untuk memakai umum saja ke RS, disana ibu dicek darah laboratorium dan memang sangat rendah trombosit-nya dan dokter bilang harus inap karena ini rawan pingsan dijalan. Akhirnya ibu rawat inap dan diperbolehkan pulang kalau trombosit sudah mendekati normal sekitar 3 hari. Bagaimanakah sistem di Faskes I apakah sudah layak memperlakukan seperti itu??.

Beberapa poin yang bisa penulis simpulkan tentang BPJS kesehatan ini adalah:

  1. Sistem penyelenggaraan sangat tidak bagus, dimana anggota yang lama terdaftar dengan yang kalau sakit tiba-tiba mendaftar disamaratakan sehingga potensi membuat kecewa anggota yang akif dan disiplin membayar sangat besar
  2. Defisit BPJS kesehatan lebih dikarenakan oleh tidak disiplinnya anggota instan terdaftar ketika sakit karena umumnya penyakit kronis dan ketika sembuh dari biaya BPJS mereka langsung tidak membayar iuran lagi
  3. Kelas di BPJS kesehatan sangat merugikan karena untuk preventif yang dibutuhkan anggota adalah perawatan dan obat sedangkan kelas di BPJS hanya untuk kamar rawat inap sehingga lebih baik anggota ikut saja kelas 3 dan kalau memang pas terdampak dan mengharuskan rawat inap maka upgrade sendiri ke kamar kelas I atau VIP akan menjadi lebih bagus
  4. Sistem gotong-royong seperti ini dirasakan penulis sangat merugikan kalau tidak diimbangi oleh komitmen semua anggota yang merasakan hasil dari jaminan kesehatan. Penulis menyimpulkan bahwa peran pemerintah yang harusnya menjamin kehidupan rakyat disini terbalik dimana rakyat yang sukarela saling tolong-menolong walaupun nantinya tidak mendapatkan manfaat sama sekali
  5. Penulis adalah pekerja kantoran, dimana ada 2 asuransi kesehatan yang diberikan yaitu BPJS yang sama kantor tidak dipakai sama sekali dan kedua adalah asuransi swasta yang dipakai kalau berobat. Dari sini sebenarnya bisa disimpulkan berapa banyak dana BPJS yang disumbang dari instansi kantor yang tidak memakainya namun mengapa BPJS selalu defisit, apakah di-korupsi atau memang sistemnya yang masih bobrok??
Melihat sistem BPJS yang seperti itu, penulis memutuskan untuk menghentikan iuran dan mengalihkan ke menabung di reksadana untuk kesehatan dan meng-asuransikan ibu ke swasta yang sangat baik pelayanannya. Selang 2 tahun berikunya tiba-tiba ada chat whatsapp masuk yang menginfokan dari BPJS pusat yang isinya bahwa atas nama ibu....dengan no. kk.....memiliki tunggakan tagihan sebesar 3juta sekian yang harus dibayarkan agar tetap mendapakan fasilitas kesehatan. Melihat ini, penulis merasa senang untuk men-counter mereka dengan menjawab dan bercerita seputar pelayanan kesehatan yang pernah dialami serta kekecewaan mendalam akibat pelayanan buruk tersebut dan memberikan saran "benahi dahulu sistem BPJS baru anda menagih kewajiban anggota".
Bercermin dari peristiwa tersebut, penulis sangat menyesalkan sistem BPJS yang masih belum bisa membuat anggotanya untuk puas merasakan pelayanan karena penulis pribadi dari kantor mendapatkan asuransi swasta yang sangat baik pelayanannya ketika dibutuhkan baik kamar, obat dan perawatannya. Penulis melakukan hitung-hitung jika nabung sendiri dibandingkan BPJS maka lebih baik nabung sendiri karena pelayanan umum di RS sangat jauh lebih baik dibandingkan BPJS terlebih ketika sudah darurat dirasakan karena BPJS kalau ditanya kamar sering kosong (pengalaman penulis sendiri untuk berobat paman) dan harus mengantri kamar sehingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu harus sewa kos dulu.
Alternatif lain penulis mencoba mencari konsep gotong royong yang dirasakan sangat baik sistemnya. Penulis bukan agen atau endorse dari platform ini melainkan merasakan sendiri betapa bagusnya sistem tolong menolong antar donatur di platform tersebut yaitu: "Saling Jaga Kita Bisa Tolong Menolong Sesama Donatur". Begini konsep detailnya:
Sampai artikel ini di-publish yaitu Feb 2020 sudah ada dana sekitar 10M dengan 668ribu anggota aktif termasuk penulis, ibu dan adik yang didaftarkan. Syarat umur pendaftaran ada yaitu 17-59 tahun. Platform KitaBisa ini mirip dengan BAZNAZ, Dompet Dhuafa dan Nurul Hayat yaitu penyalur dana sedekah, wakaf dan zakat mall. Di platform kita bisa melakukan itu semua sekaligus kita juga bisa tertolong nantinya ketidak terdapat hal yang tidak diinginkan.

Konsep yang dipakai adalah gotong royong saling tolong menolong sama dengan BPJS bahkan platform ini ada karena menurut penulis meluruskan sistem yang salah di BPJS.

Iuran yang diwajibkan di platform ini minimal 10ribu, jadi ketika kita menjadi donatur maka uang transferan pertama harus diatas 10 ribu misalnya penulis kemarin awal-awal 20 ribu.

Terdapat 2 kriteria bantuan yang bisa didapatkan donatur yaitu terdampak Covid-19 (masa tunggu dari awal keanggotaan adalah 21 hari) dan penyakit kritis (masa tunggu dari awal keanggotaan adalah 90 hari). Saldo minimum yang harus ada adalah 10ribu dan ketika dibawah itu maka masa menunggu akan di-reset lagi mulai dari 0 hari. Jadi donatur akan sering melihat saldo keanggoaan atau sekaligus menaruh saldo cukup banyak agar aman sewaktu-waktu tersedot untuk bantu sesama donatur terdampak. Konsep ini kalau ditiru oleh BPJS kesehatan maka bagimanakah rakyat Indonesia?? tentu rakyat akan rajin ikut mendaftar dan terus memantau saldo minimum mereka atau jika tidak mereka harus menunggu lagi masa menunggu mendapatkan bantuan. Berbedakan dengan sisem BPJS sekarang?? sangat beda, dimana anggota yang merasakan bisa instan daftar dan mendapatkan manfaat kemudian lari tidak membayar iuran. Jadi penulis mensarankan sistem-lah yang harus dibuat agar rakyat/anggota BPJS bisa aktif secara otomatis.
Bantuan yang bisa diberikan oleh sesama donatur tentunya mereka yang sudah terlewati masa menunggu dan saldo mereka diatas 10 ribu yaitu penyakit kritis sampai 100juta dan positif Covid-19 sampai 5juta. Terdapat beberapa persyaratan yang sangat mudah pengajuannya tinggal klik dengan unggah bukti rekam medis kemudian tim KitaBisa menindaklanjuti dengan konfirmasi ke pihak terkait atau menurunkan personil di anggota perwakilan untuk mengecek kebenaran si donatur terdampak tersebut. Setelah dinyatakan OK maka bantuan lamgsung ditransfer, sungguh mudah bukan.
Sistem pemberian bantuan/donor ke sesama donatur dinilai penulis sangat bagus dan BPJS kesehatan harus meniru ini. Yaitu misalnya ada donatur terdampak posiif Covid-19 mendapatkan bantuan 5juta maka bantuan itu dibantukan dari saldo seluruh anggota, 5.000.000/668.144 anggota=7.48 rupiah/anggota (nominal kecil sekali ya), kemudian jika misalnya ada donatur terdampak penyakit kritis mendapakan bantuan 100.000.000/668.144 anggota = 149.66 rupiah/anggota. Pengalaman penulis sendiri sudah sekitar 3 bulan terdaftar dan diisi saldo 40.000 sampai sekarang masih berkurang 400 rupiah untuk membantu sesama donatur. Sangat bermanfaat untuk pengalihan resiko kan dan juga menoong antar sesama.
Bagaimanakah jika sistem tersebut ditiru oleh BPJS kesehatan?? misalnya Rakyat Indonesia yang terdafar aktif BPJS adalah 80% dari total penduduk, 80% x 250.000.000 penduduk = 200.000.000 anggota, misalnya iuran masing-masing anggota rata-rata per bulan adalah 80.000 maka per tahun 960.000. Misalnya anggota BPJS terdampak sebesar20% maka 20% x 200.000.000 anggota x 10.000.000 biaya pengobatan = 400 trilyun maka dana terpotong masing-masing anggota adalah 200 trilyun/200.000.000 anggota = 1.000.000/anggota per tahun. Maka dengan konsep gotong royong saling tolong menolong maka angggota BPJS akan mempertahankan saldo mereka yaitu misalnya mempertahankan isi 1.200.000 (sehingga per bulan kena 100.000) sehingga ketika tidak memenuhi syarat ya tidak mendapat jaminan kesehatan. Jaminan tadi karena pasti dibayarkan anggota maka fasilitas yang diberikan ya setara asuransi swasta baik pemilihan kamar, obat dan pelayan perawatan. Ini yang diperbaharui adalah sistem dan rakyat akan memilih apakah ikut sistem dengan jaminan yang dirasakan bermanfaat atau tidak dan BPJS tidak lagi door-to-door menagih tunggakan ke anggota karena sisem dibuat transparan dan fasilitas yang bagus.

Referensi:
[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com