Trending Topik

Macam-Macam Metode Pengukuran Kadar Air (Water/Moisture Content) pada Oli Pelumas (Oil Lubricating)

Diposting oleh On Monday, June 27, 2022

Kandungan air pada oil lubricating/oli pelumas dihindari keberadaannya karena akan menurunkan kemampuan oli dalam sistem pelumasan. Terdapat beberapa macam kontaminan air (water/moisture) seperti yang sudah dijelaskan di: Kandungan Air (Water Content) di Minyak Pelumas. Pengujian kontaminan air ini di laboratorium menggunakan beberapa teknologi seperti:

  • Crackle Test/Uji Pecah/Letupan Gekembung
Metodenya yaitu meneteskandroplet oli pada hot plate di temperature 160 oC sehingga kandungan air akan mendidih pada suhu 100 oC dan membentuk gelembung yang kemudian pecah sehingga bisa teramati secara visual biasa. Semakin besar gelembung yang dihasilkan semakin besar kontaminan air pada oli. Karakteristik metode crackle test adalah: (i) murah; (ii) cepat dan mudah; (iii) tidak membutuhkan keahlian operator khusus; (iv) uji hanya bersifat kualitatif tanpa kuantitatif; (v) mudah dilakukan di site; (vi) jenis water yang terukur adalah free & emulsified. Berikut skematiknya:
  • Calcium Hydride Test Kit
Metodenya adalah oli yang mengandung air dan sudah diketahui volumenya direaksikan dengan calcium hydride yang diketahui jumlahnya. Kedua senyawa dilarutkan dan akan menghasilkan gas hydrogen sesuai reaksi:

CaH2 + 2 H2O ---> Ca(OH)2 + 2 H2

Gas hydrogen yang dihasilkan memiliki tekanan yang dihubungkan dengan manometer dan berdasarkan reaksi stoikiometri yang dikonversikan maka mol hydrogen bisa digunakan untuk menentukan mol air.

Karakteristik metode calcium hydride test kit sebagai berikut: (i) biaya rendah; (ii) mudah dilakukan; (iii) portable; (iv) uji kuantitatif; (v) solvent dan chemical membutuhkan keahlian khusus karena vessel bertekanan; (vi) cocok untuk menguji water tipe free & emulsified mulai dari 0-50 ppm

  • Karl Fischer (KF) Titration (ASTM D6304-Coulometric; ASTM D1744-Volumetric)
Metodenya adalah menggunakan prinsip titrasi yaitu mengukur konsentrasi dari larutan yang tidak diketahui dengan larutan yang sudah diketahui konsentrasi dan jumlahnya. Titrant adalah larutan titrasi yang diketahui konsentrasi dan jumlahnya (ex: iodine) dimasukkan ke buret dan akan digunakan untuk mereaksikan kimia dengan larutan yang tidak diketahui (dalam hal ini adalah oil yang terkontaminasi air). Volume iodine yang digunakan adalah sama dengan volume air yang terdapat pada oli. Karakteristik dari metode Karl Fischer (KF) coulometric titration adalah: (i) dapat digunakan untuk mengukur water content tipe free, emulsified & dissolved water; (ii) membutuhkan skill operator khusus; (iii) umumnya cocok untuk laboratorium bukan portable karena kondisi alat dan bahan kimia yang digunakan; (iv) mengukur water content kuantitatif; (v) pengembangan teknologi lebih jauh menggunakan potentiometric cell untuk menentukan end point/titik akhir kesetimbangan reaksi titrasi; (vi) sangat baik untuk mengukur water <200 ppm; (vii) terdapat 2 metode yaitu volumetric & coulometric; (viii) tipe coulometric lebih handal/akurat dibandingkan volumteric pada low water concentration
  • Relative Humidity Meter/Saturation Meter (ASTM D7546)
Metodenya adalah memadukan antara thermal conductivity, resistive dan capacitive.Ketika jumlah kandungan air pada oli dibawah saturation poin (dew point) maka secara tidak langsung bis adigunakan untuk menentukan kandungan air. Berikut gambar alatnya:
Capacitive sensor digunakan untuk menentukan relative humidity. Karakteristik dari metode saturation meter adalah: (i) 
  • Infrared (IR) Spectroscopy/FTIR Analysis
Metode yang  digunakan adalah menganalisis spektrum materi, dimana setiap materi memiliki panjang gelombang karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik dari metode FTIR adalah: (i) cocok untuk screening water content >1000 ppm; (ii) bisa dengan mudah membandingkan antara fresh/new oil dengan oli yang diuji; (iii) karena keterbatasan presisi dan deteksi limit sehingga IR sepectroscopy kurang cocok untuk water content <1000 ppm
  • Dean & Stark /Distillation Method (ASTM D95)
Ini adalah metode paling sederhana yaitu dengan menguapkan air pada titik didihnya kemudian ditampung dan dihitung volumenya. Karakteristik metode ini adalah: (i) membutuhkan sampel yang besar
Referensi:
[3] Garvey, R., and Fogel, G. (1996). Estimating Water Content in Oils: Moisture in Solution, Emulsified Water, and Free Water. US Department of Defense

Coal Dust Suppression/Penangkap Debu Abu Terbang Batu Bara/Water & Chemical Medium Based

Diposting oleh On Monday, June 06, 2022

Dust Suppression adalah penekan/peminimalisir debu. Di pertambangan batu bara atau PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara dan sisa pembakaran berupa fly ash (abu terbang/ringan) penggunaan dust suppression umum dilakukan. Terdapat 2 tipe dust suppression yaitu: (i) water medium; (ii) chemical medium.

 
Water medium terbagi menjadi 4 yaitu: [Zhou and Qin, 2021]

  1. Water Injection, injeksi air ini bermanfaat untuk pembasahan awal coal/dust body. Umumnya yang sering kita dengar adalah water gun. Teknik ini efektif menurunkan dust 30-50% namun meningkatkan moisture/water content coal sampai 0.7% [Zhou and Qin, 2021]; 1-2.5% [Liu et al, 2018]
  2. Water Spray, sistem atomisasi air dengan area covering luas, simpel dan biaya rendah. Efisiensi metode ini bisa dinaikkan dengan menambah flowrate dan tekanan air. Efisiensi dust control metode ini bisa mencapai >60% 
  3. Wet Dust Scrubber, bentuk tirai air untuk perangkap dust air sebelum dibuang ke atmosfer, cocok untuk aplikasi sebelum cerobong 
  4. Magnetized Water, ini meng-adopsi teknik physical untuk meningkatkan kemampuan pembasahan dengan menurunkan tegangan permukaan dan viskositas dari air serta meningkatkan sistem atomisasi 
Penggunaan medium air memiliki efisiensi yang rendah <50% karena dust memiliki kemampuan hydrofobic (menolak air) dan juga surface tension (tegangan permukaan) yang tinggi, sehingga diperlukan chemical medium berbasis surfactant yang bisa menghubungkan antara 2 sifat tersebut dan berdampak antara permukaan larutan dan udara bisa bergabung serta debu bisa tertangkap [Zhou and Qin, 2021]. 2 cara surfactant meningkatkan kemampuan pembasahan yaitu: (i) mengurangi tegangan permukaan air; (ii) meng-konversi permukaan coal agar bersifat hydrophilic dengan menyerap sifat hydrophobic [Liu et al, 2018]
Chemical medium terbagi menjadi 3 yaitu: [Zhou and Qin, 2021]
  1. Foam, ini terbentuk dari injeksi udara ter-kompresi dengan larutan sehingga terbentuk foaming/busa. Konsentrasi foam yang umum digunakan adalah 0.8-3%. [Xu et al, 2020]
  2. Surfactant, prinsip menggandeng 2 tangan yaitu menurunkan hydrophobic dan meningkatkan hydrofilic. Chemical surfactant seperti sodium dodecyl ether sulfate (SDES), sodium fatty alcohol polyoxyethylene ether sulfate (AES), exopolysaccharide (EPS) [Xu et al, 2020]. Surfactant adalah senyawa organic yang terdiri dari kepala bersifat polar (hydrophilic, lipophobic, oleophobic) dan ekor bersifat non-polar (hydrophobic, liphophilic, oleophilic). Hydrophilic surfactant terbagi menjadi 4 kelas yaitu: (i) anionic, ex: sodium dodecyl sulfate-SDS ; (ii) non-anionic, ex: octylphenol ethoxylate; (iii) cationic, ex: cetyl trimethyammnoium bromide-CTAB; and (iv) amphoteric [Xu et al, 2018].
  3. Humectant Spray
Berikut kelebihan dan kelemahan masing-masing metode dust suppression:

Referensi:
[1] Zhou, Q., and Qin, B. (2021). Coal Dust Suppression Base on Water Mediums: A Review of Technologies and Influencing Factors. J. of Fuel 302, 121196
[2] Xu, C., Wang, H., Wang, D., Zhu, X., Zhu, Y., Bai, X., and Yang, Q. (2020). Improvement of Foaming Ability of Surfactant Solutions by Water-Soluble Polymers: Experiment and Molecular Dynamics Simulation. J. of Ploymers, pp 12-571
[3] Liu, Z., Cao, A., Guo, X., and Li, J. (2018). Deep-Hole Water Injection Technology of Strong Impact Tendency Coal Seam-A Case Study in Tangkou Coal Mine. Arabian Journal of Geosciences, 11:12
[4] Xu, G., Chen, Y., Eksteen, J., and Xu, J. (2018). Surfactant-Aided Coal Dust Suppression: A Review of Evaluation Methods and Influencing Factors. J. Science of the Total Environment, 639, pp. 1060-1076

Industrial Chemical Cleaning Tube Boiler Condenser

Diposting oleh On Thursday, May 12, 2022

Korosi adalah hasil oksidasi metal dari beberapa agent oxidizing di lingkungan. Selama proses korosi, elektron mengalir melewati metal dan ion mengalir dari satu area ke area lain pada larutan yang disebut dengan proses elektrokimia. Proses oksidasi (korosi) besi oleh ion hydrogen sesuai reaksi:

2H+ + Fe ---> Fe2+ + H2

Banyka korosi terjadi pada besi disebabkan oleh kegagalan pembersihan dan pasifasi yang benar pada peralatan baru. (McCoy, 1984)

Alkali dan garam asam lemah digunakan untuk emulsify, saponify, oily untuk menetralkan residu asam dari chemical cleaning dan untuk membentuk pasifasi pada permukaan metal.

Sebagian besar korosi tipe fouling dan deposit terlarut oleh HCl yang bersifat asam kuat. Semua asam kuat cocok diterapkan dengan sebelumnya diberi inhibitor untuk meminimalisir serangan asam pada metal. HCl adalah chemical termurah untuk digunakan dalam chemical cleaning. HCl pada konsentrasi 5-10% efektif untuk melarutkan ferric oxide (Fe2O3), sesuai reaksi:

Fe2O3 + 6H+ ---> 2 Fe3+ + 3 H2O

Fe2O3 + Fe + 6H+ ---> 3Fe2+ + 3H2O

HCl cocok digunakan untuk cleaning carbon steel, low-chromium steel, cast iron, admiralty brass, bronze, cupro nickle dan monel. Laju korosi ketika chemical cleaning ergantung pada: (i) metal yang dicleaning; (ii) konsentrasi inhibitor; (iii) konsentrasi asam; (iv) lama paparan; (v) temperature; (vi) velocity larutan asam.


HCl tidak boleh digunakan pada stainless steel, titanium, zinc, alumunium dan galvanized iron. Hal ini karena ion chloride pada konsentrasi serendah 40 ppm saja bisa menyebabkan intergranular atau transgranular cracking. HCl juga bisa menyebabkan hydrogen embrittlement pada titanium

Agent penetral HCl adalah CaCO3, (Ca(OH)2, Na2CO3, NaOH

Asam sulfat (sulphuric acid) jarang sekali digunakan dalam chemical cleaning karena sifatnya pada pelarutan yang menghasilkan panas tinggi dan mudah mengiritasi kulit. Cara pencampurannya juga unik, dimana HCl dituangkan secara perlahan ke air dan tidak sebaliknya karena akan menghasilkan percikan panas yang tinggi. Konsentrasi H2SO4 yangdigunakan antara 5-15% pada temperatur yang tidak lebih dari 180 oF dan umumnya digunakan untuk cleaning stainless steel

Agent penetral H2SO4 adalah gypsum (CaSO4), lime/limestone (CaCO3) atau soda ash (Na2CO3 dan caustic soda (NaOH) yang terbaik.

Sulfamic acid/asam sulfamat (HSO3NH2) adalah bahan kimia asam yang cukup mahal dibandingkan lainnya namun memiliki kelebihan bisa digunakan oleh user yang kurang pengalaman dan di indoor tanpa membutuhkan keahlian kontraktor tersertifikasi. Ketika sulfamic acid digunakan untuk acid cleaning, itu tidak menyebabkan pitting. Bahkan ketika penerapannya dikombinasikan dengan NaCl (10% HSO3NH2, 5% NaCl) itu efektif untuk melarutkan ferric oxide (Fe2O3)

Pasifasi sulfamic acid cocok menggunakan sodium nitrit dan jika masih banyak residu acid di tube maka pasivasi kurang sempurna. Reaksi pasifasi seperti berikut:

HSO3NH2 + NO2- ---> N2 + H2O + SO42- + H+

Urutan tingkat korosifitas asam dari terendah ke tertinggi adalah citric-sulfamic-phosphoric-hydrochloric

Sesudah dilakukan chemical cleaning pada permukaan tube maka harus dilakukan pasifasi karena permukaan tube secara alamiah mebgalami oksidasi cepat dengan adanya udara atmosfer. Pasifasi sangat dibutuhkan pada iron (besi) dibandingkan chromiu, nickle, copper, brass, monel dan cupronickel karena material tersebut memiliki pasifasi alamiah sendiri ketika kontak dengan udara yang diberi nama oxide film. Permukaan material yang tertutup oleh oil, scale, deposit tidak dapat dilakukan pasifasi sehingga normalnya harus dilakukan water jetting sebelum pasifasi.



Sulfamic acid sangat mudah dilakukan penanganan, penyimpanan dan pencampuran tanpa membutuhkan keahlian khusus. Sulfamic acid cocok untuk material stainless steel. Sulfamic acid harga cukup mahal sehingga cook digunakan pada volume kecil. Penerapan konsentrasi antara 5-10% dengan waktu tinggal diijinkan antara 4-12 jam.

Berdasarkan Google Patent (2013) sebagai berikut:



Referensi:

[1] McCoy, J.W. (1984). Industrial Chemical Cleaning. Chemical Publishing-USA

[2] Google Patent-CN103361664A. (2013). Cleaning Method of Carbon Steel Pipeline and Cleaning Agents. China

Mengupas API RBI dan Perhitungan Remaining Life Peralatan

Diposting oleh On Thursday, May 05, 2022

 Berikut arti simbol-simbol:



Berikut perhitungan Maximum Allowable Working Pressure (MAWP) untuk macam-macam bentuk peralatan dan tipe failure:
  • Bentuk Cylinder Shell (badan tabung tutup datar) dengan 2 failure yaitu: (i) stress melingkar/sambungan longitudinal; (ii) stress longitudinal/sambungan melingkar

  • Bentuk Spherical Shell (badan bundar) atau hemispherical head (bagian atas kubah setengah bundar)

  • Bentuk Elliptical Head (bagian atas kubah ellips)
  • Bentuk Torispherical Head
  • Bentuk Conical Shell (badan kerucut)

Rumus Perhitungan Remaining Life:

Rumus Long-Term (LT) Corrosion Rate
Rumus Short-Term (ST) Corrosion Rate

Contoh Aplikasi Perhitungan:


Referensi:

[1] API 510. (2003). Pressure Vessel Inspection Code: Maintenance Inspection, Rating, Repair, and Alteration

[2] API 570. (2006). Inspection, Repair, Alteration, and Rerating of In-Service Piping Systems

[3] API 580. (2009). Risk-Based Inspection

Analisa Ketahanan Material Cu Based (Brass-CuZn atau CuZnAl) || Properties, Korosi dan Material Substitusi

Diposting oleh On Wednesday, January 19, 2022

Material tembaga (Cu) memiliki sifat properties yang baik sebagai heat-exchanger seperti thermal conductivity yang sangat baik dibawah silver/perak (Ag). Material Cu based yang umumnya dikenal di lapangan seperti brass/kuningan (CuZn-Al) atau bronze/perunggu (CuSn) dan di PLTU penggunaan material Cu banyak digunakan di heat-exchanger seperti condenser, oil cooler, radiator dan lain-lain dimana fluida yang mengalir didesain air sungai atau air demineralisasi dengan sifat low conductivity dan tidak korosif. Pertimbangan pemakaian material Cu based ini dibandingkan lainnya, dimana pada umumnya tube condenser PLTU terbuat dari titanium (Ti) adalah karena material Cu memiliki thermal conductivity yang tinggi sehingga transfer panas lebih maksimal (efisiensi pertukaran panas tinggi), dengan dimensi yang minim (size dan jumlah) maka bisa sebanding dengan material lain dengan desain size dan jumlah yang besar. Dari beberapa kelebihan tersebut, juga terdapat kelemahan dari material Cu based seperti tidak tahan korosif (pH, air laut/salinitas), mudah leaching lapisan Cu2O oleh larutan ammonia (NH3), amine (NH2) dan nitrate (NO2), tidak tahan abrasif karena low strength dan low hardness. (Schweitzer, 2010)

Berikut kutipan dari handbook Schweitzer (2010) sebagai berikut:


Berdasarkan Revie & Uhlig (2008) berikut kutipannya:

Berdasarkan grafik tersebut bisa diketahui bahwa semakin lama material brass terpapar ammonia (NH3) maka sifat properties stress akan menurun yang menandakan material bersifat getas/rapuh sehingga mudah cracking yang disebut dengan Stress Corrosion Cracking (SCC).)

Berdasarkan Revie & Uhlig (2008), ammonia yang ada pada condensate PLTU pada umumnya merupakan hasil reaksi hydrazine (oxygen scavenger chemical) yang bisa terjadi pada 2 tahap yaitu: 

  1. Reaksi LAMBAT pada suhu 175 oC
  2. Reaksi CEPAT pada suhu 300 oC

Berikut reaksinya: 

3 N2H4 + O2 ---> N2 + 2 H2O

3 N2H4 ---> N2 + 4 NH3

Ammonia (NH3) sangat dihindari untuk penggunaan material Cu based dan terdapat 2 substitusi oxygen scavenger yang bisa memberikan protective film pada iron (Fe) dan copper (Cu) yaitu: (Revie & Uhlig, 2008)

  1. Carbohydrazide, (NH2NH)2CO + 2 O2 ---> 2 N2 + 3 H2O + CO2
  2. Diethylhydroxilamine, 4 (C2H5)2NOH + 9 O2 ---> 8 CH3COOH + 2 N2 + 6 H2O
SSCC pada brass bisa diminimalisir dengan 4 prosedur sebagai berikut: (Revie & Uhlig, 2008)

  1. Stress-Relief Heat Treatment
  2. Menjauhi kontak dengan ammonia (NH3) yang juga didukung dengan dissolved oxygen (DO) yang cukup tinggi karena kehadirannya sedikit saja bisa menyebabkan cracking
  3. Menambahkan cathodic protection.
  4. Menggunakan inhibitor H2S

Terdapat kelayakan operasi untuk tipe material Cu based terhadap fluida yang mengalir melewatinya, seperti:(Revie & Uhlig, 2008)

  • Fresh water, tipe pure copper (Cu) dan admiralty.
  • Brackish/payau dan sea water/air laut, tipe admiralty, cupro-nickel, alumunium brass.
  • Pollutant water/mengandung TDS tinggi/kontaminan kimia tinggi, tipe cupro-nickel.

Alumunium Brass (CuZn-Al) cocok ketika full sea water dan jika mengandung pollutant water maka mudah sekali pitting, material ini cocok untuk debit air yang tinggi.

Tipe cupro/cupper-nickel ada 2 yang umum dipakai yaitu: (Revie & Uhlig, 2008)

  1. 30% Ni-70% Cu, sifat properties ini lebih tahan terhadap SCC daripada 10-20% Ni-Cu atau CuZn-Al (brass). Berarti menandakan kandungan nikel (Ni) yang membuat alloy menjadi tahan korosi
  2. 10-20% Ni-90% Cu

Berdasarkan Ahmad (2006) berikut kutipannya:

Terdapat 4 tipe SCC yaitu: (Ahmad, 2006)

1.    Chloride SCC, disebabkan oleh hadirnya salinitas air laut/garam yang didukung dengan oksigen cukup pada temperatur tinggi

2.    Caustic SCC, disebabkan oleh kondisi basa (pH tinggi)

3.    Sulphide SCC, disebabkan oleh kontaminan hydrogen sulphide (H2S)

4.    Seasonal Cracking, ini istilah yang umum digunakan oleh SCC di brass/kuningan/CuZn-Al/Cu based karena cemaran ammonia (NH3)



Berikut senyawa kimia yang bisa menyababkan material Cu based mengalami SCC: (Ahmad, 2006) (Caesarvery, 2021)

·   Ammonia (NH3), kehadirannya melarutkan protective layer material Cu based yaitu Cu2O dan terlebih ketika terdapat dissolved oxygen (DO) maka ammonia sangat merusak (destructive) permukaan Cu yang bisa memperparah SCC

·   Hydrogen sulphide (H2S)

·   SO2 yang didukung moisture (basah) sehingga mudah terbentuk SO3 dan H2SO4

·   Asam Nitrat (HNO3)

·   Amine (NH2)

Berdasarkan handbook Revie (2011) berikut kutipannya:

Berdasarkan Revie (2011) tersebut didapatkan informasi bahwa ammonia (NH3) yang berasal dari dekomposisi hydrazine (N2H4) mempercepat korosi pada Cu alloy. Ketahanan material Cu alloy contohnya brass/kuningan (CuZn) terhadap SCC pada range pH 7.3-11.3.

Terdapat 3 faktor utama yang menyebabkan ammonia (NH3) mengalami SCC pada material Cu alloy: (Revie, 2011) (Caesarvery, 2021)

  1. Korosi pada lapisan film (Cu2O) yang mengurangi fungsi anodik
  2. Terlarutnya Zn anodic pada grain boundaries
  3. Stabilisasi dari valensi Cu


Berdasarkan handbook Revie (2011) tersebut didapatkan informasi sebagai berikut:

  • Penambahan 5-40% nickel (Ni) meningkatkan mechanical properties seiring peningkatan temperatur seperti tahan korosi pada lingkungan brackish/payau dan sea water/air laut
  • Cupro/Cupper-Nickel (CuNi) lebih stabil daripada brass/kuningan (CuZn) pada aliran yang mengalir dan SCC. CuNi lebih baik daripada CuZn pada polllutant water
  • Penambahan unsur iron/besi (Fe) pada CuNi membentuk pembentukan protective layer untuk menciptakan ketahanan terhadap air laut
  • Copper tidak cocok digunakan untuk aliran yang mengalir kencang karena bersifat low hardness dan low strength
  • 60 Cu-40 Zn (kuningan) cocok digunakan untuk operasi temperatur rendah dengan fluida air sungai, danau dan tanah. CuZn tahan terhadap hydrogen sulphide (H2S). Penambahan unsur timbal/lead (Pb) cocok digunakan untuk HE/condenser yang berpendingin air laut/sea water
  • Penambahan unsur Al pada brass/kuningan/76 Cu-22 Zn-2 Al membantu pembentukan protective layer untuk ketahanan terhadap mechanical destructive (abrasif). Penambahan unsur arsenik (As) digunakan untuk membuat ketahanan brass pada pollutant water, brackish dan sea water

Berdasarkan Standard EPRI (2004) sebagai berikut:


Berdasarkan Standar EPRI (2004) didapatkan informasi sebagai berikut:

  • Hydrazine (N2H4) tepatnya digunakan tanpa aditif atau ketika ada maka digunakan amine
  • Aplikasi hydrazine dijaga pada range pH 8.5-9.6 untuk cupper alloy dan untuk all-ferrous alloy 8.5-10.5
  • pH control bisa menggunakan sodium hydroxide (NaOH) untuk material all-ferrous namun untuk cupper alloy digunakan azoles untuk corrosion protection. Macam-macam azoles sebagai berikut:

1.    Tolyltriazole (TTA)

2.    Benzotriazole (BZT)

3.    Mercaptobenzothiazole (MBT)

Berdasarkan Standard EPRI (1985) sebagai berikut:
Berdasarkan Standard EPRI (2001) sebagai berikut:
Referensi:
[1] Revie, R.W., and Uhlig, H.H. (2008). Handbook Corrosion and Corrosion Control, An Intoroduction to Corrosion Science and Engineering.  Fourth Edition, John Wiley & Sons
[2] Revie, R.W. (2011). Handbook Uhlig's Corrosion, Third Edition. John Willey & Sons
[3] Ahmad, Z. (2006). Handbook Principles of Corrosion Engineering and Corrosion Control. Elsevier
[4] Schweitzer, P.A. (2010). Handbook of Fundamentals of Corrosion Mechanisms, Causes, and Preventative Methods. CRC Press. London & New York
[5] EPRI. (2004). Closed Cooling Water Chemistry Guideline
[6] EPRI. (1985). Condenser Procurement Guidelines
[7] EPRI. (2001). Condenser Appication and Maintenance Guide