Thursday, 18 June 2015

Fuel System PLTU

Bahan bakar yang dipakai di PLTU adalah High Speed Diesel (HSD) Oil, Residu Oil (RO) dan Gas Alam. Proses penggunaan bahan bakar adalah sebagai berikut : Saat permulaan penyalaan unit (Start Up Unit) digunakan bahan bakar HSD, dimana alirannya dimulai dari HSD Oil Tank yang dipompa dengan HSD Transfer Pump menuju ke HSD Oil Service Tank untuk penampungan bahan bakar kemudian dipompa dengan HSD Oil Pump (P = ± 11 – 12 kgf / cm2) untuk di spray kan di Main Gun Burner (P = ± 4 - 5 kgf / cm2) dengan tekanan diturunkan oleh valve. HSD dialirkan ke Boiler yang diatomisasikan oleh Atomizing Air sehingga berkabut dan bertemu dengan Igniter serta udara pembakaran (pembakaran selama 5 menit).
Setelah unit jalan selama 5 menit dengan bahan bakar HSD maka dilanjutkan oleh bahan bakar RO yang diproses mulai dari RO Tank yang dipanaskan terlebih dahulu di RO Preheater yang memanfaatkan panas dari Auxiliary Steam LP Turbine kemudian ditransfer ke RO Service Tank dengan RO Transfer Pump. Dari RO Service Tank dipompa dengan RO Pump (P = ± 28  kgf / cm2) yang  dilewatkan di RO Heater yang juga memanfaatkan panas dari Auxiliary Steam LP Turbine untuk penyempurnaan pemanasan sebelum masuk Boiler. Di Main Gun Burner, karena RO terlalu kental untuk di spray kan maka dikabutkan dengan Atomizing Steam dari Auxiliary Steam HP Turbine (P = ± 11  kgf / cm2) dengan tekanan masuk Main Gun Burner P = ± 15 - 17  kgf / cm2 . Penggunaan RO mulai sedikit dikurangi dengan alasan RO lebih mahal dibanding Gas Alam sehingga dilakukan pembatasan penggunaan Fossil Fuel. Penggunaan RO hanya dipakai jika persediaan Gas Alam sangat kurang dan mengancam unit trip (emergency). Unit pembangkitan Gresik didesain bisa digunakan untuk 2 bahan bakar yaitu RO dan Gas Alam. Sekarang bahan bakar yang sering dipakai adalah Gas Alam dengan alasan persediaan di alam melimpah dan program pemerintah konversi Fossil Fuel ke Gas Alam. Gas Alam dimulai dari Gas Station bertekanan tinggi melewati pipa langsung dari supplier seperti Santos, Keil, Kodeco (PHE) dan Saka. Supplier mentransfer gas bertekanan (P = ± 25  kgf / cm2)  ke UP Gresik dan di UP Gresik gas dari supplier di mixing menjadi satu kemudian diturunkan tekanan menggunakan valve yaitu V-1 (dari 25 kgf / cm2 ke 12 kgf / cm2 ), V-2 (dari 12 kgf / cm2 ke 8 kgf / cm2), V-3 (dari 8 kgf / cm2 ke 2 kgf / cm2). Gas Alam yang masuk ke Main Gun Burner disetting tidak boleh lebih dari 4 kgf / cm2 dan tidak boleh kurang dari 0,15 kgf / cm2 (0,15 < P < 4), jika tidak memenuhi kondisi maka unit trip.

Sumber : Laporan pribadi unit pembangkitan

No comments:

Post a Comment