Friday, 15 July 2016

Ternak Domba Sistem Cacah Pakan

Semakin bertambahnya kebutuhan daging kambing di Indonesia maka sudah seharusnya masyarakat Indonesia beralih ke beternak modern dengan cara yang efektif dan efisien. Efektif dari segi cara beternak dan efisien dari segi lama ternak untuk menuju ke dewasa. Banyak cara yang ditawarkan untuk beternak seperti :
  1. Kambing ditaruh kandang yang langsung beralaskan tanah dan pakan dicarikan lewat merumput (ngarit) sembari petani merawat hasil tanamannya
  2. Kambing diberi rumput gajah yang sudah ditanam di ladang kemudian untuk supplay tambahan diberi combor bekatul / gamblong / kulit kedelai
  3. Kambing di beri angkring sekitar 0,5 m dari tanah kemudian sistem pakan adalah fermentasi dan nonstop memberi pakannya
  4. Kambing diberi rumput gajah, dicacah dengan mesin kemudian dioplos dengan suplemen tambahan seperti bekatul, gamblong, kulit ari kedelai, kulit ari kopi, ampas sawit, ampas kecap, abluk jagung dll
Cara terakhir ini yang sudah aku lakukan untuk ternak dombaku :
  • Persiapan pakan, saya menanam rumput gajah mini khusus pakan kambing di belakang rumah. Mulai dari mencari bibit yang berkualitas, penataan pagar dengan jaring agar ayam tidak bisa masuk, penanaman bibit.
  • Dalam penanaman bibit 3x gagal karena saya letakkan tidur akhirnya bibit busuk, tidak muncul kuncup batang dan saya letakkan berdiri akhirnya hidup berkuncup. Dari mulai tanam sampai tumbuh kuncup batang sekitar 1 minggu dengan pemberian air yang cukup agar tanah lembab (terlalu basah bibit akan busuk dan terlalu kering bibit mati). Saya juga menanam kangkung untuk supplay pakan tambahan dan terbukti tumbuh bagus walau lahan kurang terkena sinar matahari akibat tanaman sekitar yang tumbuh tingi - tinggi.
  •  Sekitar 1 bulan, tumbuh tunas baru desekeliling bibit tadi dan irigasipun harus selalu ada dan gambar dibawah ini adalah bibit umur 3 bulan yang sudah mulai lebat
  • Kalau persiapan pakan sudah siap, tahap selanjutnya adalah membuat kandang. Kandang saya buat ukuran 5 x 15 m dengan rangka dan atap galvalum, untuk pemula sebaiknya pakai yang agak murah dulu saja kandangnya seperti pakai asbes dan rangka kayu atau pakai bambu


  • Sesudah rangka dan atap jadi, selanjutnya membuatkan beton penyangga serta kandang dari kayu kalimantan
  • Tahapan ini adalah mencacah rumput agar daun dan batang terpakai semua. Alat cacah menggunakan motor listrik < 450 watt yang di couple dengan karet untuk memutar pisau (alatnya pesan dari bengkel dengan harga 3 juta)
  • Rumput hasil cacahan kemudian dicampur dengan supply pakan tambahan dengan ditambah air agar bisa larut. Untuk pakan tambahan bisa juga dicarikan batang pisang, sampah kering atau daun - daunan dari kebun yang sudah digiling dengan mesin
  •  Pakan juga bisa ditempatkan di bak / baskom sesuai kebutuhan, untuk anakan lebih baik dibawah karena akan mudah memakannya dan indukan mending diatas

Tuesday, 12 July 2016

Design Cathodic Protection di Condensor

Pada setiap PLTU, penggunaan air laut sangat dominan untuk keberlangsungan pengoperasian PLTU. Air laut diolah menjadi Air Demin sebagai pemasok proses pembentukan Steam, air laut juga digunakan untuk proses Cooling pada HE (Heat Exchanger) dan untuk Vacuum pada Condensor. Air laut sangat dominan fungsinya di sebuah PLTU, namun air laut juga sangat berbahaya bagi peralatan terutama peralatan Metal hal ini karena air laut dapat menyebabkan korosi pada peralatan. Untuk mencegah hal ini maka perlu ditambahkan sistem proteksi untuk mencegah terjadinya korosi. Pengendalian korosi atau pencegahan korosi terhadap logam dapat dilakukan dengan mengubah potensial antar muka logam dengan lingkungannya. Secara elektrokimia, proteksi korosi dapat dikelompokkan menjadi proteksi katodik dan anodik. Pengendalian korosi metode proteksi katodik dapat dilakukan dengan merubah potensial antar muka logam dengan ionnya ke daerah Immune dengan memberikan arus katodik. Penurunan potensial antar muka kearah Immune atau ke daerah lebih katodik dapat dilakukan dengan menghubungkan benda kerja dengan anoda korban, atau Sacrificial Anode atau dengan memberikan arus yang dipaksakan, atau Impressed Current. Dalam proses pengoperasian PLTU di Condensor sering terjadi masalah seperti kebocoran pada line pipa Inlet Condenser, dan kerusakan pada Butterfly Valve Condenser akibat korosi. Korosi ini diakibatkan oleh kebocoran Tube Condensor sehingga air laut mencemari ruang Condensor. Indikator lain yang menunjukkan kebocoran Tube Condensor adalah tingginya Conductivity Condensate Water dari kondisi normalnya dan ini bisa dipastikan ada pencemaran dari luar. Pencegahan terhadap masalah ini sangat penting, mengingat Condensate Water adalah komponen bahan baku pembentuk Steam dan jika tercemar akan membuat kerusakan lebih parah di banyak perpipaan. Untuk mencegah kerusakan ini terjadi berulang – ulang dan memperparah kondisi pada Condensor maka perlu dipasang proteksi  korosi yang disebabkan air laut.
Reaksi pembentukan korosi sebagai berikut :
Anoda (-) :   2 Fe ---> 2 Fe2+ + 4e
Katoda (+) : O2 +2 H2O + 4e ---> 4 OH-
2 Fe + O2 + 2 H2O ---> 2 Fe2+ + 4 OH-
2 Fe + O2 + 2 H2O ---> 2 Fe(OH)2
4 Fe(OH)2 + 2 H2O + O2 ---> 4 Fe(OH)3 (Produk Korosi)
Bagan Proses Korosi
Gambar Waterbox di Condensor
Sistem Perlindungan Katoda (Cathodic Protection) yang umum digunakan terbagi menjadi 2 yaitu :
1. Pengorbanan Anoda (Sacrificial Anode)
Karakteristikya adalah :
  • Instalasi lebih mahal daripada sistem Impressed Current (karena menggunakan logam Al, Zn atau Mg)
  • Maintenance lebih sederhana (hanya penempatan logam Anoda di awal instalasi saja)
  • Struktur yang dilindungi kecil (boros logam Anoda jika luas yang dilindungi besar)
  • Penerapannya hanya jika kondisi tanah dengan resistivitas rendah dan kondisi coating pipa yang baik
  • Tidak ada jaringan sumber arus listrik
  • Jika sistem Impressed Current tidak bisa diterapkan 
  • Pipa yang diinsulasi panas 
Sistem kerjanya adalah menempatkan logam yang memiliki beda potensial rendah dibanding logam yang akan dilindungi. Logam pelindung (Anoda ---> Oksidasi) dan yang dilindungi (Katoda ---> Reduksi), memaksa logam untuk menjadi Katoda di lingkungannya.
2. Arus Tanding / Arus Terpasang (Impressed Current)
Karakteristiknya adalah :

  • Biaya lebih murah dibanding Sacrificial Anode 
  • Maintenance sedikit rumit membutuhkan tenaga terlatih
  • Cocok untuk melindungi struktur yang besar (lebih irit biaya)
  • Bisa digunakan untuk struktur tanpa coating atau kondisi coating yang buruk 
  • Bisa untuk berbagai kondisi tahanan (resistivitas) jenis tanah 
  • Cara yang murah untuk menggantikan sistem Sacrificial Anode yang anoda korbannya sudah mulai habis 
  • Untuk struktur tiang pancang di darat maupun di air
  • Tersedianya sumber arus listrik 
Sistem kerjanya adalah dengan memberikan arus yang berasal dari listrik yang sudah diubah menjadi arus DC, arus tersebut akan memberikan supply tegangan agar logam yang seharusnya bertindak sebagai Anoda (Oksidasi) dan melepas elektron menjadi bertindak sebagai Katoda (Reduksi) sehingga reaksi oksidasipun tidak terjadi dan logam akan aman dari korosi.

Perhitungannya : 
Data yang harus didapatkan :
  • Surface Area Water Box (m2)  
Dimensi pipa Inlet Condensor
  • Diameter (m) 
  • Panjang (sepanjang Inlet sebelum dan sesudah Valve) (m)
  • Surface Area (m2)
Jenis Anoda korban (disesuaikan dengan kebutuhan) (misal : Mg, Al, Zn) 
  • Ukuran Anoda korban : panjang x  lebar x  tebal (dipilih dimensi yang sesuai dengan Surface Area yang dilindungi)
  • Current Density Sea Water (mA/m2) 
  • Keperluan Arus yang Diproteksi 
Contoh perhitungan :
  • Tahanan Anoda 
 Contoh perhitungan :
  • Arus Anoda 
Contoh perhitungan :
  • Kebutuhan Jumlah Anoda   
Contoh perhitungan :
  • Umur Anoda 
Contoh perhitungan :
 Berikut Gambar pendukung :

 Gambar Condensor sisi Inlet dengan Water Box (bagian tempat mengumpulnya air sebelum masuk Tube dan sesudah keluar Tube)
 Skematik Penampang Condensor

Gambar Anoda Korban
Skema Sistem Perlindungan Katodik
Sumber :
[1] PT RE design untuk UP PT
[2] Laporan pribadi design engineering untuk UP BT