Monday, 21 November 2016

Manajemen Proyek

Didasarkan pada buku “Project Management : The Managerial Process by Gray and Larson” bahwa proses suatu manajemen projek secara garis besar dapat disimpulkansebagai berikut :

  1. DEFINING  ---> judul, deskripsi, estimate, metodologi, scope projek, tugas, spesifikasi
  2. PLANNING ---> Membuat Work Breakdowns Structure (WBS), Organizational Breakdowns Structure (OBS), schedule, jadwal, anggaran, SDM, resiko
  3. EXECUTING ---> membuat laporan kerja, manajemen jadwal, estimasi time & cost, manajemen kualitas, manajemen resiko, monitoring pekerjaan, inspeksi mutu, fabrikasi & konstruksi
  4. CLOSING ---> membuat dokumentasi ke customer, evaluasi, tanda tangan serah terima penyelesaian pekerjaa, demobilisasi pekerja & peralatan, start up
PROJECT adalah suatu rangkaian aktifitas unik yang saling terkait utk mencapai hasil tertentu & dikerjakan dalam periode waktu tertentu
Karakteristik umum dari projek adalah :
  • Objek yang dikerjakan jelas terlihat dan memiliki tujuan
  • Memiliki periode tertentu untuk dimulai dan diakhiri
  • Melibatkan multi disiplin ilmu
  • Produknya atau pelayanannya atau prosesnya unik (tidak pernah dikerjakan sebelumnya) misalnya mengerjakan sesuatu yang sebelumnya tidak terselesaikan & membutuhkan kajian teknologi yang mendalam sebelumnya (misalnya membangun stasiun ruang angkasa di mars)
  • Memiliki waktu, biaya dan performa yang spesifik (on timing, on budget, on performance)
  • Pekerjaan non - routine
PROYEK berbeda dengan PROGRAM begitu pula dengan ROUTINE WORK dimana PROGRAM adalah kumpulan dari berbagai projek.
Example
Pembangkit A akan didirikan didaerah A dengan scope pekerjaan pembangunan equipment common, boiler, turbin generator dan sesudah pembangkit A jadi kemudian dioperasikan dan selama beroperasi sering terjadi problem sehingga tim mekanik harus sering memperbaiki peralatan.
Definisi :
PROGRAM : membangun pembangkit A
PROYEK : membangun equipment common, membangun boiler, membangun turbin generator
ROUTINE WORK : tim mekanik memperbaiki peralatan sebagai tim pemeliharaan
Urutan Integrated Manajemen Project adalah :

  • Strategic Alignment ---> penentuan strategi dari proyek apakah proyek akan dikembangkan oleh banyak tim, banyak SDM atau di sub kan, manajemen resiko (konflik, kebingungan dan waktu yang bisa menyebabkan customer tidak puas). Dalam strategic alignment dibutuhkan proses seleksi yang Sistematis, Terbuka, Konsisten dan Seimbang.
Poin – poin dari Strategic Management adalah :
- Apakah sesuatu yang akan kita putuskan dan implementasikan
- Apakah yang akan kita maksimalkan untuk menuju ke tujuan
- Bagaimana cara organisasi ini bisa menang kompetisi dengan kompetitor

Ada 2 dimensi umum  Strategic Management adalah :
- Merespon terhadap perubahan dari luar (misalnya kebutuhan pasar, persaingan dengan kompetitor, inovasi terbaru)
- Mengalokasikan SDM khusus untuk mengembangkan kompetisi khusus yang tidak dimiliki kompetitor (meriset produk unggulan, inovasi satu – satunya dan menjadi paten)

Ada 4 aktivitas dari Strategic Management adalah :
- Mereview dan mendefinisikan misi organisasi
- Mengeset tujuan jangka panjang (visi)
- Menganalisa dan memformulasikan strategi untuk mencapai tujuan
  • Portfolio Management ---> PORTFOLIO adalah sekumpulan produk / layanan / jasa yang dimiliki untuk ditawarkan / dijual. Portfolio terdiri dari dari strategic project yang telah diseleksi prosesnya secara seimbang menurut resiko ke perusahaan dan di setujui oleh manajemen perusahaan
Fungsi dari Portfolio Management adalah :
- Melihat keseluruhan proyek yang telah diseleksi di Strategic Alignment
- Memonitor jumlah SDM dan keahliannya
- Mendorong penggunaan BEST PRACTICES (cara terbaik yang sudah pernah dilakukan atau cara terbaru yang tidak mengulang cara lama yang terbukti kurang bagus)
- Menyeimbangkan proyek yang akan dilakukan memiliki resiko yang diijinkan oleh manajemen perusahaan
- Memperbaiki komunikasi ke semua stakeholder
- Menciptakan perspektif organisasi di luar harapan stakeholder (ke arah yang baik)
- Memperbaiki time manajement projek agar tidak over time
  • Project Manajement ---> dalam sebuah proyek dipimpin oleh Project Manager (PM) yang bertugas merencanakan dan membuat  strategi, menjadwalkan, menentukan eksekusi dan membuat proyek sesuai harapan customer. Ada 3 yang jadi fokus utama PM yaitu on Budget, On Schedule atau on performance  
Ada 2 Dimensi Manajemen Proyek yaitu :
1. TECHNICAL
  • Scope pekerjaan
  • Work Breakdown Schedule (WBS) ---> Gantt Chart, Flow Chart, Schedule
  • Alokasi SDM
  • Rincian Anggaran
  • Laporan pekerjaan
2. SOCIOCULTURAL
  • Leadership
  • Problem solving
  • Teamwork
  • Negoisasi
  • Politik
  • Harapan customer
Karakteristik dari tujuan adalah S.M.A.R.T yaitu
  • Specifik ---> target dan sasaran jelas
  • Measurable ---> dapat terukur indikator pencapaiannya
  • Assignable ---> dapat ditugaskan ke orang sbg penanggung jawab utk diselesaikan
  • Realistic  ---> pernyataaan realistis dgn SDM yang tersedia
  • Time Related ---> sasaran dapat dicapai oleh waktu
Pendekatan financial untuk mengevaluasi apakah proyek layak dikerjakan atau tidak ada 2 yaitu Payback Period & Rate of Return (ROR) dan Net Present Value (NPV)
  1. Payback Period & Rate of Return (ROR) ---> lamanya waktu pengembalian modal / investasi. Semakin kecil nilai berarti waktu penegembalian modal cepat namun kelemahan dari sistem ini adalah tidak memperhatikan nilai uang (inflasi) dari tahun ke tahun. Rate of Return (ROR) adalah laju pengembalian modal / investasi. Semakin besar laju maka semakin baik karena modal akan cepat kembalinya
  2. Net Present Value (NPV) --->  penghitungan nilai investasi yang memperhitungkan nilai kenaikan uang dari tahun ke tahun. NPV (+) maka investasi layak diteruskan dan jika NPV (-) maka investasi tidak layak.
PROJECT SCOPE adalah dokumen yang akan di publikasikan yang mendefinisikan semua proses projek tujuan akhirnya.
Project Scope harus :
  • To be Achieved
  • Specific
  • Tangible
  • Measurable
Ada 6 Project Scope Checklist yaitu :
  1. Project Objective (tujuan / sasaran projek) ---> menentukan tujuan proyek sesuai kebutuhan customer
  2. Deliverables (tugas / pembagian kerja)  ---> paket / dokumen hasil studi kelayakan yang berisi analisis berbagai aspek kelayakan seperti list of specification, list pekerjaan, tes dengan software coding,  technical manual untuk membuat prototyp, analisis pasar, analisis organisasi, anlisis biaya & dampak sosial - lingkungannya, schedule pengerjaan
  3. Milestone (tolak ukur waktu) ---> digunakan utk memberi tanda jadwal waktu sehingga monitoring dan kontrol proyek lebih terpantau. Milestone dibuat dengan berdasar pada Deliverable
  4. Technical Requirement ---> persyaratan teknis dari pekrjaan proyek yang menggambarkan hasil akhir
  5. Limit and Exclusion (batasan & pengecualian) ---> LIMIT contohnya menentukan batasan misal transportasi udara ke site dijalankan oleh pihak ketiga, maintenance & repair dilakukan 1 bulan sesudah final inspection. EXCLUSION contohnya software akan diinstalkan namun tidak termasuk training , data dikumpulkan oleh customer bukan contractor
  6. Review with Customer ---> berisi scope checklist yang direview dengan customer mengenai : apakah customer memperoleh hasil dari deliverable, apakah proyek dicapai on budget, on timing & on performance (scope), apakah pertanyaan di limit & exclusion terjawab 
Contoh breakdown deliverable :
Contoh Project Scope :
Sumber : Project Management : The Managerial Process by Gray and Larson

Statistik Bisnis


Didasarkan dari buku “Complete Business Statistic by Amir Daczel & Jayavel”. Ada berbagai macam dasar statistik yang umum dipelajari & dipakai sejak SMA yaitu :
  • Mean : nilai rata – rata dari sebuah data
  • Median : nilai tengah dari data yang didapatkan dengan mengurutkan terlebih dahulu  dari terkecil ke terbesar
  • Modus : nilai yang keluar terbanyak / memiliki frekuensi terbesar dari semua data
  • Range : selisih antara nilai terbesar dengan terkecil
  • Interquartile Range :selisih antara upper quartile dengan lower quartile
  • Variansi : seperangkat observasi yang ditunjukkan untuk menentukan tingkat keberagaman sebaran data
  • Standar Deviasi : pangkat dua dari variansi
Contoh data sebagai berikut :
Sesuai data SET 1 & SET 2 diatas jika dicari data statistiknya adalah
Mean : SET 1 & SET 2 = 6
Median : SET 1 & SET ---> (6+6)/2 = 6
Modus : SET 1 nilai terbanyak = 6 dan SET 2 nilai terbanyak = 6
Jika dilihat dari 3 data tersebut maka data statistik menunjukkan nilai yang sama namun untuk menentukan keberagaman (variability) maka ada 4 yang digunakan yaitu  : Range, Interquartile Range, Variansi dan Standar Deviasi. Variansi dan Standar Deviasi lebih berguna daripada yang lain karena menggunakan informasi yg berisi di semua observasi di data set (sampel) maupun populasi. 
Jika variansi dalam sampel maka simbol adalah “s” dalam populasi ϭ
SKEWNESS DISTRIBUTION adalah pengukuran derajat asimetri dari distribusi frequensi. 
Ada 3 macam Skewness Distribution yaitu :
  • Right / Positive Skewed ---> letak mean (rata – rata) di sebelah kanan median (nilai tengah)
  • Left / Negative Skewed ---> letak mean (rata – rata) di sebelah kiri median (nilai tengah)
  • Symmetric / Zero Skewed ---> mean = median = modus (nilai sama)
Formula statistik di excel bisa dilihat seperti gambar dibawah ini :
Sumber : Complete Business Statistic by Amir Daczel & Jayavel

Monday, 22 August 2016

Manajemen Kualitas di Dunia Industri

- ISO (International Organization for Standardization) berdiri tahun 1987 dan telah di revisi sebanyak 3 kali yaitu tahun 1994, 2000 dan 2008. ISO bermacam - macam seperti : 
  • ISO 9000 : memuat tentang dasar dasar dan istilah untuk sistem manajemen mutu 
  • ISO 9001 : memuat tentang persyaratan - persyaratan yang dibutuhkan untuk implementasi sistem manajemen mutu
  • ISO 9004 : memuat tentang panduan untuk perbaikan kinerja 
  • ISO 9011 : memuat tentang panduan dalam kegiatan audit sistem manajemen mutu dan lingkungan 
- ISO yang paling banyak tertera di produk adalah ISO 9001 yang berarti produk yang telah jadi itu menerapkan implementasi sistem manajemen mutu. Produk yang bersertifikat ISO terjamin proses dan mutu nya sehingga kualitas bisa dibilang terstandar. 
- Mutu menurut ISO 9000 : 2000 adalah derajat atau tingkat karakteristik yang melekat pada suatu produk yang mencukupi persyaratan / keinginan. Gambaran kualitas meliputi : penampilan, keandalan, kemudahan penggunaan, awet, harga wajar, mudah dibuang
Dimensi kualitas di Industri Manufactur adalah :
  1. Performance : kesesuaian produk dengan fungsi utama nya
  2. Feature : ciri khas produk yang membedakan dari produk lain
  3. Reliability : kehandalan produk / kemungkinan kerusakan yang rendah
  4. Conformance : kesesuaian produk dengan spesifikasi yang telah ditetapkan
  5. Durability : ketahanan produk (umur)
  6. Serviceability : kemudahan perbaikan / ketersediaan komponen produk
  7. Aesthetic : keindahan / daya tarik produk
  8. Perception : citra merk dari produk yang membuat konsumen bangga
Dimensi kualitas di Industri Jasa adalah :
  1. Communication : hubungan baik antara pelanggan dan pemberi jasa
  2. Credibility : kepercayaan dari pelanggan ke pemberi jasa
  3. Security : keamanan terhadap jasa yang ditawarkan
  4. Knowing the Customer : pemahaman pemberi jasa terhadap kebutuhan pelanggan
  5. Tangible : pelayanan dapat diukur atau dibuat standarnya
  6. Reliability : konsistensi pemberi jasa untuk melayani pelanggan
  7. Responsiveness : tanggapan pemberi jasa terhadap kebutuhan pelanggan
  8. Competence : kemampuan yang baik untuk melayani pelanggan
  9. Access : kemudahan pemberi jasa untuk dihubungi pelanggan
  10. Courtesy : kesopanan, perhatian dan kesamaan pelayanan terhadap para pelanggan
- Manajemen kualitas mengalami evolusi mulai dari : kualitas inspeksi (inspection quality) ---> pengendalian kualitas (quality control) ---> penjaminan kualitas (quality assurance) ---> manajemen kualitas total (total quality management). 
- Total Quality Management adalah sistem manajemen dalam perubahan yang berkelanjutan terdiri dari nilai, teknik dan alat yang bertujuan meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mereduksi sejumlah sumber daya.
- Menurut Irianto, 3 Tahap Implementasi Manajemen Kualitas yaitu : 
  1. Tahap Inisiasi ---> pemahaman konsep dan prinsip
  2. Tahap Adopsi ---> persiapan, perencanaan dan pengembangan misi
  3. Tahap Adaptasi ---> monitoring, penyesuaian dan perbaikan 
- Penghargaan dalam peningkatan Manajemen Mutu salah satunya adalah Malcolm Baldrige
 Kriteria penilaiannya adalah :
  1. Kepemimpinan
  2. Rencana Strategis 
  3. Fokus Pelanggan dan Pasar 
  4. Informasi dan Analisis 
  5. Fokus Sumber Daya Manusia 
  6. Manajemen Proses 
  7. Hasil Perusahaan 
- 8  Prinsip Manajemen Mutu Landasan Penyusunan ISO 9000 adalah :
  1. Fokus pada Pelanggan ---> memahami kebutuhan pelanggan sekarang dan akan datang serta berusaha melebihi harapan pelanggan
  2. Kepemimpinan ---> pimpinan menetapkan kesatuan arah dan tujuan serta menciptakan lingkungan agar orang - orang menjadi terlibat penuh dalam mencapai tujuan
  3. Keterlibatan Orang ---> orang pada semua tingkat merupakan faktor yang sangat penting dari organisasi 
  4. Pendekatan Proses ---> untuk mencapai hasil yang efisien dibutuhkan sejumlah langkah berurutan yang terorganisasi 
  5. Pendekatan Sistem pada Manajemen ---> pengidentifikasian, pemahaman dan pengelolaan proses akan mencapai tingkat efektifitas dalam mencapai tujuan 
  6. Perbaikan Berkesinambung ---> proses yang berfokus pada upaya terus menerus untuk meningkatkan keefektifan organisasi untuk memenuhi tujuan 
  7. Pendekatan Fakta pada Pengambilan Keputusan ---> keputusan efektif berdasar pada analisis data dan informasi untuk menghilangkan akar penyebab masalah 
  8. Hubungan yang Saling Menguntungkan dengan Pemasok  
- Tahapan untuk mendapatkan sertifikat ISO
Tahap - tahap untuk mendapatkan sertifikat ISO adalah :
  1. Menerapkan Standar yang Telah Ditentukan
  2. Mengajukan Sertifikasi
  3. Penilaian / Audit oleh Tim Independent
  4. Penilaian / Audit oleh Tim Pengawas Pemberi Sertifikat
  5. Penerimaan Sertifikat
  6. Sertifikasi Ulang jika Masa Berlaku Sudah Habis
Penjelasan diagram diatas diambil dari "Modul Kuliah Manajemen Industri Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 by Muh. Ali" adalah :
Mengevaluasi bisnis dan kebutuhan yang menunjang kompetisi di luar (quality, pelayanan, proses dll) sesuai standar ISO. Manajemen berkomitmen untuk melaksanakan segala sumber daya untuk menerapkan standar ISO. Penerapan ini supaya terorganisir dan terencana dengan baik bisa melibatkan konsultan sehingga pihak manajemen dan konsultan akan mengevaluasi prosedur kerja sekarang ini dan memberikan prosedur yang sesuai standar ISO kemudian menentukan tim ISO, tujuan dan target waktu untuk melakukan sertifikasi. Tim ISO yang telah dibentuk dilakukan training khusus mengenai ISO. Setelah tim terbentuk dan cukup pengetahuan tentang ISO kemudian merencanakan quality action dengan mengimplementasi prosedur sesuai standar ISO dan melakukan assesment oleh internal office kemudian assesment oleh tim independen. Melakukan improvement untuk prosedur yang dinilai kurang dari assesment tersebut kemudian mendaftarkan ISO. Tim assesment dari ISO akan melakukan audit dan jika lolos akan terbi sertifikat ISO.

- Metode untuk menerapkan manajemen kualitas salah satunya adalah Shewart Cycle (P-D-C-A)
- Salah satu alat pengendalian kualitas adalah Seven Tools
1. Histogram
 
2. Check Sheet
3. Pareto Chart ---> diambil dari nama penemunya Vilfredo Pareto, Pareto Chart adalah diagram batang dan garis yang berprinsip 80 - 20 yang artinya dalam banyak masalah maka cukup diambil permasalahan yang kumulatifnya terjadinya > 80% yang artinya dari banyak masalah yang ada diambil 20% masalah terbesar yang bisa menyelesaikan 80% persoalan. Dengan Pareto ini, kita bisa memfokuskan ke masalah utama yang menyebabkan kegagalan serius (biasanya diambil 3 teratas), sehingga tidak membuang waktu dan biaya jika dibandingkan dengan menyelesaikan semua masalah (besar & kecil).

Seperti gambar diatas, faktor yang menyebabkan keluhan di rumah sakit ada 10 masalah sehingga dengan Pareto Chart ini, dengan mengambil 3 masalah utama yang teratas diharapkan bisa mengurangi dampak buruk yang serius. Teori ini lebih praktis dibanding semua masalah dari yang besar sampai yang kecil diselesaikan semua.

 
4. Cause and Effect Diagram (Fishbone Diagram / Ishikawa Diagram) ---> penyebab dari kegagalan adalah dari Machine, Material, Method, Measurement, Man Power dan Environment
 
5. Defect Concentration Diagram
6. Scatter Diagram
 
7. Control Chart
 - Untuk menjelaskan lebih mudah suatu alur proses digunakan Flow Chart yang dilambangkan dengan bermacam - macam simbol. Penjelasan simbolnya seperti dibawah ini :
- Rumus yang dipakai di statistik adalah :



Referensi :
[1] http://repository.widyatama.ac.id
[2] http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Modul%208%202011.pdf
[3] http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Modul%209%202011.pdf
[4] http://doc.utwente.nl/50777/1/thesis_Irianto.pdf
[5] Introduction to Statistical Quality Control 6th Edition by Douglas 
[6] http://www.ihquality.com/2016/04/cara-membuat-diagram-pareto-dengan-excel.html 
[7] Quality Management by Peter Mauch

Tuesday, 9 August 2016

Modifikasi Cooling System di Sampling Rack PLTU

Sampling Rack adalah tempat mengambil sampel untuk kebutuhan analisa laboratorium. Di PLTU, line titik yang diambil sampling nya adalah meliputi Demin Water (outlet Mixed Bed, Outlet BWRO), Steam (Superheater, Steam Drum) dan Condensate (Outlet Hotwell, Outlet Deaerator, Economizer). Kondisi di Steam dan Condensate adalah panas karena fluida sudah sirkulasi di  sistem operasi sehingga bila langsung diambil sampelnya maka akan membahayakan operator dan peralatan laboratorium. Untuk mendinginkan itu maka dibutuhkan Cooling System yang pada umumnya line sampling tadi dikontakkan dengan air agar terjadi pertukaran panas dan sampel menjadi dingin.

Sampling Rack dilengkapi system drain manual untuk pengecekan kualitas fluida di laboratorium dan sistem online menggunakan Online Analyzer yang terhubung ke Distributed Control System (DCS). Permasalahan yang banyak terjadi di Sampling Rack PLTU menurut pengalaman saya di lapangan adalah line pipa banyak yang korosif dan Cooling tidak bisa mendinginkan maksimal (outlet sampel bersuhu 40 oC - 50 oC) padahal untuk Online Analyzer hanya efektif bekerja di suhu 30 oC sehingga bila Cooling tidak bekerja maksimal bisa merusak Sensor Analyzer.

Kontraktor yang membangun sebuah unit pembangkit sudah mendesain sedemikian rupa sehingga menurut perhitungan sampel yang keluar dari Sampling Rack adalah bertemperatur rendah namun kondisi aktual di lapangan akan berbeda karena banyak faktor sehingga perlu dilakukan modifikasi agar peralatan Sampling Rack existing tetap bisa digunakan dan hanya menambah komponen atau line agar kerja Cooling System bisa berjalan normal kembali. Dibawah ini adalah berbagai alternatif modifikasi Sampling Rack yang sudah pernah dilakukan di unit pembangkit :

"Sampling rack is the place to take sample for laboratory analysis. In power plant, line sampling point that to take samples such as Demin Water (outlet Mixed Bed, Outlet BWRO), Steam (Superheater, Steam Drum) dan Condensate (Outlet Hotwell, Outlet Deaerator, Economizer). Condition steam and condensate are hot because the fluid already circulating in the operating system so that if when directly to take sample will dangeraous for operator and also laboratory equipment. For cooling, it is required cooling system and commonly sampling line was contacted with water so heat exchanger and sample will cooling down.

Sampling rack is equipped manual drain system to check quality of fluid in the laboratory and online system using online analyzer that connected to DCS. The most problem in the sampling rack according to my experience are pipe line corrosive and cooling system ineffective work (outlet sample temperature of 40 oC - 50 oC) whereas for online analyzer only effective at a temperature 30 oC so that if the cooling system not according standar operation, it can damage analyzer sensor.
 
Contractors who build a power plant have the best designed so according to outlet sample calculation from sampling rack is low temperature but actual condition will be different caused many factor so that require modified equipment in sampling rack with add a little component. Below are the various alternatives if modified sampling rack in the power plant such as :"
Gambar 1. Sampling Rack Existing dengan Diameter Tabung Water Cooler Standar Commisioning

Proses dari pendinginannya adalah : Steam maupun Condensate Water dari line operasi dilewatkan tabung Water Cooler yang berisi air yang sudah didinginkan di Cooling Tower (air bisa saja air laut atau Raw Water = hilang kadar garam namun masih mengandung mineral dan tempatnya sesudah SWRO atau BWRO). Sampel yang dilewatkan tabung ini akan terjadi pertukaran panas sehingga didapatkan sampel yang bertemperatur rendah sedangkan pendingin di tabung akan terus continue mengalir dan dibuang ke Waste Water.

"The cooling process is steam or condensate water from operation line passed water cooler vessel that contain water which it is cooled in the cooling tower (water can use sea water or raw water = liquid that removed salinity but still contain mineral and usually from SWRO or BWRO). Sample that passed this vessel will heat exchanger so that get sample with low temperatur and cooler in the vessel will continue flow to discharge to the waste water."
 
Gambar 2. Modifikasi Sampling Rack dengan Menambah Dimensi Tabung Water Cooler

Gambar 2 adalah sebagai alternatif 1 yang paling murah dibanding lainnya yaitu hanya menambah panjang maupun lebar tabung Water Cooler yang dimaksudkan untuk menambah luas permukaan kontak antara fluida panas dan dingin. Ada modifikasi tambahan untuk efisiensi Cooling Water yang digunakan yaitu dengan penambahan Temperature Indicator yang terhubung dengan kran Cooling Water dengan kerja yaitu jika outlet sampel bertemperatur tinggi maka kran membuka lebar sehingga debit dari Cooling Water menjadi tinggi sehingga kontak fluida semakin efektif.

"Figure 2 is an alternative one that the lowest prices than other because it just adds length and width water cooler vessel, this is purposed to increase surface area contact between hot fluid and cold fluid. There is add modification for efficiency cooling water used with add temperature indicator that connected with valve cooling water with his work is if outlet sample has high temperature so valve wide open and make debit of cooling water so high which reason effective fluid contact"
Gambar 3. Modifikasi dengan Penambahan Radiator di Sisi Sampling Rack sebagai Pengganti Cooling Tower
Modifikasi seperti Gambar 3 ini membutuhkan investasi sedang dari semua alternatif karena ada pengadaan alat Radiator Fan yang juga membutuhkan konsumsi listrik namun untuk keefektifan pendinginan sudah tidak diragukan lagi. Sistem operasi sama dengan Gambar 1 namun Cooling Water tidak lagi berhubungan dengan Cooling Tower melainkan disirkulasikan sendiri di Radiator Fan. Jika dibuat operasi terus menerus juga tidak efektif untuk Cooling System ini baik dari segi biaya energi maupun umur alat sehingga dibuatkan Temperature Indicator yang berhubungan dengan Three Way Valve yang terhubung dengan Radiator Fan. Jika si operator akan mengambil sampel maka Radiator Fan dinyalakan sehingga akan didapatkan outlet sampel yang bertemperatur rendah. Permasalahan nya adalah bagaimana dengan Online Analyzer nya saat Radiator Fan tidak nyala, di satu sisi jika Radiator Fan dinyalakan terus akan terjadi pemborosan energi namun peralatan akan aman bekerja, namun jika dibuat hanya on / off saat diperlukan saja maka pengambilan sampel manual aman namun tidak untuk Online Analyzer nya. Dari permasalahan ini dibuatkan sistem paralel yaitu tetap memakai Cooling Tower untuk continous nya dan ada Radiator Fan untuk insedentil pengambilan sampel.

"Modification like figure 3 requires moderate investment of all alternatives due to buy radiator fan which it spend electricity consumption but effectiveness of cooling is undubious. Operating system similar figure 1 but cooling water not connected with cooling tower and circulated in the radiator fan. If created continuous operation will not effective in term from energy consumption and also equipment life so put the temperature indicator that connected with three way valve that connected with radiator fan. If operator will take sample so radiator fan switched on and get outlet sample with low temperatures. The problem is how with online analyzer while readiator fan off, in other side if radiator fan on continuous operation will spend many energy but equipment will be protected, but if just switch on / off while running will effect taking the sample is safe but online analyzer unsafe. From this problem created parallel system with use cooling tower for continue operation and radiator fan for incidentil take the sample"
Gambar 4. Sampling Rack dengan Cooling System Menggunakan Cooling Tower + Chiller

Gambar 4 diatas adalah modifikasi yang banyak dipakai karena fungsinya membantu kerja dari Cooling Tower. Chiller type Air Force Cooling digunakan untuk mendinginkan fluida pendingin dari Cooling Tower sehingga target temperatur yang di inginkan mudah dicapai. Flow outlet dari Chiller dilengkapi Temperature Indicator yang terhubung dengan Three Way Valve untuk mengatur bukaan valve. Investasi yang dibutuhkan untuk modifikasi ini adalah yang terbesar dari ketiga alternatif dan juga membutuhkan energi yang besar karena bekerja 24 jam non stop. Keuntungannya adalah pengambilan sampel aman, target penurunan temperatur sampel sesuai standar dan peralatan Online Analyzer aman.

"Figure 4 above is a modification that widely used with working support operation from cooling tower. Chiller type air force cooling used to cool fluid from cooling tower so that temperature target easy to reach. Outlet flow from chiller equipped temperature indicator that connected with three way valve to manage valve. Investment from this midification is the highest from three alternatives and also require high energy due to operation 24 hours. The benefit is safe to take the sample, temperature target easy to reach and online analizer is safe"
 
Sumber : Pengalaman Sendiri Kajian Enginnering PLTU KD