Trending Topik

MLM yang Dijual Mimpi Bukan Produk || Quote Salah Satu Trainer Terkenal dan Pengalaman Pribadi

Diposting oleh On Thursday, April 15, 2021

MLM (Multi-Level Marketing) adalah strategi berjualan dengan sistem saling merekrut pelanggan dan mewajibkan anggotanya harus membeli produk dengan kisaran nominal tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dari sini sudah aneh kan?? menguntungkan si produsen karena supply chain produk akan terus mengalir karena dipaksa sedangkan anggotanya akan terbebani dengan kewajiban pembelian produk sehingga harus memutar otak untuk merekrut anggota lain untuk menjadi kaki dan aliran produknya bisa terjual ke kakinya.

Seiring berkembangnya teknologi, MLM tidak lagi mewajibkan pembelian namun mewajibkan memasarkan yang kurang lebih juga sama dapa target. Lagi-lagi ini merupakan strategi halus di marketing produsen untuk membuang produk yang mereka produksi ke pasaran. Melihat fenomena ini , kami mencoba melihat di youtube perbincangan antara Helmy Yahya dan Chandra Putra Negara yang mengatakan bahwa yang dijual MLM adalah mimpi bukan produk. Mereka meng-analogikan coca-cola berjualan, apakah banyak pembeli atau penjualnya. Tentu banyak pembeli kan dan berbeda dengan MLM banyak penjual sepi pembeli sehingga hanya mimpi-mimpi besarlah yang ingin mereka capai. Kami pribadi sangat setuju karena mengalaminya sendiri.

Ketika kami masih kuliah sering banget diajak teman-teman bertemu dengan alih-alih "mangan enak-ngombe legi", alih-alih "diajak bekerja menghasilkan uang", alih-alih diajak mengikui seminar gratis. dan semuanya adalah jebakan, kami mengalaminya sendiri. Ketika itu ada anggota MLM mengajak mangan enak-ngombe legi dengan tempat di salah satu lesehan di Kota Blitar. OK lah karena kami pikir tempatnya di lesehan pasti setidaknya diajak makan walaupun tidak punya uang maka kamipun berangkat. Tibalah kami bersama anggota MLM di lesehan yang dituju, melewati gubuk lesehan satu persatu (kami curiga kok tidak mampir malah jalan terus) dan ternyata tempat pertemuan ada di gedung belakang (Jancuk bener sistem penipuannya ini). Kemudian kami diminta registrasi untuk masuk dan mewajibkan 10 ribu per kepala untuk konsumsi snack dan minum (Jancuk lagi kami berfikiran mangan enak-ngombel legi gratis teryata malah harus membayar) dan didalamnya ada motivaor yang dalam ceritanya sudah mendapatkan BMW mewah setelah bergabung selaam 5 tahun (karena kami tidak bodoh dan berpendidikan tinggi maka berfikiran ini orang bayaran dan diminta menjual mimpi ke anggota MLM, orangnya keturunan chinese dan pastinya seorang sales dan marketing trainer). Disana audio dibuat semangat juang dan seminar motivasi untuk berjualan terus digalakkan dan diakhir sesi semua anggoa MLM yang berjas dan berdasi rapi bak big boss naik panggung untuk ditepuki dan dibacakan level MLM-nya (terlihat gagah, berwibawa dan tentunya dalam pikiran yang sudah terhipnotis mereka akan memiliki kekayaan instan pasif income). Sesi terakhir anggoa MLM melakukan FGD interview ke anggota yang dibawa, termasuk kami di-interview oleh angggota MLM level atas (istilahnya sedang di-prospek). Kami ditanyai detail tentang latar belakang dan pemahaman tentang seminar tadi. Kemudian dengan sedikit memaksa mau minta KTP untuk didaftarkan dan kami-pun menolak dengan halus mengatakan mau dipelajari terlebih dahulu baru kalau OK akan daftar dengan sendirinya. Jjancuk lagi kan, betapa jika itu oarang desa dan pendidikan rendah apa tidak otomatis terdafar dengan paksaan semacam itu. Kami berharap regulasi pemerintah harus ketat terhadap praktek bisnis mimpi MLM ini.

Pengalaman lainnya yaitu sudah sering kali kami dijebak untuk ditemukan dengan anggoa MLM, dengan dalih mau sharing pengalaman sukses, bisnis dan lagi-lagi Jancuk beneran anggoa MLM seperti ini tidak ada habis akal untuk mencari mangsa karena kami sendiri tahu dia sedang banyak menimbun barang dan belum terjual (karena ada kewajiban per bulan harus belanja minimal). Tidak kapok juga, kali ini dia membawakan buku "Cash Flow Kuadran" karya Robert Kyosaki yang menunjukkan 4 kuadran dimana posisi kita apakah harus berkerja keras menjadi karyawan dengan penghasilan active income apa menjadi pasif income sampai tua dan bisa diwariskan. Lagi-lagi yang dijual MLM adalah mimpi karena banyak yang jadi penjual dan minim pembeli padahal namanya berdagang sukses adalah banyak pembelinya.

Cerita ini tidak berhenti disitu, di lain hari kami dibawakan ensiklopedia yang berisi pendapat pakar dan dokter tentang khasiat produk mereka dan apakah kami tergiur ?? ceramahlah malah ke mereka kami ajari inilah strategi marketing kalau kalian ingin kaya ya harus berusaha dan kalian anggoa MLM inipun juga sedang berusaha, jadi kalau banyak yang berhasil akan menjadi rebutan padahal yang sukses hanya segelintir orang yaitu kaki bagian atas saja (agent yang sudah dibuat) dan kalian-kalian adalah kaki ang dikorbabkan unk mencari pasar dan tidak akan pernah mencapai target bahkan modal kalian akan habis karena harus membeli barang yang tidak kalian butuhkan.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi Penulis pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Hati-Hati Terhadap Monopoli Shopee || Merampas Hak Konsumen Memilih Jenis Ekspedisi yang Diinginkan

Diposting oleh On Tuesday, April 06, 2021

Mulai awal April 2021, Shopee memberlakukan kebijakan ekspedisi pengiriman yang disembunyikan dan hanya tersedia paket reguler, hemat, same day, instant dan kargo. Kali ini pembeli tidak bisa memilih lagi jenis ekspedisi, dimana sebelumnya masih bisa diganti ketika check-out telah dilakukan. Sebagai konsumen cerdas, kita semua harus kritis terhadap kebijakan-kebijakan baru tersebut apakah menguntungkan kita atau Shopee. Kita ulas bersama potensi Shopee akan melakukan monopoli sepihak yang membuat UMKM di antara marketplace menjadi tidak sehat, sebagai berikut:

  • Kehadiran Shopee Pay yang masif dengan iklan dan masuk ke semua pembayaran di outlet dengan diskon gila-gilaan membuat semua orang install aplikasi ---> potensi monopoli sistem pembayaran
  • Shopee tidak hanya menerapkan diskon gila-gilaan di outlet offline kerjasama, namun di semua lini transaksi elektronik menerapkan diskon gila-gilaan seperti pulsa HP, listrik, tagihan bulanan dan tiket ---> potensi monopoli marketplace
  • Shopee memiliki nama ekspedisi sendiri yaitu Shopee Standard Expess, dimana kita tidak tahu harga yang bisa dibandingkan dengan ekspedisi di marketplace lain ---> potensi monopoli ongkos kirim
  • Shopee menerapkan tidak bisa memilih jenis ekspedisi dan penjual yang bisa memilih/random oleh sistem dan harga untuk semua ekspedisi di paket setara adalah sama misalnya reguler (J&T, JNE, Anteraja, Sicepat, Ninja Xpress, ID Express) padahal kita semua sudah tahu bahwa tidak semuanya memiliki target waktu sampai yang sama karena fasilitas pengantaran yang belum memadai dan masih join antara beberapa pihak. Berdasarkan hal ini bisa terlihat bahwa Shopee seolah sedang mencari dana pemasukan lewat selisih ongkir dimana konsumen tidak sadar telah diarahkan ke ekspedisi tertentu ---> potensi monopoli terhadap hak konsumen untuk memilih ekspedisi
Monopoli dalam marketplace membuat tidak sehat perdagangan online di Indonesia, karena tidak ada lagi balance perbandingan baik produk, harga, ongkir, fasilitas dll. Memang sebenarnya konsep bakar-bakar uang dan iklan yang masif adalah siapa yang kuat dia yang menang dan yang kalah akan tidur serta monopoli inilah tujuan akhirnya. Detail lengkap sudah dibahas di artikel: Mengapa Platform Digital Bakar-Bakar Uang??. Shopee akhir-akhir ini perlu diwaspadai dengan adanya perampasan hak memilih jeis ekspedisi konsumen, karena konsumen-lah yang tahu betul ekspedisi apa yang bisa sampai rumahnya, dimana rumahnya ada di desa, tidak bernomor dan hanya ada RT RW. Pengalaman penulis sendiri untuk paket yang dikirim ke Desa di Blitar selain J&T dan JNE sangat bingung dan lama sekali sampai ke rumah, itupun mereka harus telepon dan whatsapp dulu untuk minta share location (padahal alamat permanen sudah lengkap sesuai petunjuk yang tersimpan di marketplace). Berkaca dari itu, ketika konsumen dipaksa untuk memakai jasa pengiriman random maka tinggal tunggu saja potensi kecewa-nya nanti. Kecewa ini tidak hanya ke pembeli karena barang sampai lama dan penjual karena mendapat rating negatif karena pemilihan ekspedisi yang tidak sesuai keinginan dan sampai lama.
Disini penulis sebagai pengamat dan pengguna jual-beli di semua marketplace dan selalu memberikan edukasi dan wawasan dengan sebenarnya. Sebagai konsumen harap hati-hati terhadap monopoli Shopee ini, dilihat dari aktifitasnya sudah akan mengembalikan uang dari bakar-bakar mereka yang masif dahulu. Sebagai konsumen kita harus bijak bisa memilih antara 3 marketplace yaitu Bukalapak, Tokopedia dan Shopee, dimana dengan adanya kebijakan perampasan hak memilih ekspedisi tersebut patutlah melirik ke pesaingnya yaitu Bukalapak dan Tokopedia yang masih sehat.

Referensi:
[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Shopee Bersiaplah Disalip Bukalapak || Kebijakan Sepihak yang Berpotensi Merugikan Pembeli

Diposting oleh On Thursday, April 01, 2021

Akhir-akhir ini, Shopee menerapkan sistem yang cukup blunder dengan membuat sistem pengiriman ekspedisi yang disembunyikan. Shopee menerapkan ada 4 tipe jenis pengiriman ekspedisi yaitu instan, reguler, hemat, instan, same day dan kargo. Jadi pembeli serasa dipaksa untuk memakai ekspedisi mitra Shopee dan disinilah celah bakar-bakar uang Shopee mulai panen, dimana dulu sangat suka membagi program gratis ongkir + cashback. Secara tidak sadar pembeli akan kecanduan ekspedisi yang bisa menerapkan gratis ongkir, namun setelah kami selidiki dan dibandingkan dengan marketplace lain ternyata biayanya sudah di mark-up 80-100%. Sehingga ketika program gratis ongkir + cashback sudah tidak ada maka pembeli akan menganggap biaya kirim yang ada di Shopee adalah normal dan sama dengan marketplace lain, padahal sangat-sangat mahal. Dari situ bisa dianalisa bahwa bakar-bakar uang diawal akan kembali dengan  tidak sadarnya pembeli memakai ekspedisi mitra yang dipakai Shopee.


BACA JUGA: Bukalapak Selanjutnya akan Menjadi Bisnis Apa??

Akhir-akhir ini, dengan penerapan pembeli tidak bisa memilih ekspedisi merupakan senjata Shopee untuk mengembalikan modal besar-besaran atas beberapa program menggaet konsumen di awal. Shopee sudah seperti monopoli semuanya dan ini tidak sehat lagi dalam dunia marketplace dan harus dilakukan kontrol. Ekspedisi yang disembunyikan dan harga yang tidak wajar tersirat Shopee sedang menggali uang dari pembeli. Selain itu, Shopee sedang bermain bisnis di lini ekspedisi ini, dengan harga yang tidak bisa dibandingkan dengan marketplace lain seperti Shopee Standard Express. Monopoli bisnis di semua lini dari hulu sampai hilir membuat pasar di marketplace tidak sehat lagi dan pembeli harap berhati-hati serta cerdik membandingkan biaya kirim karena secara alam bawah sadar dulu memang program menggaet pembeli Shopee sangat besar seperti Gratis Ongkir + Cashback yang sampai-sampai marketplace lain collabs ketinggalan jauh.

BACA JUGA: Dengarlah Bukalapak, Kamu Masih Bisa Bangkit Lagi!!

Melihat fenomena ini, kami mencoba membandingkan biaya ongkos kirim antara Shopee dengan Bukalapak dan Tokopedia, dimana untuk pengiriman reguler di Shopee 12.000, di Bukalapak dan Tokopedia hanya 8.000 dan ada lagi ongkir di Shopee 23.000 dan di Bukalapak serta Tokopedia hanya 12.000. Berawal dari pengalaman ini kita sebagai pembeli harap hati-hati terhadap strategi Shopee untuk mengembalikan modal atas bakar-bakar uangnya dulu.

BACA JUGA: Pengalaman Jual Beli Online di Marketplace Bukalapak

Berawal dari sini, penulis mencoba menganalisis karena sebagai pembeli dan penjual di era digital yang semuanya transparan dan sangat mudah diakses maka Bukalapak akan bisa bangkit kembali. Mengapa hal ini bisa?? kami melihat dari server Bukalapak sudah dibenahi yaitu tidak lelet lagi dan semua chat yang masuk ketika dibuka langsung fast loading. Sisi pilihan ekspedisi juga masih transparan beserta biaya kirim yang wajar sehingga pembeli tidak dipaksa untuk ikut monopoli dan ikut aturan sepihak. Sisi lainnya yang diperbaiki adalah gratis ongkir + cashback juga tidak tanggung-tanggung, dimana dulu program tersebut di Bukalapak hanya sebagai sampah yaitu Rp 100 dan maksimal Rp 1000. Namun masih terdapat kekurangan Bukalapak agar segera bisa bangkit adalah barang yang dijual sangat sedikit dan inipun juga karena program manajemen baru yang salah, dimana menon-aktifkan barang yang tidak laku selama 6 bulan terakhir. Seandainya barang dilepas bebas lagi di pasaran maka penulis yakin akan bergairah transaksi di Bukalapak, karena sebagai penulis barang yang tidak laku itu ya kami tetap menunggu ada pembeli, tidak serta merta barang sampah. Semoga dengan beberapa masukan ini Bukalapak bisa bangkit kembali dan ada persaingan sehat antar 3 marketlace yaitu Shopee, Bukalapak dan Tokopedia.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Pengalaman Asuransi Kesehatan BPJS dan Konsep Gotong-Royong Serupa yang Lebih Baik

Diposting oleh On Thursday, February 18, 2021

Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis sendiri pada keluarga yang telah didaftarkan dan menjadi anggota BPJS kesehatan sudah sekitar 2-3 tahun. Tulisan ini dideskripsikan sejelas-jelasnya tanpa direkayasa dan semoga menjadi masukan yang bermanfaat bagi kita semua, win-win solution antara rakyat dan pemerintah.

BPJS kesehatan telah digunakan oleh penulis untuk mendafarkan ibu dan 2 adik kandung, dimana ibu kelas I dan 2 adik kelas III. Kala itu belum ada sistem pembayaran per-KK namun ketika membayar harus per nomor identitas masing-masing anggota yang didaftarkan. Kira-kira kala itu, kelas I sekitar 80 ribuan dan kelas 3 sekitar 25 ribuan sehingga total per bulan bayar sekitar 130 ribuan = 1.56juta/tahun. Penulis tetap membayarkan iuran tersebut bahkan sistem bayarnya per 6 bulanan agar tidak terlupa karena memang memiliki harapan tinggi pada fasilitas kesehatan dan jaminan yang diberikan BPJS kesehatan dan hitung-hitung sebagai pengalihan resiko ketika terdapat hal-hal yang tidak diinginkan seputar kesehatan.

Kemudian ada berita BPJS mengalami defisit yang sangat besar karena banyak penerima jaminan yang tidak lagi membayar ketika sudah mendapatkan pertolongan jaminan kesehatan. Kalau yang seperti ini menurut penulis adalah anggota yang wajib diselidiki dan ditagih terus door-to-door karena hanya ingin manisnya saja. BPJS kala itu langsung menaikkan iuran untuk kelas I sekitar 150rb-an dan kelas 3 tetap serta sistem pembayaran dipaksa per-KK langsung. Kala ini penulis sudah mulai curiga dengan sistem gotong-royong yang seperti ini, memaksa rakyat untuk membiayai kesehatan antar warga Indonesia. Penulis tetap mengikuti sistem pemerintah ini dan membayarkan ibu dan 2 adik per tahun kira-kira 2.4juta/tahun. Memasuki tahun-3 ada perubahan kebijakan lagi yaitu kelas 3 naik jadi sekitar 45ribuan dan dalam 6 bulan penulis membayarkan iuran sebesar 1.44juta dan selang beberapa lama ibu sedang sakit lemas dan pusing. Penulis menyarankan untuk ke Faskes I yaitu puskesmas, disana sistem kontrol sangat jelek yaitu tanpa ditensimeter, tanpa dilihat dan langsung keluar obat generik. Ibu penulis merasakan tidak kuat dan meminta untuk dirujuk ke RS terdekat namun tidak boleh karena harus mengikuti prosedur diobati terlebih dahulu dari Faskes I. Ibu menerima dan meminta obatnya pakai umum saja karena sudah tahu kualitas generik paling juga tidak efektif namun sekali lagi puskesmas menolak karena obat sedang kosong. Akhirnya ibu pulang dan menghabiskan obat selama 3 hari dan ternyata tidak berefek sama sekali sehingga ibu datang kembali ke Faskes I puskesmas. Kondisi yang semakin parah membuat ibu meminta tolong dirujuk di RS untuk periksa darah karena memang ada riwayat trombosit rendah. Sekali lagi sama puskesmas tetap tidak diijinkan dan kali ini ibu marah dan bilang anggota kelas I tapi kok perlakuan seperti ini. Pihak puskesmas menjelaskan bahwa kelas itu hanya untuk kelas kamar rawat inap bukan pelayanan dan obat. Serasa kaget mendengarkan informasi itu, ibu langsung telepon penulis dan langsung penulis sarankan untuk memakai umum saja ke RS, disana ibu dicek darah laboratorium dan memang sangat rendah trombosit-nya dan dokter bilang harus inap karena ini rawan pingsan dijalan. Akhirnya ibu rawat inap dan diperbolehkan pulang kalau trombosit sudah mendekati normal sekitar 3 hari. Bagaimanakah sistem di Faskes I apakah sudah layak memperlakukan seperti itu??.

Beberapa poin yang bisa penulis simpulkan tentang BPJS kesehatan ini adalah:

  1. Sistem penyelenggaraan sangat tidak bagus, dimana anggota yang lama terdaftar dengan yang kalau sakit tiba-tiba mendaftar disamaratakan sehingga potensi membuat kecewa anggota yang akif dan disiplin membayar sangat besar
  2. Defisit BPJS kesehatan lebih dikarenakan oleh tidak disiplinnya anggota instan terdaftar ketika sakit karena umumnya penyakit kronis dan ketika sembuh dari biaya BPJS mereka langsung tidak membayar iuran lagi
  3. Kelas di BPJS kesehatan sangat merugikan karena untuk preventif yang dibutuhkan anggota adalah perawatan dan obat sedangkan kelas di BPJS hanya untuk kamar rawat inap sehingga lebih baik anggota ikut saja kelas 3 dan kalau memang pas terdampak dan mengharuskan rawat inap maka upgrade sendiri ke kamar kelas I atau VIP akan menjadi lebih bagus
  4. Sistem gotong-royong seperti ini dirasakan penulis sangat merugikan kalau tidak diimbangi oleh komitmen semua anggota yang merasakan hasil dari jaminan kesehatan. Penulis menyimpulkan bahwa peran pemerintah yang harusnya menjamin kehidupan rakyat disini terbalik dimana rakyat yang sukarela saling tolong-menolong walaupun nantinya tidak mendapatkan manfaat sama sekali
  5. Penulis adalah pekerja kantoran, dimana ada 2 asuransi kesehatan yang diberikan yaitu BPJS yang sama kantor tidak dipakai sama sekali dan kedua adalah asuransi swasta yang dipakai kalau berobat. Dari sini sebenarnya bisa disimpulkan berapa banyak dana BPJS yang disumbang dari instansi kantor yang tidak memakainya namun mengapa BPJS selalu defisit, apakah di-korupsi atau memang sistemnya yang masih bobrok??
Melihat sistem BPJS yang seperti itu, penulis memutuskan untuk menghentikan iuran dan mengalihkan ke menabung di reksadana untuk kesehatan dan meng-asuransikan ibu ke swasta yang sangat baik pelayanannya. Selang 2 tahun berikunya tiba-tiba ada chat whatsapp masuk yang menginfokan dari BPJS pusat yang isinya bahwa atas nama ibu....dengan no. kk.....memiliki tunggakan tagihan sebesar 3juta sekian yang harus dibayarkan agar tetap mendapakan fasilitas kesehatan. Melihat ini, penulis merasa senang untuk men-counter mereka dengan menjawab dan bercerita seputar pelayanan kesehatan yang pernah dialami serta kekecewaan mendalam akibat pelayanan buruk tersebut dan memberikan saran "benahi dahulu sistem BPJS baru anda menagih kewajiban anggota".
Bercermin dari peristiwa tersebut, penulis sangat menyesalkan sistem BPJS yang masih belum bisa membuat anggotanya untuk puas merasakan pelayanan karena penulis pribadi dari kantor mendapatkan asuransi swasta yang sangat baik pelayanannya ketika dibutuhkan baik kamar, obat dan perawatannya. Penulis melakukan hitung-hitung jika nabung sendiri dibandingkan BPJS maka lebih baik nabung sendiri karena pelayanan umum di RS sangat jauh lebih baik dibandingkan BPJS terlebih ketika sudah darurat dirasakan karena BPJS kalau ditanya kamar sering kosong (pengalaman penulis sendiri untuk berobat paman) dan harus mengantri kamar sehingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu harus sewa kos dulu.
Alternatif lain penulis mencoba mencari konsep gotong royong yang dirasakan sangat baik sistemnya. Penulis bukan agen atau endorse dari platform ini melainkan merasakan sendiri betapa bagusnya sistem tolong menolong antar donatur di platform tersebut yaitu: "Saling Jaga Kita Bisa Tolong Menolong Sesama Donatur". Begini konsep detailnya:
Sampai artikel ini di-publish yaitu Feb 2020 sudah ada dana sekitar 10M dengan 668ribu anggota aktif termasuk penulis, ibu dan adik yang didaftarkan. Syarat umur pendaftaran ada yaitu 17-59 tahun. Platform KitaBisa ini mirip dengan BAZNAZ, Dompet Dhuafa dan Nurul Hayat yaitu penyalur dana sedekah, wakaf dan zakat mall. Di platform kita bisa melakukan itu semua sekaligus kita juga bisa tertolong nantinya ketidak terdapat hal yang tidak diinginkan.

Konsep yang dipakai adalah gotong royong saling tolong menolong sama dengan BPJS bahkan platform ini ada karena menurut penulis meluruskan sistem yang salah di BPJS.

Iuran yang diwajibkan di platform ini minimal 10ribu, jadi ketika kita menjadi donatur maka uang transferan pertama harus diatas 10 ribu misalnya penulis kemarin awal-awal 20 ribu.

Terdapat 2 kriteria bantuan yang bisa didapatkan donatur yaitu terdampak Covid-19 (masa tunggu dari awal keanggotaan adalah 21 hari) dan penyakit kritis (masa tunggu dari awal keanggotaan adalah 90 hari). Saldo minimum yang harus ada adalah 10ribu dan ketika dibawah itu maka masa menunggu akan di-reset lagi mulai dari 0 hari. Jadi donatur akan sering melihat saldo keanggoaan atau sekaligus menaruh saldo cukup banyak agar aman sewaktu-waktu tersedot untuk bantu sesama donatur terdampak. Konsep ini kalau ditiru oleh BPJS kesehatan maka bagimanakah rakyat Indonesia?? tentu rakyat akan rajin ikut mendaftar dan terus memantau saldo minimum mereka atau jika tidak mereka harus menunggu lagi masa menunggu mendapatkan bantuan. Berbedakan dengan sisem BPJS sekarang?? sangat beda, dimana anggota yang merasakan bisa instan daftar dan mendapatkan manfaat kemudian lari tidak membayar iuran. Jadi penulis mensarankan sistem-lah yang harus dibuat agar rakyat/anggota BPJS bisa aktif secara otomatis.
Bantuan yang bisa diberikan oleh sesama donatur tentunya mereka yang sudah terlewati masa menunggu dan saldo mereka diatas 10 ribu yaitu penyakit kritis sampai 100juta dan positif Covid-19 sampai 5juta. Terdapat beberapa persyaratan yang sangat mudah pengajuannya tinggal klik dengan unggah bukti rekam medis kemudian tim KitaBisa menindaklanjuti dengan konfirmasi ke pihak terkait atau menurunkan personil di anggota perwakilan untuk mengecek kebenaran si donatur terdampak tersebut. Setelah dinyatakan OK maka bantuan lamgsung ditransfer, sungguh mudah bukan.
Sistem pemberian bantuan/donor ke sesama donatur dinilai penulis sangat bagus dan BPJS kesehatan harus meniru ini. Yaitu misalnya ada donatur terdampak posiif Covid-19 mendapatkan bantuan 5juta maka bantuan itu dibantukan dari saldo seluruh anggota, 5.000.000/668.144 anggota=7.48 rupiah/anggota (nominal kecil sekali ya), kemudian jika misalnya ada donatur terdampak penyakit kritis mendapakan bantuan 100.000.000/668.144 anggota = 149.66 rupiah/anggota. Pengalaman penulis sendiri sudah sekitar 3 bulan terdaftar dan diisi saldo 40.000 sampai sekarang masih berkurang 400 rupiah untuk membantu sesama donatur. Sangat bermanfaat untuk pengalihan resiko kan dan juga menoong antar sesama.
Bagaimanakah jika sistem tersebut ditiru oleh BPJS kesehatan?? misalnya Rakyat Indonesia yang terdafar aktif BPJS adalah 80% dari total penduduk, 80% x 250.000.000 penduduk = 200.000.000 anggota, misalnya iuran masing-masing anggota rata-rata per bulan adalah 80.000 maka per tahun 960.000. Misalnya anggota BPJS terdampak sebesar20% maka 20% x 200.000.000 anggota x 10.000.000 biaya pengobatan = 400 trilyun maka dana terpotong masing-masing anggota adalah 200 trilyun/200.000.000 anggota = 1.000.000/anggota per tahun. Maka dengan konsep gotong royong saling tolong menolong maka angggota BPJS akan mempertahankan saldo mereka yaitu misalnya mempertahankan isi 1.200.000 (sehingga per bulan kena 100.000) sehingga ketika tidak memenuhi syarat ya tidak mendapat jaminan kesehatan. Jaminan tadi karena pasti dibayarkan anggota maka fasilitas yang diberikan ya setara asuransi swasta baik pemilihan kamar, obat dan pelayan perawatan. Ini yang diperbaharui adalah sistem dan rakyat akan memilih apakah ikut sistem dengan jaminan yang dirasakan bermanfaat atau tidak dan BPJS tidak lagi door-to-door menagih tunggakan ke anggota karena sisem dibuat transparan dan fasilitas yang bagus.

Referensi:
[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Kemana Harus Mengelola Keuangan Ketika Masih Resesi dan Ekonomi Negara Defisit??

Diposting oleh On Wednesday, January 20, 2021

Seluruh negara di dunia mengalami dampak akibat pandemi covid-19. Aktifitas pekerjaan dan perdagangan terhambat dan negara mengalami resesi akibat neraca dagang yang terus defisit selama beberapa kuartal. Tentu kondisi ini berdampak signifikan untuk para pemodal seperti investor saham dan pemilih perusahaan. Mereka akan mengamankan kekayaan/modal ke instrument yang aman terlebih dahulu seperti emas sehingga kita semua bisa lihat harga emas yang naik ak terkendali diluar batas kewajarannya. Sedangkan pemilik modal perusahaan banyak melakukan restrukturisasi SDM untuk bisa bertahan di tengah pendemi seperti ini.

Kita sebagai rakyat kecil harus pintar melakukan planning terhadap kondisi-kondisi demikian. Pengelolaan yang baik keuangan maka bisa menjadikan kita survive terhadap kondisi ekonomi yang masih memburuk. Penulis juga telah melakukan beberapa langkah agar bisa bertahan salah satunya adalah menarik saham BEI dan menaruhnya di obligasi/sukuk/reksadana pendapatan tetap. Emas dirasakan penulis masih belum wajar harganya sehingga masih menunggu moment yang pas untuk beli ketika harga sudah dirasakan resistance di bottom level.

Saat ini, investasi aman dan cukup likuid di instrument tersebut, karena obligasi pendapatan tetap terutama surat hutang pemerintah sangat cocok diinvestasikan karena resiko gagal bayar coupon sangat minim. Walaupun nilai kenaikan investasi ini relatif kecil namun masih diatas inflasi rata-rata dan diatas deposito sehingga masih cocok untuk investasi yang aman dikala pandemi.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Bukalapak Selanjutnya akan Menjadi Bisnis Apa??

Diposting oleh On Sunday, January 10, 2021

Penulis disini akan berbagi pengalaman selama terjun langsung sebagai penjual mupun pembeli di 3 marketplace yang berbeda yaitu Bukalapak, Tokopedia dan Shopee dari Tahun 2015 sampai sekarang. Penulis juga memberikan tips dan trik agar masing-masing marketplace bisa berjaya kembali atau ketika sudah berjaya sekarang agar lebih lama dalam berkuasa. Untuk Shopee yang Tahun 2020 menjadi raja marketplace bisa dilihat di artikel sebelumnya "Kebijakan Shopee yang Membuat Tahta Kekuasan Lebih Lama" dan untuk Tokopedia karena tahtanya baru saja direbut adiknya bule maka penulis juga memberikan tips agar bisa kembali berjaya, bisa dilihat di "Akankah Tokopedia Bisa Mengembalikan Kejayaan Masa Lampau??".

Bukalapak penulis juga telah memmberikan banyak masukan karena dulu sempat mengidolakan ini lama dan telah dibahas di detail di "Akankah Bukalapak Bisa Mengembalikan Kejayaan Masa Lampau??". Penulis disini akan menganalisa ketika lawan Bukalapak yaitu Tokopedia & Shopee terus-menerus berbenah dengan menerima masukan dari para buyer maupun seller. Ketika semua marketplace bersaing ketat maka penulis memprediksi Bukalapak akan kalah duluan dan akan mati suri untuk penjualan produk namun Bukalapak akan berjaya di bisnis digital IT seperti pembayaran (PLN, PDAM, pulsa, STNK, game online dll), investasi, asuransi, zakat, kursus pemerintah, dan akan tetap pro pemerintah menjadi display apapaun layanan pemerintah sehingga bisnis itu akan menjadi perkasa tanpa tanding.

Penulis sendiri juga melakukan kegiatan di Bukalapak, namun tidak untuk pembelian barang dan terbukti sangat lengkap dan tidak dimiliki oleh platform manapun. Produk digital IT yang ditawarkan sangat lengkap, mudah dipahami namun masih ada satu kekurangan yaitu bandwitch yang sangat lelet sampai Tahun 2020 ini belum juga teratasi. Sering kali loading, sudah di-refresh namun belum juga memberikan hasil bisa masuk ke website Bukalapak padahal untuk platfrom lain seperti Tokopedia dan Shopee sangat ringan dan fast loading.

Penulis akan terus mendukung untuk jalur bisnis Bukalapak baru ini karena diprediksi untuk bisa bersaing di pasar marketpalce sangat berat dan akan kalah kecuali telah membenahi sistem yang sudah pernah dibahas di artikel sebelumnya.

Referensi

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Tokopedia Surganya Para Penjual

Diposting oleh On Wednesday, December 30, 2020

Tokopedia dalam membuat kebijakan kepada dropshipper sebagai penjual sangat tepat dan terbukti di platform inilah banyak para dropshipper positif bersarang. Tokopedia menganggap dropshipper sebagai asset yang berharga karena derasnya arus penjualan mereka maka potongan layanan yang masuk ke kantong Tokopedia juga besar. Keperkasaan transaksi dropshipper sebagai penjual di Tokopedia didukung oleh bagusnya strategi Shopee untuk dropshipper sebagai pembeli. 2 marketplace ini ketika ada di Indonesia maka berjayalah dan balance transaksi menjadi lebih hidup. Terus kemanakah Bukalapak?? Bukalapak ketika tetap seperti kebijakan baru yang tidak memiliki strategi menggaet pasar maka diprediksi akan terus tergerus pasar sehingga kehilangan buyer maupun seller. Karena posisi Bukalapak tidak menguntungkan bagi dropshipper sebagai penjual maupun pembeli maka coba buktikan di Tahun 2020 maka anda akan tahu Bukalapak sepi produk yang dijual, sepi buyer dan sepi seller karena kebijakan baru yang dinilai kurang tepat seperti yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya "Kebijakan Baru Bukalapak yang Dinilai Kurang Tepat".

Dropshipper sebagai penjual di Tokopedia sangat menikmati dan seperti simbiosis mutualisme sehingga dropshipper yang hinggap disini bukan yang menjadi benalu namun yang benar-benar bisnis bertanggung jawab. Sistem optimasi judul dan search engine di Tokopedia adalah terbaik dan terbukti bekerja dibandingkan di Bukalapak dan Shopee. Banyak penjual di Tokopedia mendapatkan order dan new buyer tanpa harus mengeluarkan kantong tebal iklan tidak seperti Bukalapak dimana pengalaman penulis sebagai penjual, Bukalapak seperti mencari dana segar lewat penjualan sistem iklan dan search engine dinilai kurang efektif bekerja sehingga boncos terus-menerus. Bukalapak seringkali chat untuk isi kembali saldo iklan secara terus-menerus tiap hari dan ini membuat risih penjual yang notabene sebagai asset mereka dan mereka hanya memandang keuntungan pribadi. Penulis sebagai penjual menilai bahwa Bukalapak kehabisan arus kas untuk operasional mereka dan mencari pendapatan lewat sistem iklan tersebut. Kurang elegan dan berwibawa sekali menurut pengalaman penulis cara seperti ini dan jika dibandingkan dengan Tokopedia sangat jauh berbeda karena lebih cool dan berwibawa.

Dropshipper sebagai penjual di Tokopedia diuntungkan dengan sistem pergantian ekspedisi yang tidak ribet tinggal centang saja dan sejauh ini juga tidak ada komplain dari buyer. Senjata inilah yang membuat Tokopedia masih diatas Bukalapak ketika datang Shopee si pendatang baru. Sistem pinalti ketika menolak barang-pun di Tokopedia tidak sekejam di Bukalapak dan Shopee, dimana penjualan toko langsung di-down-kan dan produk hilang dari pencarian. Tokopedia memberikan sistem yang bagus dan saran penulis teruskan sistemmu ini karena ini membuat platform-mu akan terus bangkit seiirng perkembangan jaman dan ketika mendengarkan saran dan kritik dari pengguna setiamu, seperti apa iti bisa dibaca di "Tokopedia Bisa Merebut Kembali Kejayaan Masa Lalu" maka kamu akan bangkit kembali.

Penulis yang telah pengalaman sebagai penjual dan pembeli di beberapa marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia dan Shopee telah merasakan sistem kelebihan dan kelemahan masing-masing marketplace. Disini, penulis selalu support kebijakan Tokopedia terhadap pro-nya kepada dropshipper sebagai penjual walaupun penulis disini bertindak sebagai penjual organik dan kedepan ketika sistem digital IT sudah full diberlakukan tidak dipungkiri penjual juga akan melakukan dropshipper untuk barang yang dinilai perputarannya lambat dan membutuhkan modal yang besar. Penulis juga memprediksi, marketplace lama asli Indonesia yang bisa merebut tahta kembali yang telah direbut Shopee adalah Tokopedia sedangkan Bukalapak akan mati jika tidak berbenah namun akan berjaya sebagai penyedia layanan digital dan tidak sebagai marketplace produk.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Shopee Surganya Para Pembeli

Diposting oleh On Saturday, December 19, 2020

Shopee sangat detail memperhatikan, menganalisa dan mengeluarkan kebijakan terkait perebutan konsumen marketplace di Indonesia. Penulis disini yakin bahwa Shopee telah banyak menggaet orang-orang Indonesia yang berpengalaman di jual-beli online bahkan diyakini telah melakukan survey secara matang apa kelemahan dari Bukalapak, Tokopedia dan Lazada. Perlu kita ketahui bahwa Shopee adalah platform dari Singapura yang didirikan Tahun 2015 dan sedang jaya No. 1 di Indonesia, sedangkan Bukalapak berdiri  Tahun 2011 dan Tokpedia Tahun 2009 dimana keduanya adalah platform asli Indonesia, dimana sedang mati suri dengan kehadiran Shopee si pandatang baru.

Tahun 2020 ini Shopee telah menjadi raja marketplace di Indonesia dengan kebijakan lama yang bagus walaupun untuk melangkah semakin kesini Shopee telah banyak melakukan kebijakan baru yang dinilai malah akan membuat marketplace yang mati suri bisa bangkit kembali, seperti yang sudah diulas pada artikel sebelumnya "Kebijakan Baru Shopee yang Dinilai Kurang Tepat". Kali ini penulis akan membahas detail tentang perkembangan dropshipper di platform Shopee.

Shopee adalah surganya dropshipper sebagai pembeli dan telah mengambil kebijakan yang tepat dimana tidak dimiliki oleh Bukalapak dan Tokopedia. Seperti apa itu?? Shopee telah membebaskan seluruh program baik gratis ongkir, cashback extra, diskon khusus dan award level pembeli (silver, gold & platinum) kepada semua pembeli ke aplikasinya baik organik, dropshipper maupun new buyer. Kebijakan ini dinilai sangat tepat, karena Shopee memandang dropshipper adalah pembeli yang meramaikan transaksi di platform mereka sehingga barang penjual bisa laku dan mengalami perputaran yang tinggi. Terbukti juga di Tahun 2020, Bukalapak sangat sepi dropshipper sebagai pembeli padahal sebelumnya Bukalapak ramai dropshipper dan kebijakan baru malah membuat sepi arus transaksi di platform mereka. Ketika kebijakan perihal dropshipper dibuat sama dengan Shopee maka produk yang dijual di Bukalapak akan berputar dengan tinggi sehingga penjual didalam platform juga menikmati hasilnya. Untuk Tokopedia sedikit lebih bagus dibandingkan Bukalapak namun kalah telak dengan Shopee sehingga membutuhkan tips dan trik agar bangkit lagi, seperti yang telah diulas di artkel sebelumnya "Tokopedia Bisa Merebut Kembali Tahta Marketplace"

Dropshipper memang sering kali disebut oleh marketplace sebagai benalu yang merugikan, namun penulis yang pengalaman terjun langsung sebagai penjual dan pembeli di marketplace berbeda-beda menganggap itu semua kurang tepat. Memang ada beberapa data, dropshipper bisa menjadi benalu yang merugikan nama platform seperti upload massal produk yang mirip dan tidak memiliki keunikan dengan toko lain, tidak ada stok barang sehingga sering cancel order dari buyer, tingkat kecepatan transaksi yang kurang karena tergantung oleh supplier utama. Menanggapi hal tersebut, penulis memberikan masukan ke semua marketplace, agar memilah dan mendepak penjual sesuai persyaratan menjadi benalu yang merugikan tersebut, namun tidak menggelontorkan kebijakan ke semua dropshipper karena disamping itu terdapat hal yang membuat dropshipper adalah senjata pembuang produk ke marketplace lain.

Dropshipper yang dinilai bagus oleh penulis dengan beberapa alasan seperti dropshipper adalah pemutar barang yang lebih bergairah daripada penjual organik karena asset mereka adalah komunikasi dan jaringan info barang sehingga lebih update informasi dan lebih care ke buyer. Coba perhatikan ketika ada chat masuk, maka si dropshipper akan melayani lebih bagus daripada penjual organik dan lebih cepat. Dengan adanya itu, maka buyer akan minilai bahwa platform menjadi lebih terpercaya dan datanglah banyak new buyer dari luar. Selain itu, dropshipper yang selektif memilih produk dengan optimasi produk dan mengupload satu per satu barang dengan jeli melihat trend konsumen serta memberikan judul + deskripsi yang jauh berbeda dengan toko lain maka dropshipper seperti ini malah membuat hidup platform karena produk yang ditampilkan lebih komplit ketika buyer search.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Tujuan Perusahaan Berebut Konsumen E-Money adalah Crowd Funding

Diposting oleh On Tuesday, December 08, 2020

Pada tahun digital IT ini, sungguh telah kita rasakan pertempuran beberapa plaform perusahaan sistem pembayaran cashless (e-money) seperti Go-Pay, OVO, DANA, Shopee Pay, LinkAja, I-Saku, Sakuku, Mandiri Online, PayTren dan masih banyak lagi. Perlu kita ketahui digital payment ini pasti terjadi dan pelan-palan akan all cashless seperti pembayaran di tol, bus, tiket dan outlet-outlet penjual makanan. Perusahaan tersebut saling berebut konsumen agar anggota/pengguna yang banyak bisa mendukung visi-misi yang jauh kedepan.

Tujuan sebenarnya dari berebut konsumen adalah crowd funding (dana terkumpul), dimana ketika para pengguna platform mengisikan dompet/saldo digital-nya maka terkumpullah dana tersebut di pusat platform pengendalian dan tentu uang ini bisa digunakan untuk mengembangkan bisnis atau diputar ke investasi lain oleh plaform. Digital payment ini cukup aman karena sudah diawasi oleh pemerintah lewat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga para platform akan tetap menjamin keamanan uang dari para pengguna-nya.

BACA JUGA: Apakah Kejayaan Go-Pay dan OVO Sudah Berakhir??

Seberapa pentingkah crowd funding bagi perusahaan?? ketika perusahaan tidak memiliki uang sendiri untuk keberlangsungan bisnis tentunya mereka akan pinjam uang dari bank atau lewat penjualan saham sehingga ada investor masuk. Pinjam dari bank tentunya terdapat bunga sedangkan saham ada deviden dan laporan usaha triwulanan yang harus di-publish public yanga membutuhkan resource dan biaya yang cukup besar. Berbedakah sistem ketika crowd funding?? sangat berbeda, dimana uang terkumpul di dompet digital, tidak ada kewajiban platform memberikan bunga dan ketika hilang seperti terjatuh maka si pengguna tidak bisa berbuat apa-apa karena memang secara fungsi sama seperti dompet. Dari sini, platform sudah menang segalanya, belum lagi uang yang ter-deposit banyak dan tidak segera dibelanjakan yang berarti si pengguna memberikan suntikan modal kepada platform e-money secara cuma-cuma tanpa mendapatkan imbalan. Selain itu, pengguna digital payment malah ditarik uang admin ketika isi saldo dan lagi-lagi ini menjadi pemasukan si platform, sungguh menggiurkan bukan??

Berdasarkan uraian tersebut, betapa menggiurkannya bisnis digital payment ini dan semua perusahaan berebut pengguna sebanyak-banyaknya untuk menyambut tahun digital IT yang notabene kedepan akan full e-money. Terdapat aturan yang diberlakukan untuk semua platform tersebut yaitu maksimal saldo adalah Rp10.000.000, ini sebagai keamanan ketika digital payment card jatuh maka tidak terlalu besar kehilangannya. Tips yang penulis sarankan untuk pengguna dompet digital adalah isilah dompet sesuai kebutuhan atau ketika sedang membelanjakan karena perputaran uang anda di kehidupan sendiri juga cukup berarti ketimbang diputar oleh perusahaan yang belum tahu peruntukkan perputaran uang. Bijaklah dalam penggunaan dompet digital karena yang tertera di saldo hanya nominal sehingga dirasa sangat sedikit dan terus-menerus ingin membelanjakan. Tentu sangat berbeda jika membawa uang tunai, misal Rp1.000.000 bandingkan antara tunai dan digital lebih besar mana anda membayangkannya. Kalau penulis sendiri lebih besar yang tunai dalam pikiran dan dalam dompet digital nominal dirasa kecil sehingga rasa gatal untuk mengurangi sedikit-demi sedikit untuk belanja tidak terasa dan tiba-tiba habis.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Kemeriahan HARBOLNAS untuk Apa Sebenarnya

Diposting oleh On Saturday, December 05, 2020

HARBOLNAS adalah Hari Belanja Online Nasional, ini adalah suatu pergerakan bersama yang dilakukan di seluruh belahan dunia untuk memeriahkan belanja online. Kapan HARBOLNAS?? awalnya pergerakan ini terjadi pada 12-12-2012 karena memiliki tanggal yang cantik dan dilakukan oleh beberapa platform digital untuk mengenalkan dan menggalakkan belanja online lewat serangkain diskon cuci gudang akhir tahun. Pergerakan itu terus terjadi sampai sekarang dan diperingati setiap 12-12 dan memang benar semua marketplace melakukan diskon gila-gilaan untuk manggaet para konsumen sehingga memaksa masyarakat download dan install platform di gadget masing-masing.

Kejadian transaksi lebih di akhir tahun ini sebenarnya tidak hanya di marketplace dan berdasarkan pengalaman penulis ini terjadi hampir di semua lini yang transaksi base seperti seham BEI, iklan di media sosial, tiket or biaya hiburan (travelling, hotel, akomodasi). Tidak heran kalau marketplace sedang mengenalkan aplikasi mereka secara bersama lewat event tersebut. Pengalaman penulis, diskon besar pada HARBOLNAS dihkususkan oleh pelanggan yang baru install atau pelanggan premium sebagai apresiasi, sehingga kalau ditilik tujuan sebenarnya juga tidak terlepas dari strategi marketing.

BACA JUGA: Big Sale Jual-Beli Online Akhir Tahun (Kuartal IV)

Para kaum millineal tentu akan menyimpan amunisi berlebih untuk persiapan HARBOLNAS atau event transaksi lain karena pasti ada diskon menarik yang besar termasuk penulis juga seperti itu karena di tahun digital IT ini kita dituntut untuk adaptif dan selektif untuk memilih pilihan yang ekonomis dengan daya manfaat tinggi. Sebagai seller di marketplace, penulis juga menyiapakn stok barang untuk amunisi ikut program yang dilakukan platform pada tanggal tersebut (12 Desember).

Strategi marketing di tahun digital IT ini sugguh beragam dan kreatif sehingga menarik konsumen dan lebih tepat tepat sasaran. HARBOLNAS ini juga merupakan teknik bakar-bakar uang dan yang diuntungkan banyak adalah konsumen walaupun akhirnya platform juga dapat keuntungan dengan hadirnya pengguna baru.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Pengalaman Jual-Beli Online di Marketplace Shopee

Diposting oleh On Sunday, November 01, 2020

Shopee merupakan marketplace pendatang baru di Indonesia dan mulai meningkat pesat di awal Tahun 2020. Pengalaman penulis sebagai seller di awal-awal Shopee masuk Indonesia adalah platform yang kurang easy untuk user karena menu yang cukup tersembunyi sampai pada sampai akhirnya penulis meninggalkan platform ini cukup lama.
Shopee terus mencoba mengalahkan dominansi Bukalapak dan Tokopedia di Indonesia, lewat fitur-fitur menarik, promo gila-gilaan dan gratis ongkir tanpa batas. Teknik membunuh 2 raksasa marketplace di Indonesia terbukti sukses setelah sekian tahun berbenah dan puncaknya di Tahun 2020. Penulis mencoba menjadi buyer pertama kalinya di akhir Tahun 2019, disana buyer sudah disuguhkan cashback extra + gratis ongkir. Betapa terkejutnya penulis melihat subsidi yang diberikan oleh Shopee tersebut sampai akhirnya penulis betah menjadi buyer Shopee sampai hari ini.


Kehadiran Shopee ini terbukti menjadi raja marketplace Tahun 2020 di Indonesia dan platform lain seperti Bukalapak di era kepimpinan baru menerapkan strategi yang mirip di Shopee yaitu diskon dan gratis ongkir yang terus-terusan sedangkan Tokopedia adem ayem tenang tanpa ada ekspresi ingin ber-inovasi (akankah Tokopedia menjadi tumbal berikutnya atau kehabisan dana setelah bakar-bakara uang kala itu). Bukalapak dengan teknik barunya sudah telat dan kini tinggal kenangan pada Bukalapak dan menyambut platform yang lebih bisa menyajikan kebutuhan milineal.
Pengalaman penulis menjadi seller di Shopee dimulai Tahun 2020 awal karena melihat potensi perkembangan pasar yang cukup baik dan betapa terkejutnya ternyata kelemahan Shopee ada di potongan biaya penjualan yang cukup besar bagi seller dibandingkan platform lain. Kelemahan ini tidak diambil pusing oleh seller karena di Shopee tidak ada namanya iklan yang diprioritaskan dan semuanya sama sehingga para seller menganggap biaya potongan sebagai iklan di toko mereka karena disajikan embel-embel cashback extra + gratis ongkir di tampilan produk.
Tahun 2020, Bukalapak menerapkan pengetatan penjualan dengan berbagai sanksi jika ini itu, ketat dalam hal dropshipper, target penjualan dan lain-lain yang malah membuat lari para seller dari platform tersebut sedangkan Tokopedia tetap tenang, cool dan tidak berbenah sehingga seller nyaman di platform hijau tersebut. Shopee dalam hal peraturan juga cukup ketat, namun potensi keuntungan lain bagi seller juga ada sehingga menambah nyaman seller maupun buyer yang memakai platform tersebut.


Sampai saat ini, Shopee adalah marketplace yang memberikan subsidi kepada buyer tidak tanggung-tanggung, gratis ongkir + cashback extra yang terus-menerus lewat sistem pembayaran digitalnya Shopee Pay. Sistem komplain Shopee ke CS adalah yang terbaik dari CS marketplace Bukalapak & Tokopedia. Disisi lain, untuk pembayaran tagihan Shopee juga memberikan diskon yang paling baik daripada platform lain, namun sayang Shopee per Agustus 2020 sudah beralih ke pembayaran cashless semua yang ini sangat dibenci para dropshipper padahal dropshipper adalah yang memberi warna dan menghidupkan arus transaksi di marketplace
Dengan adanya perubahan total ke cashless tersebut, para seller mulai move on kembali ke Tokopedia dan Bukalapak karena masih menyediakan sistem manual dan semoga kedepan antara ketiga marketplace ini tetap memberikan yang terbaik disamping memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Pengalaman penulis sebagai buyer produk lebih senang memakai Shopee karena subsidinya besar, sebagai seller lebih suka Tokopedia karena layanan ada yang manual dan otomasi judul yang bekerja maksimal dan sebagai investor lebih suka Bukalapak karena produk reksadana yang banyak pilihannya serta tabungan emas yang bagus dalam sistem jual-belinya.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Pengalaman Jual-Beli Online di Marketplace Tokopedia

Diposting oleh On Wednesday, October 21, 2020

Sudah dipaparkan detail cerita penulis memulai terjun di dunia marketplace, baca di artikel sebelumnya "Pengalaman Jual-beli di Marketplace Bukalapak" sehingga di artikel ini akan langsung diceritakan pengalaman penulis selama menjadi buyer dan seller di Tokopedia. Tahun 2015-2017, penulis senang belanja di Bukalapak namun Tahun 2018 keatas penulis lebih senang belanja di Tokopedia dengan beberapa alasan yaitu Tokopedia lebih dahulu beralih ke sistem uang digital menggandeng platform OVO dan banyak memberikan cashback berupa OVO points, sedangkan Bukalapak telat dalam hal ini yang nantinya menggandeng platform DANA.

Tahun 2018 keatas, Tokopedia gencar iklan di media sosial, banner di jalanan dan TV sehingga masyarakat mulai mengenalnya. Tokopedia juga memberikan fitur yang membuat nyaman konsumen yaitu lewat pecahkan telur setiap berapa jam sekali dan penulis juga sangat senang memecahkan telur tersebut untuk mendapatkan kupon undian walaupun dirasakan sangat konyol dan kurang berguna (entah karena penulis tidka tahu pengumuman atau memang Tokopedia tidak memberikan akses luas informasi), namun dengan metode tersebut, Tokopedia telah berhasil memikat banyak hati konsumen untuk mampir melihat platform-nya. Penulis pada tahun tersebut telah meninggalkan pembelian di Bukalapak dan beralih nyaman di Tokopedia. Pada itu juga muncul penantang baru yaitu Shopee, namun penulis merasakan platform Shopee kurang easy bagi user pemula yang browsing produk sehingga masih ditinggalkan dan tetap memilih Tokopedia

BACA JUGA: Jangan Diam Tokopedia, Tahtamu Sudah Diambil Lho!!

Pengalaman penulis sebagai seller dimulai Tahun 2017 dengan instalasi beberapa platform yang sudah dijelaskan di artikel sebelumnya. Awal mulai jualan di Tokopedia kurang diminati oleh buyer, bahkan teknik bakar uang dengan iklan yang telah dijalankan penulis di Tokopedia tidak membuahkan hasil apapun karena teknik Tokopedia yang cukup jelek yaitu menyebarkan produk ke semua media sosial, baik di klik ataupun tidak oleh pengunjung maka pengiklan tetap harus membayar sehingga indikator keberhasilan dan tepat sasaran tidak bisa terukur. Hal ini berbeda dengan teknik yang dimiliki Bukalapak yaitu berbayar ketika di klik pengunjung dan terbukti efektif mendatangkan buyer.

Seiiring berjalannya waktu, Tokopedia melakukan pembenahan sistem iklan seperti Bukalapak dan kali  ini terbukti cukup efektif mendatangkan pengunjung walaupun tidak seimbang antara pengeluaran dan penghasilan. Teknik iklan kemudian ditinggalkan penulis dan beralih ke teknik otomasi judul dan dari teknik ini Tokopedia memberikan feedback sangat bagus dibandingkan Bukalapak, terbukti penjualan meningkat drastis mengalahkan Bukalapak dan status toko menjadi 2 bintang perak dalam waktu singkat. 

Pada Tahun 2019 ke 2020 adalah masa keemasan Tokopedia dan menjadi raja marketplace di Indonesia. Pamor Bukalapak turun dan menjadi tumbal yang siap mati terbukti dengan PHK massal dan pergantian tongkat kepemimpinan. Tokopedia pada Tahun tersebut banyak mendapatkan award untuk kategori marketplace dan dari segi pelayanan komplain Tokopedia memberikan pelayanan yang sangat bagus dibadingkan Bukalapak dengan hadirnya No. Telp CS yang bisa dihubungi kapanpun, chatting CS yang fast response by FB dan chatting CS by aplikasi, dimana hal ini tidak dimiliki oleh Bukalapak.

Memasuki awal Tahun 2020, Tokopedia terlena dengan mahkota-nya dan tidak menyadari akan hadirnya kompetitor yang  lebih inovatif yaitu Shopee. Platform orange itu, gencar iklan secara masif di semua media dan promo gila-gilaan sehingga masyarakat mulai tertarik untuk install dan menjajaki platform Shopee sampai akhirnya tumbanglah dominansi Tokopedia di Tahun 2020 ini. Lebih detail baca "Pengalaman Jual-beli di Marketplace Shopee"

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Shopee Pay Pendatang Baru Tanpa Saingan

Diposting oleh On Wednesday, October 14, 2020

Sebagian besar orang akan bingung dengan judul yang penulis buat karena penyelinapan si adik yaitu Shopee Pay untuk merebut tahta sang kakak yaitu OVO sangat halus tanpa iklan dan di waktu yang tepat. Dia datang seperti adik yang cerdik dimana kakaknya sudah kelelahan dalam hal berlari terus semakin tinggi dan tinggi. Penulis sendiri sesudah adanya kelonggaran aktivitas karena pandemi COVID-19 mencoba jalan-jalan ke outlet franchise dan betapa terkejutnya terdapat tempelan yang menerima pembayaran dengan Shopee Pay terlebih terdapat tulisan diskon gilan-gilaan.

Rasa penasaran penulis muncul, kemudian mencoba mencari tahu dan browsing di internet ternyata semester 2 Tahun 2020, Shopee Pay telah melebarkan sayap dominansinya ke sistem pembayaran digital di Indonesia. Tidak berselang lama, penulis mencoba jalan-jalan ke mall dan betapa terkejutnya bahwa Shopee Pay juga sudah masuk ke outlet-outlet tanpa ada saingan dari platform lain. Murni beruntungkah atau strategi Shopee Pay yang tepat untuk masuk karena waktu ini 2 raksasa yaitu Go-pay dan OVO sudah tidur pulas??.

BACA JUGA: Apakah Kejayaan GoPay dan OVO Sudah Berakhir

Penulis yang notabene sudah sangat suka pembelian online lewat Shopee dan pengisian saldo Shopee Pay yang cukup banyak maka ketika di outlet dan toko franchise bisa pakai Shopee Pay mencoba melakukan pembayaran digital dengan itu dan betapa terkejutnya yaitu cashback yang diberikan dalam bentuk Points sangat besar melebihi Go-Pay, OVO dan DANA pada masa kejayaannya. Apakah teknik bakar-bakar uang Shopee Pay ini akan terus berlangsung atau ada penantang baru yang muncul atau malah kakaknya yang sedang tidur akan bangun lagi untuk merebut tahta kembali, akan kita lihat dan analisa lagi kedepan.

Berdasarkan pengalaman penulis menggunakan Shopee Pay di platform Shopee, memang diskon yang diberikan sangat-sangat gila meliputi hampir semua penjualan jenis produk yang ada di marketplace lain dan tidak tertandingi sampai waktu tulisan ini dibuat (semester 2 Tahun 2020). Hadirnya persaingan yang sehat ini, menguntungkan konsumen namun kita semua tidak tahu visi dan misi mereka selanjutnya dan akan kami bahas detail di artikel "Mengapa Platform Digital Bakar-Bakar Uang??".

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Pertarungan Bisnis Marketplace dan Shopee Pemenangnya

Diposting oleh On Saturday, October 03, 2020

Tahun 2020 ini menjadi cerita yang baru dalam dunia marketplace Indonesia. Dimana penulis sendiri dulu hanya kenal dengan Bukalapak dan Tokopedia sekarang berbeda, memaksa penulis kenal dengan Shopee. Iklan, diskon dan program gratis ongkir Shopee di Tahun 2020 sangat masif, baik di media sosial, youtube dan TV. Penulis sendiri dulu kolot bahwa Bukalapak dan Tokopedia lah yang tetap menjadi idola ketika ingin beli produk secara online karena lebih terpercaya dengan diskon yang cukup melimpah.

Tahun 2015-2017 penulis lebih suka belanja di Bukalapak, karena platform yang dirasa lebih eye catching ada diskon tiap lapak dan subsidi gratis ongkir. Beranjak Tahun 2017-2019, Tokopedia hadir dengan iklan secara masif dan memberikan banyak subsidi dan kejutan-kejuatan lewat pecahkan telurnya. Saat itu juga Shopee hadir, namun ketika penulis membuka platform serasa asing dan sulit mencari produk yang diinginkan. Masa itu adalah jaman keemasan Tokopedia karena iklan dimana-mana dan transaksi No. 1 di marketplace Indonesia dan mendapatkan banyak award atas prestasinya. Kelebihan Tokopedia juga dalam hal layanan komplain, dimana Bukalapak masih mengandalkan robot chatting menjadikan itu idola para buyer.

BACA JUGA: Dengarlah Shopee Agar Bisa Bertahan Lama dengan Mahkotamu

Tahun 2019 menginjak ke 2020, pendatang baru semakin bertaji dan menunjukkan banyak inovasi. Dengan platform khas orange-nya gencar iklan secara masif, gratis ongkir tak terbatas, program flash deal, Rp 1 dan kejutan-kejutan lain lewat aplikasi yang membuat para konsumen betah ada di platform-nya. Tahun 2020 ini menjadikan Bukalapak dan Tokopedia harus tunduk menyerah, ditandai dengan PHK massal Bukalapak yang tidak mampu lagi mampu membiayai fix cost. DIRUT-nya pun diakui telah telat mengambil keputusan akan adanya kehadiran marketplace baru yang lebih inovatif dan penggantian DIRUT tidak juga membuat banyak berubah walaupun sampai sekarang banyak diskon dan gratis ongkir yang diberikan namun tetap saja konsumen sudah berpindah nyaman di platform lain.

Shopee menjadi pemenang marketplace di Tahun 2020 dengan program diskon gila-gilaan dan gratis ongkir yang tak terbatas, walaupun juga memiliki kelemahan dalam hal potongan biaya yang cukup besar bagi penjual dibandingkan marketplace yang lain namun ini tidak menjadikan masalah bagi penjual karena program iklan di Shopee tidak ada sehingga antara penjual fair tidak seperti marketpalce lain yang harus mengeluarkan biaya iklan cukup besar agar tampil teratas di pencarian produk.  Penulis merupakan pelaku jual-beli online di 3 marketplace tersebut dan sekarang yang tetap tenang tanpa memberikan perubahan yang berarti adalah Tokopedia dan apakah dia juga akan siap terlempar dari nominasi marketplace Indonesia, kita lihat saja ke depan jika Tim Tokopedia tidak memberikan inovasi yang berarti sedangkan Bukalapak sudah cukup berbenah maka Tokopedia akan menjadi tumbal berikutnya. Penjelasan detail penulis selama jual-beli di marketplace di tulis di "Pengalaman Jual-Beli di Bukalapak Sampai Tahun 2020".

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Dengarlah Bukalapak, Kamu Masih Bisa Bangkit Kembali !!!

Diposting oleh On Thursday, September 24, 2020

Penulis kali ini akan menceritakan pengalaman jual-beli online yang telah dilakukan sejak Tahun 2015 dan cukup banyak mengetahui perkembangan sistem marketplace di Indonesia. Berdasarkan pengalaman langsung dan analisis terdapat beberapa kelebihan dan kelamahan masing-masing platform maka disini penulis akan memberikan masukan kepada Bukalapak agar tahta yang sudah hilang di Tahun 2020 ini bisa kembali didapatkan.

Penulis disini bertindak sebagai penggemar Bukalapak dan sempat judge bahwa Bukalapak adalah marketplace yang mudah dipahami semua orang, memberikan produk yang lengkap dan menu fitur yang bisa digunakan untuk apa saja sehingga penulis sebagai buyer sangat betah di platform ini. Namun, melangkah kesini tepatnya ketika Bukalapak diguncang dengan PHK massal karyawan dan pergantian pimpinan, sungguh terasa Bukalapak memang dalam kondisi mati suri. Berikut saran penulis agar Bukalapak bisa bertaring kembali.

Bukalapak dalam hal memberikan diskon + gratis ongkir sangat nanggung dan saran penulis sebaiknya meniru Shopee. Di Bukalapak, diskon yang diberikan dulu awal-awalnya cuma Rp100-Rp1000, nominal segini untuk apa dan lebih baik dibuang karena malah mengecewakan buyer karena notabene uang segitu bagi semua orang adalah receh dan jika jatuh di jalanan pun tidak diambil. Seiring waktu berjalan kearah sini, Bukalapak berbenah diri dengan memberikan diskon Rp5000-Rp20.000 kali ini cukup menggiurkan buyer belum lagi program gratis ongkir yang terus-menerus diberikan. Terdapat kelemahan Bukalapak disini dan ini seharusnya menjadikan mereka berbenah yaitu limit waktu yang dibuat sangat pendek dan cenderung program tersebut dikategorikan untuk pembelian barang khusus (pengalaman penulis sebagai buyer, diskon baru muncul hanya bisa digunakan untuk membeli jenis produk dimana ketika kita barusan membeli jenis produk tersebut). Betapa diskon ini hanya untuk isi-isi saja tanpa bisa maksimal digunakan buyer karena tentunya buyer akan membeli jenis produk lain dalam waktu dekat. Analisis penulis, ini hanya sebuah akal-akalan memberikan diskon + gratis ongkir yang targetnya memang jangan digunakan.

Tahukah Bukalapak di Tahun 2019 keatas, produk di platform anda sangat minim. Penulis sebagai buyer sering kecewa melakukan pencarian di Bukalapak karena marketplace lain yaitu di Shopee dan Tokopedia bisa menampilkan banyak, di Bukalapak sama sekali tidak ada dan jika adapun pada lapak yang sudah mati berbulan-bulan.  Hal ini menurut analisis penulis adalah karena strategi kebijakan Bukalapak yang salah yaitu barang yang tidak laku dalam sekian bulan akan dinonaktifkan secara paksa. Penulis memprediksi banyak seller lari ketika terdapat kebijakan down system tersebut, padahal seharusnya Bukalapak memandang semua yang ada di platform adalah asset bukan sebagai rintangan atau jika memang dipilah jangan main kasar sembrono gitu tanpa seleksi akal manusia. 

BACA JUGA: Bukalapak & Tokopedia, Siapkah Mengembalikan Kejayaan Masa Lalu??

Untuk masalah gratis ongkir yang tidak bisa dinikmati oleh dropshipper  adalah keputusan yang salah besar, coba Bukalapak lihat Shopee dimana penjual tipe apa saja bisa merasakan semua program sehingga banyak dropshipper akan memutar transaksi di sana dan menjadi bergeraklah barang dari penjual di Shopee. Di Bukalapak, karena tidak ada prgram yang dinikmati dropshipper, maka ketika ada orderan dari marketplace lain akan mengambil dari Tokopedia, karena Tokopedia cukup baik dari sisi cashback Ovo Points walaupun untuk program gratis ongkir juga sama saja dengan Bukalapak. Lagi-lagi kelemahan Bukalapak + Tokopedia dimanfaatkan oleh Shopee, dimana Tahun 2020 menjadi pemegang tahta marketplace di Indonesia.

Sistem nyeleneh lain yang dilakukan Bukalapak adala sistem perhitungan saldo yang dilepas ke seller salah dan pengetatan reseller yang dilakukan Bukalapak sampai sekarang. Seperti apa itu?? penulis merasakan sekali server Bukalapak sangat berat dan sulit loading dibandingkan platform lain. Dalam hal IT, Bukalapak sangat parah belum juga berbenah. Bukalapak menerapkan banyak akses yang merugikan reseller walaupun pada akhirnya sedikit dibuka kembali (ingatkah Bukalapak pihak yang mem-balance transaksi antar marketplace adalah para reseller sehingga platform menjadi lebih hidup dengan banyak variasi produk).

Disisi lain, penulis sejauh ini sudah 2x di email untuk mengembalikan uang lewat transfer ke rekening Bukalapak karena kesalahan sistem dalam menghitung saldo yang dilepas ke seller. Hai Bukalapak, ini kesalahan seller atau sistem anda?? sebaiknya jangan berbuat demikian karena akan menambah citra buruk anda di mata publik dan sebaiknya berbenah internal agar citra baik terus meningkat. Dari sini semakin menambah keyakinan bahwa sistem IT dan Artificial Intelligence (AI) Bukalapak sangat buruk dan harus berbenah agar bisa bangkit kembali.

Penulis sebagai seller, sering kali menggunakan sistem iklan di Bukalapak dan terus boncos sampai akhirnya Bukalapak hampir tiap hari terus-menerus mengirimi chat otomatis untuk isi saldo iklan. Untuk masalah ini, Bukalapak sebaiknya meniru Tokopedia, terbukti penulis mendapatkan buyer potensial terhadap iklan yang digunakan. Penulis menganalisis bahwa Bukalapak sedang 'cari-cari uang" untuk menutup operasional lewat jualan saldo iklan, sampai seller risih melihat chat otomatis yang tiap hari muncul. Saran penulis, jadilah platform yang macho berwibawa tanpa menjual diri, tunjukkan sistemmu sudah baik dan berguna bagi seller maka mereka semua akan mengapresiasi sistem anda.

Penulis membuat kritik san saran seperti itu karena ingin Bukalapak yang merupakan platform asli Indonesia jangan sampai kalah dengan platform asing lain. Penulis berbuat demikian karena ingin Bukalapak jaya lagi seperti dahulu. Teruslah berbenah Bukalapak, kamu masih bisa merebut tahta kembali di Tahun 2020 ini.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Dengarkanlah Shopee agar Bisa Bertahan Lama dengan Mahkotamu !!!

Diposting oleh On Friday, September 18, 2020

Penulis ingin mengupas saran-saran berdasarkan analisis terjun langsung melakukan transaksi jual-beli dari Tahun 2015 sampai sekarang di beberapa marketplace seperti Bukalapak, Lazada, Tokopedia dan Shopee. Penulis telah berkali-kali merasakan layanan dan sistem di aplikasi tersebut sehingga bisa bercerita sejarah naik-turunnya rating aplikasi di kalangan konsumen. Penulis mengalami masa kejayaan Bukalapak dan Tokopedia oleh beberapa sebab, sehingga kali ini ingin memberikan masukan ke Shopee agar tetap bisa menjadi raja marketplace dalam waktu yang cukup lama. Mengapa demikian?? karena kedepan penulis yakin masih terdapat banyak start-up yang lahir atau bahkan marketplace lama akan bangkit kembali.

Shopee dalam akhir-akhir ini memberikan kebijakan yang dinilai oleh penulis bisa menjadi bumerang dan kebijakannya justru memberikan celah untuk marketplace lama bangkit kembali. Pasalnya, kebijakan yang paling baru seperti pembayaran ongkos kirim yang hanya otomatis by cashless tanpa ada celah manual atau ada menu untuk mengubah ke sistem manual menjadikan aplikasi Shopee adalah kurang flexible dan tidak pro kepada para reseller. Shopee dalam hal ini hanya memandang bahwa ekpedisi pilihan buyer harus dituruti dan tidak bisa diganggu gugat, padahal praktek di lapangan tidak seperti itu dan memungkinkan pilihan ekspedisi untuk diubah karena beberapa alasan operasional.

Penulis menanggapi hal tersebut sebagai langkah yang kurang tepat dilakukan Shopee karena sistem dibuat sangat kaku, apalagi reseller dalam hal ini akan banyak lari dari Shopee padahal merekalah yang meramaikan transaksi dan membuat produk yang diperjual-belikan bersaing seimbang antar marketplace. Sebaiknya dalam hal ini, Shopee meniru Bukalapak, dimana sudah menerapkan sistem pembayaran otomatis namun masih menyisakan sistem manual yaitu JNE atau jika pakai ekspedisi otomatis lain dan ingin diubah ke sistem manual masih ada menu untuk menggantinya walaupun terdapat beberapa konsekuensi yang harus ditanggung seller.

BACA JUGA: Shopee Sedang Naik Tahta Akankah Terlena dengan Kebijakan Baru yang Dinilai Kurang Tepat

Saran lain yang diberikan penulis ke Shopee agar bisa bertahan lama sebagai raja marketplace adalah dengan mengevaluasi besaran potongan biaya penjualan. Hal ini sangat dirasakan oleh penulis sebagai seller, walaupun ujung-ujungnya penulis berasumsi uang hasil potongan tadi akan digelontorkan kembali ke pengguna Shopee dalam bentuk diskon + gratis ongkir. Biaya potongan yang bagus dimiliki oleh Tokopedia, dimana dirasakan oleh penulis ketika menjadi seller di platform tersebut.

Dalam hal sistem iklan, Shopee kurang bervariasi teknik yang digunakan misalnya setiap seller hanya dapat 5 jatah push dan bisa digunakan kembali jatah tersebut setelah 4 jam pemakaian. Saran penulis sebaiknya menambah jatah push atau push berbayar dalam nominal yang kecil agar bisa terjangkau. Sistem ikan Shopee tersebut sebenarnya bagus dalam hal pemerataan iklan bagi seller dan tidak ada sistem yang kuat uang yang dominan tampil, namun sebagai seller baru untuk bersaing di papan teratas pencarian sangat sulit sehingga dirasa sistem iklan Shopee kurang bagus di aplikasikan di semua kalangan seller.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Bukalapak dan Tokopedia Siapkah Mengembalikan Kejayaan Masa Lalu

Diposting oleh On Wednesday, September 16, 2020

Artikel kali ini membahas berdasarkan pengalaman penulis menjadi seller di 3 marketplace berbeda dengan membandingkan sistem masing-masing platform dan menyoba menarik benang merah sebagai analisis celah untuk mengembalikan kejayaan tahta marketplace yang sekarang masih diambil oleh Shopee. Mengapa harus mengembalikan kejayaan?? karena artikel sebelumnya sudah dibahas, Shopee telah mengeluarkan kebijakan yang dinilai kurang tepat sehingga Bukalapak dan Tokopedia memiliki celah untuk bangkit menjadi raksasa kembali.

Sistem di Bukalapak yang dinilai masih bisa digunakan untuk bertaring adalah masih pro-nya terhadap reseller walaupun dengan biaya seperti perpindahan resi dari otomatis ke manual. Bukalapak masih berasumsi bahwa reseller adalah salah satu jurus marketing yang menghidupkan transaksi di platform-nya dan memang benar menurut penulis rasakan bahwa ketika ada reseller maka transaksi juga meningkat. Sistem keamanan identitas pembeli yang disembunyikan menambah Bukalapak diatas dari keamanan semua marketplace. Dari segi diskon + gratis ongkir Bukalapak kali ini bisa bersaing dengan Shopee, terlebih fitur menu yang ditawarkan adalah yang the best dari semua marketplace di Indonesia sebagai contoh fitur investasi, keuangan, pembayaran digital, donasi, zakat, travel, hiburan dan masih banyak lagi pastinya tidak terdapat di marketplace lain.

Namun penulis sebagai seller akan memberikan tips agar Bukalapak bisa berjaya kembali yaitu dengan mengevaluasi fitur Promoted Push dan Keyword Push yang dinilai kurang memberikan hasil dibanding pengeluaran seller (banyak boncos-nya dibandingkan pendapatan) dan seperti ajang Bukalapak cari uang lewat operasional program tersebut. Penulis memberikan saran untuk mengefektifkan mesin pencarian gratis (push) seperti Shopee atau jika tetap berbayar maka search engine harus benar-benar diarahkan ke buyer potensial. Bukalapak perlu belajar dai Shopee yang sangat efektif metode iklannya yaitu memotong biaya dari transaksi seller dan seller dapat keuntungan dari iklan yang menempel di produk langsung sehingga subsidi dan program bisa dirasakan langsung oleh buyer dan mereka tertarik untuk membeli.

BACA JUGA: Jangan Diam Tokopedia, Tahtamu Sudah Diambil Lho!!

Sistem di Tokopedia adalah yang the best bagi para reseller karena Tokopedia melihat semuanya sebagai asset yang saling menguntungkan sehingga sistem dibuat mudah. Penulis sebagai seller, merasakan apresiasi Tokopedia adalah yang ter the best seperti penilaian power merchant yang sangat gampang dimana ini sangat diperlukan para seller untuk meningkatkan kepercayaan buyer. Sistem pembayaran ekspedisi yang masih bisa manual dan kemudahan pergantian ekspedisi dinilai adalah langkah tepat dan dari sinilah point mengapa Tokopedia diprediksi akan bangkit kembali. Sistem yang dipertahankan Tokopedia tersebut tidak merugikan sama sekali, bahkan akan menghidupkan terus transaksi.

Penulis sebagai seller akan memberikan tips agar Tokopedia bisa berjaya seperti jaman keemasan yaitu meningkatkan fitur seperti yang dimiliki Bukalapak karena di Tokopedia masih sangat minim, meningkatkan program gratis ongkir + diskon seperti platform Bukalapak dan Shopee karena Tokopedia masih sangat jauh tertinggal dalam hal ini serta memperbaiki sistem iklan atau bahkan meniru Shopee yang terbukti lebih efektif yaitu menempelkan iklan pada produk display dan manfaat bisa langsung dirasakan oleh buyer sehingga secara tidak langsung seller juga diuntungkan dengan minatnya para seller membeli produk.

Kesimpulan penulis adalah Bukalapak dan Tokopedia masih bisa berjaya asalkan benar dalam memilih strategi dalam kelengahan Shopee yang belum sepenuhnya mengakomodir masukan para seller. Penulis sebagai seller dan buyer, ingin semua platform tetap imbang dalam hal pelayanan agar tidak terjadi monopoli sistem dan tetap sehat dalam perdagangan.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Shopee Sedang Naik Tahta Akankah Terlena dengan Kebijakan Baru yang Dinilai Kurang Tepat

Diposting oleh On Thursday, September 10, 2020

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis menjadi seller dan buyer di 3 marketplace yaitu Bukalapak, Tokopedia dan Shopee. Penulis dalam segi ini akan mengkritisi beberapa sistem kebijakan atau aturan di platform mereka, karena sebagai pengguna 3 marketplace berbeda maka user lebih tahu kelebihan dan kelemahan dari masing-masing platform.

Sebagai seller di Shopee, penulis akan mengkritisi kelemahan sistem bukan kelebihan karena yang kelebihan sudah ada di artikel lain. Di Shopee, seller merasakan terdapat potongan biaya yang tinggi dibandingkan platform lain dengan kebijakan pindah ekspedisi yang tidak bisa dilakukan semudah sistem yang dimiliki Bukalapak dan Tokopedia. Perpindahan ekspedisi ini bisa saja terjadi pada sistem jual-beli online dan yang paling diuntungkan adalah reseller karena ketika penjual sedang terkendala dengan ekspedisi pilihan pembeli maka reseller tidak kebingungan untuk update resi yang baru.

BACA JUGA: Big Sale Jual-Beli Online di Kuartal IV Akhir Tahun

Akhir Agustus 2020, Shopee menerapkan sistem all cashless untuk semua transaksi di ekspedisi dan menghapus sistem manual. Reseller yang masih bergantung sistem manual akan sangat berfikir panjang berjualan di Shopee padahal sejatinya reseller-lah yang menghidupkan transaksi di berbagai platform dengan saling lempar barang yang kompetitif. Kali ini penulis akan memprediksi Bukalapak dan Tokopedia akan bangkit kembali dengan sistem yang masih ada pro sedikit terhadap reseller karena dengan adanya reseller transaksi akan menjadi lebih hidup dan fast response tanggapan chat.

Penulis dari segi ini bukan seorang reseller namun mengikuti juga arah perkembangan sistem marketplace karena tidak bisa dipungkiri suatu saat juga akan mengelola produk yang ketika di-stock lama mengalami perputaran modal yang lama sehingga bergantung ke seller besar untuk menjadi reseller. Harapan seller agar Shopee tetap bisa mempertahankan tahta adalah dengan memberikan sedikit celah agar perpindahan resi dari otomatis ke manual masih bisa dilakukan walaupun dengan biaya/pinalti sehingga reseller masih bisa hadir untuk menggairahkan transaksi.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Big Sale Jual-Beli Online Akhir Tahun (Kuartal IV)

Diposting oleh On Tuesday, September 08, 2020

Big Sale adalah penjualan secara besar-besaran dengan diskon + gratis ongkir yang ditanggung oleh marketplace. Big Sale terjadi pada akhir tahun tepatnya dimulai pada Kuartal IV (Mulai September-Desember) dengan peringatan pada angka yang umumnya dibuat unik agar mudah diingat misalnya Big Sale 9.9; 10.10; 11.11 dan puncaknya 12.12 yang disebut HARBOLNAS (Hari Belanja Online Nasional).

Big Sale adalah ajang marketplace bakar-bakar uang sebagai marketing jitu dan pamer keperkasaan modal sehingga masyarakat akan menilai sebuah platform adalah kompetitif, diminati banyak orang dan terlengkap dibandingkan kompetitor. Big Sale atau kalau di penjulan offline sering disebut Cuci Gudang adalah ajang bagi para seller untuk meningkatkan transaksi mereka dan mumpung diskon tidak dibebankan kepada seller.

Big Sale ini sebenarnya bukan hanya di marketplace melainkan di semua lini yang berbasis transaksi sebagai contoh Saham BEI, pada Kuartal IV juga akan melakukan poles portfolio yang dinamakan window dressing sehingga nanti ketika tutup buku akhir tahun terlihat menjanjikan dan mendatangkan investor. Disamping itu, juga ada pada promo penjualan tiket, diskon voucher, paket liburan murah dan lain-lain.

BACA JUGA: Mengapa Platform Digital Bakar-Bakar Uang??

Big Sale akhir tahun jual-beli online bisa digunakan oleh buyer untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari karena memang murni terdapat diskon besar-besaran disini. Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada, Bli-Bli.com dan lain-lain tentunya masing-masing memiliki tampilan dan program sendiri-sendiri untuk menarik minat pelanggan. Buyer silakan melakukan transaksi dan browsing ke semua marketplace untuk membandingkan serta memilih barang + harga yang dinilai kompetitif.

Referensi: 

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkaitwww.caesarvery.com

Barang yang Bisa Dibeli Ketika Travelling

Diposting oleh On Tuesday, May 29, 2018


Ciri khas orang Indonesia bukan travelling namanya kalau tidak membawa oleh-oleh atau membeli barang ciri khas setempat ketika asyik liburan. Tapi sebenarnya tipe traveller seperti apa yang bisa membeli oleh-oleh dalam jumlah yang banyak? Apakah traveller backpacker cenderung tidak bisa membeli oleh-oleh dalam jumlah banyak karena terbentur dengan kapasitas bagasi? Atau hanya traveller berkoper yang bisa membeli oleh-oleh dalam jumlah banyak?
     Makanan
Oleh-oleh yang satu ini memang tidak pernah basi. Kemanapun kamu travelling menggunakan tiket pesawat Lion pasti selalu ada teman atau keluarga yang meminta oleh-oleh makanan setempat. Lalu bagaimana menyiasatinya supaya kamu bisa membeli oleh-oleh makanan yang sesuai dengan kebutuhan kamu tapi juga tidak membuat kamu kehabisan budget untuk hal lain dan kapasitas bagasi kamu tetap aman? Salah satu caranya adalah dengan membeli makanan sample dalam jumlah banyak atau membeli makanan dalam ukuran sebenarnya tapi yang dalam satu kotaknya memiliki banyak varian. 
Gambar 1. Varian Kue Pia Oleh-Oleh (sumber : https://food.idntimes.com)
Jadi kamu tidak akan repot-repot membeli banyak makanan untuk dijadikan oleh-oleh. Tapi ada satu hal yang harus kamu ingat ya jika kamu berencana untuk membeli makanan sebagai oleh-oleh, sebaiknya kamu membeli oleh-oleh makanan di hari terakhir kamu travelling. Mengapa? Karena makanan biasanya memiliki tanggal kadaluarsa, supaya makanan kamu dinikmati dalam jangka waktu yang lama sebaiknya beli di akhir trip aja supaya lebih aman. 
     Souvenir
Jika kamu sudah cek harga tiket pesawat dan langsung beli tiketnya buat trip kamu selanjutnya, oleh-oleh ini bisa banget untuk jadi pilihan kamu. Biasanya oleh-oleh tipe ini cocok buat kamu yang nggak suka ribet ketika travelling. Mengapaa? Karena souvenir cenderung  mudah untuk ditemui di mana saja dan harganya juga relatif murah.
Gambar 2. Macam-Macam Souvenir Khas Destinasi Wisata (sumber : https://www.dreamstime.com)
Lalu hal yang paling penting mengenai souvenir adalah tidak memakan space bagasi yang cukup banyak, jadi kamu tidak usah khawatir kalau sedang travelling menggunakan backpack. Selain itu tipe oleh-oleh ini juga cocok untuk kamu berikan sama orang-orang di kantor kamu karena sifatnya yang cenderung umum.
     Pajangan
Membeli pajangan yang menjadi ciri khas suatu daerah? Barang ini bisa menjadi pilihan tepat bagi kamu yang suka mengoleksi barang-barang antik. Apalagi kalau destinasi travelling kamu merupakan tempat yang eksotis seperti India, Makassar, Papua atau Sumba yang memiliki ciri khas etnik dalam setiap produk oleh-oleh yang di produksi. 
Gambar 3. Cinderamata Pajangan Khas Makassar (sumber : https://www.hasbihtc.com)
Kalau kamu berkunjung ke beberpa tempat ini pastikan kamu juga membeli cindera mata yang menjadi ciri khas mereka ya! Dijamin pajangan ini tidak bakalan bikin bagasi kamu jadi overweight. Pajangan unik dapet, bagasi kamu juga aman! 
     Kartu pos
Anak angkatan 80an-90an yang suka travelling dengan tiket pesawat Lion pasti sering lihat kartu pos bergambar pemandangan yang sering tersedia di kantor pos setempat. Nah, kalau kamu mau mencari oleh-oleh yang murah meriah, memiliki makna tersendiri dan nggak pasaran, kamu bisa loh mempertimbangkan untuk membuat kartu pos ini.
Lalu bagaimana cara membuatnya? Ternyata caranya nggak ribet sama sekali loh! Hal pertama yang harus kamu punya tentu saja kamera, kamera disini terserah kamu ya mau kamera mirrorless ataupun kamera di smartphone kamu. Setelah itu kamu tinggal mencari tempat yang memiliki pemandangan yang eksotik, dijamin hasil foto kamu tidak bakalan jauh beda dengan hasil foto orang lain yang banyak bertebaran di instagram. Kemudian hal apa lagi yang harus kamu lakukan setelah mendapatkan foto yang bagus? Tentu saja ke kantor pos setempat untuk print foto yang sudah kamu ambil.
Gambar 4. Salah Satu Kartu Pos Background Gunung Bromo (sumber : https://omnduut.com)
Oleh-oleh ini merupakan oleh-oleh yang sangat unik kan? Apalagi oleh-oleh ini juga satu-satunya di dunia karena hanya kamu saja yang memiliki gambar tersebut. Ditambah kamu bisa membawa kartu pos dalam jumlah yang sangat banyak karena ukuran dan beratnya yang sangat kecil dan ringan.
Kartu pos ini sangat cocok untuk kamu berikan kepada orang terdekat karena sifatnya yang sangat personal. Kapan lagi kan kamu bisa memberikan hadiah anti-mainstream pada orang terdekat yang tidak menghabiskan banyak biaya? Dijamin pasti kamu bakalan tidak sabar untuk trip kamu selanjutnya dan mengumpulkan kartu pos lebih banyak lagi nantinya. 

Referensi :
[1] Diolah dari berbagai sumber
[2] Pengalaman pribadi traveller backpacker