Trending Topik

Mulai Membangun Aset yang Berbasis Pemanfaatan Digital IT untuk Panen 5-10 Tahun Mendatang

Diposting oleh On Saturday, September 25, 2021

Tahun digital IT ini, mau tidak mau semua akan mengalami dan melakukan transformasi untuk bisa bertahan. Seperti kehadiran HP kala itu, dimana WARTEL dan telepon koin langsung tutup massal. Kasus lain seperti raksasa Nokia dan Blackberry yang diprediksi kala itu tidak akan mungkin jatuh, ternyata tersungkur juga. Sekarang, digitalisasi Industri 4.0 berbasis teknologi internet big data dan 5.0 berbasis artificial intelligence dalam tahap awal ke menengah sedang kita alami bersama.

Celah-celah bisnis pada era digital IT ini sebisa mungkin kita cari terus-menerus dan mulai membangun asset pasif income untuk panen 5-10 tahun mendatang. Menurut penulis terdapat 2 potensi besar bisnis yang bisa dibangun mulai sekarang yaitu: JUALAN ONLINE dan INFLUENCER. Potensi jualan online dirasakan penulis sangat besar peluangnya mengingat hampir semua orang sudah memegang smartphone. Setiap orang sekarang bisa menjual produk di dekat mereka kapanpun hanya cukup foto dan upload. Jualan online bisa dilakukan via facebook, online marketplace (Bukalapak, Tokopedia, Shopee dan Lazada), lewat broadcast Whatsapp dan masih banyak lagi media sosial lainnya. Penulis melakukan pencarian literatur dan menemukan potensi yang besar jualan online seperti sayur segar, obat herbal alami, umbi-umbian, golongan rhizoma, hasil hidroponik dan masih banyak lagi potensi lainnya. Pengemasan yang rapi dengan produk yang bersih, dilakukan seal vacuum kemudian upload disertai kata kunci yang memadai maka akan mendatangkan pembeli satu per satu.

Satu lagi yang tidak kalah adalah influencer, membangun jejaring sebesar mungkin dengan kratifitas membuat daya tarik konten didalamnya sehingga menjadikan setiap orang sekarang bisa memiliki stasiun TV/media masing-masing. Ketika traffic pengunjung besar maka akan banyak pengiklan yang masuk dan pemilik jejaring akan mendapatkan adsense yang lumayan. Influencer bisa dilakukan dimana-mana seperti media sosial (Facebook, Instagram), Youtube, Blogspot dan banyak lagi lainnya. Influencer ini potensi paling menjanjikan dari semua potensi yang ada dengan imbal paling besar namun membutuhkan effort yang paling besar juga selain kreatifitas. Setidaknya untuk pribadi yang masih sibuk dengan pekerjaan utama active income, hal ini bisa dilakukan dengan mulai mencoba walaupun jelek dan lama-kelamaan akan belajar dengan sendirinya bagaimana cara membuat konten yang menarik dan disukai pengunjung.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Mengikuti Arus dan Mudah Beradaptasi adalah Strategi Jitu Dibandingkan Melawan Arus

Diposting oleh On Wednesday, August 25, 2021

Pandemi Covid-19 seolah memaksa manusia secara global untuk melek teknologi dan memahami bahwa kehidupan ini bisa dipermudah dengan adanya teknologi. Ketika dihadapkan kepada era yang baru, kita sebagai manusia apakah akan beradaptasi mengikuti perkembangan jaman (new mind) atau malah melawan arus untuk bersikukuh dengan cara lama (old mind). Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan jaman semakin lama semakin pesat dan pengalaman penulis sendiri dari yang masa kecil belum aspal, listrik belum masuk desa, TV, HP belum ada dan harga bakso semangkok masih Rp2000 di Tahun 90-an. Pendidikan yang diajarkan masih kejar-kejaran rangking tanpa ada polesan softskill sehingga segala upaya dilakukan demi nilai yang tertinggi. Sampai akhirnya, penulis sudah besar merasakan hanya sebagian kecil yang dipakai dan ketika kerja maka softskill yang diperlukan seperti percaya diri tampil di publik, bisa bekerja dengan tim, memahami karakter dan pendidikan orang yang berbeda-beda, perilaku jujur dan tanggung jawab sekecil apapun yang di amanahkan.

Ketika dulu penulis mengalami sejak SD-Kuliah sistem yang dipakai masih cara lama based individual sedangkan semakin kesini yang dipakai adalah based team work. Ketika penulis mencoba melawan arus (old mind) maka jelas tidak berkembanglah dari masa ke masa dan akan berjalan di tempat menjadi pribadi yang introvert ciri khas generasi lama. Sehingga beradaptasi secara cepat adalah strategi bisa mengembangkan kemampuan seiring bertambahnya umur. Penulis sendiri serasa terkejar oleh jaman, dimana seolah apa yang dilakukan hari ini akan terus harus terupdate informasi berita diluar sana siapa tahu jaman sudah berubah dan harus menyiapkan strategi baru yang jitu. Sebagai generasi yang mengharapkan kemandirian finansial, maka harus bisa membaca arah jaman ini dan beradaptasi untuk mencari peluang bisnis yang bisa dijadikan sebagai pasif income.

Penulis melakukan analisa dan sudah mencoba melakukan sendiri ada 2 potensi bisnis yang harusnya mulai dirakit dari sekarang ketimbang nanti kalau semuanya sudah digital maka kita akan telat yaitu: (i) bisnis influencer; (ii) bisnis jual-beli online. Coba kita semua tengok berapa pendapatan para influencer diluar, lebih besar dari gaji orang kantoran atau tidak dan mengapa demikian?? karena kita semua tahu bahwa jaman telah berubah dimana semua informasi sudah ada di genggaman masing-masing. Koran, tabloid, majalah dan TV sudah perlahan ditinggalkan sehingga pengiklan akan beralih ke jasa yang banyak pemakainya yaitu media sosial.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi Penulis pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Hati-hati SHOPEE Bisa Menjadi Penjajah UMKM Lokal Indonesia

Diposting oleh On Sunday, August 15, 2021

Sebaga penjual di beberapa marketplace di Indonesia, penulis merasakan Shopee menerapkan sistem kapitalis dimana %fee penjualan sangat besar dibandingkan marketplace lain. Walaupun didalam perputarannya uang tersebut sebagian kembali ke pembeli dalam bentuk gratis ongkir + cashback besar-besaran. Berbeda dengan marketplace pesaingnya yang murni jualan produk lokal, Shopee ternyata diam-diam memasukkan produk impor dari China dengan harga yang sangat murah dan tidak logis harganya di pasaran lokal. Seperti media ramai membicarakan sampai pemerintah turun tangan yaitu adanya "Mr Hu". Baca detail di: Fenomena Importir Mr Hu di Shopee

Strategi Shopee ini wajib dianalisis dan diwaspadai bagi pemerintah Indonesia karena start up online shop terbesar di dunia yaitu Amazon juga menerapkan strategi yang mirip seperti itu. Shopee secara pelan-pelan melakukan penetrasi monopoli dengan hadirnya ekspedisi sendiri yaitu Shopee Standard Express dan beberapa waktu lalu pilihan ekspedisi ini tidak bisa diganti dan pembeli default wajib hanya memakai pilihan ekspedisi tersebut. Sekarang ekpedisi default jika pembeli tidak mengubah pilihan ekspedisi lain adalah Shopee Standard Express. Disini bisa terlihat mulai menjalankan strategi monopolinya dan wajib diwaspadai oleh semuanya. Baca detail di: Hati-Hati Monopoli Shopee 

Potensi Shopee bisa Menjadi Penjajah UMKM Lokal di Indonesia Sebagai Berikut:

  • %Fee penjual yang sangat besar diterapkan Shopee menyebabkan margin/profit penjual menurun
  • Pilihan ekspedisi yang semakin kesini hanya menerapkan Shopee Standard Express membuat biaya yang dikeluarkan pembeli tidak transparan karena tidak bisa dibandingkan di marketplace lain dan cenderung memaksa untuk monopoli pembentuk harga tunggal
  • Karena margin kecil maka penjual akan menaikkan harganya dan barang-barang impor masuk pelan-pelan dengan harga murah dan membanjiri Shopee sehingga pembeli akan lebih memilih barang impor karena kesemuanya mirip sesuai barang yang dibutuhkan. Jalan untuk memasukkan barang ini salah satunya lewat fenomena "Mr HU" yang fenomenal
  • Praktik secara halus akan dilakukan ketika peraturan impor digenjet pemerintah karena bea cukai yang tinggi maka Shopee akan menawarkan barang kelolaan sendiri dan pengiriman ekspedisi sendiri. Ini sudah terbukti dengan adanya mall online Shopee (barang milik sendiri, packingan bagus logo Shopee dan kurir orange khas Shopee)
  • Ketika mall online Shopee harganya lebih murah dibandingkan marketplace yang diisi pedagang UMKM lokal maka pembeli akan menyerbu mall online
  • Mall online yang dikelola Shopee ini merupakan barang impor dari luar sehingga barang lokal Indonesia tidak berputar dan disinilah penjajahan UMKM dimulai
  • Perbedaan marketplace dan mall online adalah marketplace merupakan pasar dimana terdapat penjual-pembeli langsung (mirip pasar tradisional, banyak pedagang, banyak pembeli) contoh marketplace di Indonesia adalah Bukalapak, Tokopedia, Lazada dan Shopee saat ini. Sedangkan mall online adalah toko/daftar katalog oleh sebuah perusahaan yang diperdagangkan secara online (1 penjual, banyak pembeli) seperti Bli-Bli, Matahari Mall, Alibaba
  • Ketergantungan pembeli terhadap harga murah mall online Shopee dengan pembayaran Shopee pay yang menawarkan banyak diskon membuat banjirnya produk impor kepasaran Indonesia
Merunut ke potensi-potensi penjajahan UMKM lokal di Indonesia maka kita semua sebagai warga Indonesia yang cinta tanah air maka secara aktif mengawal dan menyebarkan potensi-potensi penjajahan ekonomi baru era digital ini ke khalayak ramai sehingga ekonomi di Indonesia bisa bangkit dan berdaulat tanpa dijajah oleh asing. Potensi penjajahan ini bisa meliputi penjualan produk (barang impor), dompet digital (Shopee pay) dan pengiriman (Shopee Standard Express).
Referensi:
[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Bisnis Jasa Diyakini Akan Memberikan Income Lebih Besar Daripada Penjualan Barang di Era Digital IT

Diposting oleh On Thursday, August 05, 2021

Era digital IT ini memberikan dampak besar pada tatanan dunia baru global terlebih pada aktifitas kehidupan manusia. Dengan tidak diperbolehkannya tatap muka dan kontak antar orang maka semua aktifitas pekerjaan manusia dilakukan di rumah masing-masing. Aplikasi video conference langsung booming dan semua orang sudah tahu cara memakainya. Sistem jual-beli offline/fisik banyak yang gulung tikar imbas lockdown yang cukup lama karena pandemi dan marketplace online shop menjadi sangat ramai. Penulis sendiri yang memiliki toko online merasakan omzet yang naik drastis akibat pandemi Covid-19 ini dan banyak melakukan jual-beli menggunakan HP dengan tetap stay at home.

Berdasarkan analisa beberapa kejadian ini, penulis menyimpulkan bisnis jasa akan berkembang pesat dan memberikan income lebih besar daripada penjualan barang. Di era digital IT ini, sektor jasa seperti jasa titip, jasa iklan/influencer/endorse, jasa desain, jasa software, jasa edit, jasa antar/ekspedisi, jasa konsultan, jasa training dan jasa-jasa lainnya diprediksi akan semakin terdepan. Mudahnya melakukan marketing dengan mass target dan mudahnya komunikasi serta review dari beberapa orang membuat bisnis jasa ini diyakini bisa menjadi trend pekerjaan di era digital IT ini. Dengan tanpa modal dan mengandalkan kreatifitas serta biaya operasional yang sangat murah bisa mendapatkan income bersih yang cukup lumayan. Dibandingkan penjualan barang yang harus melakukan stocking dan belum lagi perputaran yang lambat karena menunggu pembeli maka bisnis inventory barang fisik diyakini akan semakin berkurang diminati. 

Generasi sekarang lebih suka minimalis, membeli ketika membutuhkan sesuai keperluan (ringkas, rapi, berkualitas dan cepat). Hal ini akan jauh berbeda dengan jaman dahulu yang suka membeli dalam jumlah banyak dan untuk kebutuhan beberapa bulan. Penulis sendiri yang merupakan pekerja kantoran sudah mulai melihat arah pergerakan bisnis perusahaan dimana sektor jasa mulai dikejar dibandingkan jualan barang secara langsung. Melihat fenomena ini, kita semua harus bisa cepat beradaptasi agar bisa bertahan hidup dengan kondisi yang ada dan tetap mendapatkan pasif income dari beberapa lini bisnis.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Perusahaan Sebaiknya Memakai Asuransi Eksternal (Non-BPJS) atau Swadaya Internal

Diposting oleh On Sunday, July 25, 2021

Pada perusahaan umumnya ada yang menggunakan asuransi kesehatan berupa BPJS saja, ada yang ganda BPJS dan asuransi swasta, ada yang BPJS dan swadaya internal (reimburse) dengan maksimum plafon. BPJS disini ada terus di semua perusahaan karena pemerintah mewajibkan dan berdasarkan pengalaman penulis sendiri di kantor hampir tidak ada yang memakai karena sistemnya yang masih amburadul dan terus defisit kemudian lagi-lagi korban untuk menalangi malah anggota yang rutin membayar dengan kenaikan premi yang terus meningkat dan pelayanan yang sangat-sangat buruk. Baca detail pengalaman penulis untuk BPJS kesehatan di: Pengalaman Asuransi BPJS Kesehatan

Banyak perusahaan yang dahulu menerapkan swadaya internal beralih ke asuransi eksternal (non-BPJS) dengan beberapa pertimbangan seperti lebih hemat pengeluaran tahunan, potensi kecurangan data fiktif bisa terminimalisir, biaya coverage yang cukup besar dan masih banyak lagi lainnya. Pengalaman penulis sendiri ketika menggunakan kesehatan sistem swadaya internal sering menggunakan plafon untuk cek kesehatan gigi, minta asupan vitamin ketika tidak enak badan dan imunisasi anak. Hal ini berarti lebih cenderung ke preventif (pencegahan) daripada kuratif (pengobatan).

Pengalaman penulis ketika melakukan vaksinasi anak ke dokter spesialis anak, beliau bercerita sudah puluhan tahun dulu bekerja di PT Freeport dan perusahaan tersebut sebenarnya juga ingin mengubah dari swadaya internal ke asuransi eksternal (non-BPJS), namun karena Serikat Pekerja (SP) tidak setuju maka tetap diberlakukan sistem swadaya internal. Dokter tersebut mengatakan bahwa di kesehatan yang terpenting adalah preventif daripada kuratif, dimana asuransi hanya berguna ketika sakit (kuratif) dan untuk preventif pasti tidak bisa digunakan.

Berdasarkan hal tersebut, penulis memandang perkataan dokter ada benarnya juga, dimana untuk perusahaan yang mengganggap SDM sebagai asset jangka panjang maka kesehatan karyawan akan dijaga dengan sistem preventif dan jika dibuat asuransi eksternal seolah-olah karyawan dibiarkan terhadap preventif kesehatannya dan hanya diobatkan ketika terjadi resiko sakit. Pandangan perusahaan terhadap hal ini wajib dikritisi terhadap Serikat Pekerja (SP) karena didalam bisnis perusahaan merupakan win-win solution antara semuanya pemilik saham-karyawan, sehingga kalau hanya mengejar untung tanpa memberikan jaminan masa depan karyawan maka bersiaplah untuk kemunduran loyalitas SDM.

Referensi:

[1] Penglaman Pribadi pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Hubungan Vaksin Covid-19 dengan Kebangkitan Ekonomi

Diposting oleh On Thursday, July 15, 2021

Covid-19 merupakan isu yang sangat gencar di dunia Tahun 2019-2020, banyak berita yang mengkaitkan ini dengan konspirasi mulai saling tuduh siapa yang salah antara perang dagang AS-China, isu menjatuhkan Presiden Donald Trump karena nasionalisme-nya dan membuat el*te gl*bal geram dan juga senjata biologis el*te gl*ba untuk mengendalikan populasi dunia untuk dibentuk tatanan dunia baru terutama dalam hal ekonomi.

Satu demi satu cukup terbukti, mulai dari China yang menuduh AS menyebar virus di Wuhan lewat intelijen militer-nya dan AS menuduh China mengembangkan senjata biologi yang bocor di laboratorium Wuhan, lengsernya Donald Trump karena kebijakannya yang keluar dari WHO dan mengesampingkan The Fed dan el*te gl*bal lewat kaki tangannya di WHO menyerukan untuk lockdown semua negara sehingga ekonomi global lumpuh dan mewajibkan vaksin agar segera terlepas dari resesi dengan hutang-hutang ke bank dunia.

Vaksin digenjarkan sebagai obat jalan keluar dari krisis pandemi Covid-19 dan semua negara harus tunduk pada penggunaan vaksin sehingga harus berhutang trilyunan untuk bisa mendapatkannya. Lagi-lagi bisnis farmasi menjadi tumpuan untuk penyelesaian dan ini memang bisnis yang menggiurkan terlebih salah satu bisnis para el*te gl*bal adalah industri farmasi. Covid-19 memang ada namun tingkat keparahan tidak seheboh yang ada di berita, dimana setiap yang meninggal banyak yang di-judge terkena Covid-19. Banyak cerita dari teman penulis, yang memang di Covid kan ketika rawat inap di rumah sakit, entah ini menjadi ladang bisnis agar anggaran negara masuk ke RS tersebut apa bukan kita hanya bisa menebak-nebak. Alasan lain, di Covid-kan karena ketika bayar sendiri cukup mahal dan jika di-Covidkan maka dapat subsidi dan free.

Seluruh masyarakat dunia diwajibkan vaksin untuk membangkitkan ekonomi, inilah slogan yang terus digaungkan ke media. Vaksin bukan obat, melainkan memasukkan virus yang telah dilemahkan kedalam tubuh manusia agar antibodi bisa mempelajari cara melawannya tanpa harus kalah. Jadi vaksin seperti manual book pada tubuh manusia yang memberikan alur arahan antibodi untuk melawan virus. Vaksin terdapat beberapa fase klinis yang harus dijalankan untuk mendeteksi tingkat keefektifan dan efek samping. Sehingga membutuhkan waktu cukup lama dan jika tidak maka perlu dikhawatirkan efek samping jangka panjangnya. 

Sebagai warga yang kritis, sebaiknya menimang dan memikirkan apa dampak dari vaksin walaupun sebenarnya untuk kebangkitan ekonomi. Diri kita yang memiliki dan jika berisiko tetap menjadi tanggung jawab diri sendiri sehingga aset berharga pemberian Alloh SWT harus tetap kita jaga (ikhtiar). Setelah dinyatakan dari pendahulu yang telah vaksin OK dan tidak berdampak apa-apa maka melakukan pada diri kita silakan. Dan kita semua tetap berdoa agar ekonomi global bisa bangkit seperti sedia kala

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi Penulis pada Tema Terkait. www.caesarvery.com

Mengapa Perusahaan Asuransi Banyak Mendapatkan Review Negatif dari Nasabah

Diposting oleh On Monday, July 05, 2021

Asuransi adalah salah satu instrument keuangan yang didasarkan pada based resiko bukan investasi/oriented profit. Dalam artian, asuransi adalah mengalihkan resiko ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya asuransi jiwa (jika sakit, cacat, tidak bisa bekerja atau meninggal), asuransi properti (jika terkena bencana alam, kebakaran), asuransi mobil (jika kecelakan, hilang), asuransi kesehatan (jik sakit) dan masih banyak lagi lainnya. Penulis sendiri juga menggunakan asuransi jiwa untuk berjaga-jaga ketika sebagai kepala keluarga tidak bisa lagi memenuhi kewajibannya nanti pada anak dan istri. Asuransi yang dipakai penulis jelas didasarkan pada based resiko, sedangkan investasi penulis ke reksadana pendapatan tetap dan saham langsung BEI.

Akhir-akhir ini, banyak berita di media yang kecewa terhadap kinerja asuransi seperti Prudential, Axxa mandiri, AIA BCA, Manulife, BNI life dan lain-lain. Ini lebih disebabkan oleh oknum sales agent yang banyak mengumbar janji-janji didepan, karena memang mereka dapat bonus ketika menggaet member/nasabah. Jadi targetnya adalah dapat member gak peduli nanti di belakang bermasalah, toh mereka kerja dibayar ketika memiliki performa dan dipecat ketika sudah pasif. Penulis sendiri juga debat panjang lebar terhadap sales agent asuransi dan karena penulis adalah pelaku investasi di beberapa instrument keuangan maka paham yang dijelaskan sales agent tersebut. Awalnya memang janji manis fluktuatif return yang pasti diatas 6% bahkan sampai 20% dan jika dianalisa maka ini kan sudah jauh diatas inflasi dan bunga deposito, sedangkan ketika sampai 20% sudah setara saham dan diatas return reksadana. Menggiurkan bukan, ketika per bulan penulis ambil premi Rp300.000 dan setahun Rp3.600.000 maka 10 tahun tepat anak sudah beranjak SD dan SMP berapa kira-kira yang didapatkan Rp36.000.000+6% = Rp38.160.000 dan jika return 20% maka Rp43.200.000. Mengiurkan bukan ilustrasi tersebut, belum lagi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan misalnya meninggal dunia dapat santunan Rp25.000.000.-Rp50.000.000 untuk anak dan istri yang ditinggal.

Ilustrasi-ilustrasi semacam itulah yang diberikan oleh sales agent untuk menggaet nasabah dan kamipun tidak bodoh maka bertanyalah diputar di instrument apakah asuransi ini dan mereka menjawab ke saham dan obligasi. Kami bertanya lagi saham seperti apa dan apakah ada laporannya. Dan memang asuransi yang dipakai penulis setiap semester memberikan laporan kinerja investasi dan benar dibawa ke 5 saham bluechip dan obligasi. Orang awam yang tahunya adalah janji-janji manis return maka ketika premi habis pasti mengharapkan seperti penawaran awal dan betapa kaget ketika kinerja keuangan asuransi ternayata sangat buruk, tidak melaporkan perputaran investasi ke instrument apa dan biaya potongan ketika diambil sebesar berapa yang dahulu sales agent menutupinya.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa, harus ada pembenahan di sistem asuransi dalam perekrutan nasabah, terlebih sales agent harus jujur memberikan ilustrasi tentang beda asuransi dan investasi serta sales agent harus terbuka terhadap kinerja keuangan dibawa ke mana dan pelaporan periodik seperti apa. Nasabah berhak tahu instrument keuangan yang dimasuki pihak asuransi dan berhak mendapatkan laporan berkala. Sales agent sebaiknya adalah karyawan tetap asuransi bukan kerja kontrak sehingga target mereka adalah jangka panjang terkait kepuasan pelanggan bukan hanya pencari nasabah demi bonus gajian bulanan saja. Jangan salahkan nasabah ketika menilai kinerja asuransi buruk dan penipu karena secara janji memang benar telah ditipu namun ketika dibuka artian secara harfiah maka return yang diinginkan nasabah jelas salah ketika menginginkan pasti untung karena tergantung baik-buruknya kinerja asuransi dalam memutar dana kelolaan mereka.

Referensi:

[1] Pengalaman Pribadi Penulis pada Tema Terkait. www.caesarvery.com